Wednesday, July 12, 2017

Pelajaran Jurnalis Pertama

Tidak ada hal di dunia ini yang diciptakan untuk disia-siakan, segala sesuatu berarti, menjadi suatu hikmah pembelajaran bagi seseorang, atau bahkan orang lainnya; entah untuk belajar dari masa yang lalu, untuk apa yang akan dihadapi hari ini, atau sesuatu yang datang sesaat lagi di kemudian hari.

Ciaaa...

Dibuka dengan kutipan yang endeuusss ala ala gitu ya, padahal aku gak berpikir tulisannya akan seafiat apa, wkwk.

So, aku memutuskan untuk mengalihkan serial #journalistinsidescientitsoutside di instagram, menjadi benar-benar tayang di blog ini. Tadinya ingin kuceritakan alasannya kenapa, tapi ya sudahlah nggak penting, hehe.

Serial ini sebenarnya bercerita soal langkah pencapaian tulisanku di berbagai kolom yang jadi tugas mingguan di belia Pikiran Rakyat, sisipan koran suplemen remaja yang terbit tiap hari Selasa. Tapi mungkin untuk tulisan di blog, bakal sekalian diiringi behind the scene proses terjadinya dengan satu yang jadi interest point. Semoga nggak ada yang protes *siapa juga yang akan*, dan ya... terimakasih sebelumnya sudah ada keinginan membaca ini :)

Sumber: unsplash

Selasa, 11 Juli 2017, di proyeksi satu minggu sebelumnya aku dapat cukup banyak tugas, kalau nggak salah ada sekitar 6 kolom yang jadi bagianku. Tapi, singkat cerita, beberapa di antaranya cuma jadi partner ngeliput dan ada satu tulisan yang baru akan naik cetak di edisi kemarin. Ya kalau dihitung, bersihnya aku cuma nulis 3 bagian, termasuk salah satunya adalah laporan utama.

Ini, untuk laput a.k.a laporan utama sebenarnya jadi tantangan tersendiri buatku. Di satu sisi, ada rasa senang yang luar biasa karena dipercaya untuk berkontribusi di bagian utamanya. Tapi nggak heran, hal itu juga diiringi dengan tingkat kesulitan relatif dalam mengisi ceritanya.

| Menjadi Jurnalis Memang Tidak Mudah

Ternyata menjadi seorang jurnalis memang nggak semudah itu, bahkan meskipun 'hanya' menulis untuk koran remaja--yang dekat dengan keseharianku--tapi nggak gampang juga kalau sudah harus mencari bahan yang berkenaan dengan narasumber tertentu.

Ada cerita lucu yang sejauh ini cukup berkesan, soal mendapatkan narasumber yang mau diwawancara memang gampang-gampang susah sih. Kadang harus nanya orang-orang terdekat dulu apakah dia punya kenalan yang cocok dengan kriteria yang diinginkan dan sekaligus minta kontaknya. Kalau nggak, biasanya sesekali aku pos di story instagram meski dikit banget yang merespons, tapi ya untungnya partner reporter banyak membantu dalam hal ini.

Greget sih, apalagi kalau udah menjelang deadline untuk dikumpulkan ke editor, ketar-ketir banget kalau sampai wawancara belum dapet dan belum termasuk mengalihkannya ke dalam bahasa tulisan artikel. Makanya tiap malam Minggu dan Minggu malam, aku termasuk yang punya kegiatan sibuk untuk kejar setoran, hehe *tidak ada RIP malam minggu tuh*.

| Pelajaran Baru dari Narasumber

Walaupun begitu, ada kepuasan tersendiri sehabis mewawancarai narasumber, terutama bapak-ibu yang udah ngerasain asam garam kehidupan, kadang aku suka manfaatin momen untuk tanya-tanya sesuatu yang di luar tema dikit sih, hehe. Seneng karena bisa dapat ilmu dan nasehat dari sudut pandangan dan kaca mata orang yang berbeda-beda.

