Saturday, September 9, 2017

KULIP-KULIP

Tiga bulan kemarin, aku kerja jadi reporter magang di belia Pikiran Rakyat, sisipan koran remaja yang dimuat tiap hari Selasa. Buat kalian yang tau, belum tau, atau mungkin ada pertanyaan seputar kenapa aku bisa magang, gimana daftarnya, benefit yang didapat, atau cuma kepo aja soal keseruannya, here we go...!

Jadi, aku memutuskan untuk bikin series #journalistinsidescientistoutside, lucu-lucuan aja sih karena pengalaman selama liburan ini nggak bisa kalau nggak aku ceritakan hehe. Belum ditaro di blog karena... instagram dulu aja gak papa deh ya xD _ Kebetulan, aku baru aja diterima jadi reporter magang Belia Pikiran Rakyat. Rasanya seneng sih, pake banget, karena dari sejak SMP emang udah baca sisipan koran remaja tiap hari Selasa ini. Alasannya apa ya, mungkin karena waktu SMP-SMA sekolahku gak pernah kebagian diliput, tapi pas aku lulus, sekolahku cukup seringlah mejeng disana