Pernah, suatu waktu aku mewawancarai pengamat pendidikan agama dari universitas sebelah. Sebenarnya, jawaban yang diharapkan dari pertanyaanku sih sederhana saja, karena toh pas dimasukkan ke dalam artikel laporan utama nantinya, nggak akan begitu panjang lebar karena narasumbernya juga beragam. Eh tapi, panjang banget balesannya, tapi bukannya kesel atau gimana, aku malah banyak dapat insight baru yang jadi pencerdasan banget. Alhamdulillah ya...

Dari sini aku sadar, chat di-read aja sama narasumber tuh ternyata jauh lebih bikin sedih daripada sama gebetan *ya beda cerita sih, wkwk*. Tapi kalau udah tiba waktunya untuk wawancara, biasanya aku nyiapin otakku biar setengah kosong untuk menampung pembelajaran baru dari orang yang diwawancarai itu.

Nggak cuma itu, aku juga jadi belajar untuk lebih sabar menghadapi keunikan dari tiap narasumber yang sejauh ini kutemui. Ya kalau dipikir-pikir, ini bakal berguna juga nggak sih buat latihan mendapatkan data dan informasi untuk bahan skripsi nanti *lho, kejauhan*.

Last but not least, aku senang berada di posisi ini, kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri di luar apa yang kupelajari di kampusku bisa ngebentuk kemampuan diriku dalam hal yang lain, yang kupercayai ini tentunya bakal sangat bermanfaat juga. Well, belajar itu bisa dari mana, dari apa, dan dari siapa saja kan?

fin,

Acipa

12 comments:

  1. Meski tidak mudah banyak yang memimpikan jadi jurnalis. Hikzzz termasuk aku.

    Tapi pertanyaan juga dalam batinku kenapa (kemudian) banyak dr teman temanku yg sudah jd jurnalis eeeh malaah resign.. Dalam hatiku sayang sekali..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada banyak hal yang kemudian ditemui realitanya ketika benar-benar turun langsung jadi jurnalis--atau pekerjaan apapun itu, dan mungkin itu di luar ekspektasi yang diharapkan :D

      Delete
  2. deadline itu bikin dag dig dug der yaa.tapi seruu.deadline itu bikin hidup jadi lebih hidup. hahahaha

    ReplyDelete
  3. tapi enak ay banayk ketemu orang banyak yg menambah wawasan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu Mbak! Apalagi kalau tema wawancaranya (sebenarnya) gak dikuasai, malah jadi pinter habis wawancara :D

      Delete
  4. serunya yang lagi belajar jadi jurnalis.
    sukses ya :)

    ReplyDelete
  5. Dulu aku sempet punya cita2 jd wartawan. Alasannya krn aku suka nulis. Tapi yg namanya wartawan kan hrs aktif cari narasumber, interview orang, hubungin mereka, dan dari situ aku mundur :D. Mungkin krn aku memang rada ga PD dan penakut kLo udh berhubungan ama orang lain :D.. Akhirnya menulisnya sih tetep, tp jd jurnalisnya batal mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah, jadi wartawan memang idealnya menulis untuk media tertentu, tapi blogger juga udah bisa masuk hitungan lah ya, meski nulisnya buat media blog sendiri hehe :D

      Delete
  6. Hai syifaaa, salam kenal. aku juga tertarik nih didunia jurnalis, makanya gabung di LPM. klo kmu udh kerja ya sbgai jurnalis? keren. Aku follow in ig kmu ya, jngn lupa follback hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Kak Muthi, salam kenal juga ^^ Di kampus kebetulan aku gak ikut Persma aka Pers Mahasiswa karena lebih tertariknya untuk gabung di Radio Kampus ITB, karena selain belajar broadcasting, tetep bisa jadi reporter juga dan lebih seru karena kerjaannya gak mengkritisi kebijakan kampus wkwkwk XD

      Lebih tepatnya magang buat ngisi waktu liburan juga sih, hehe...

      Delete

Thanks for read my post. Leave a comment, please ♥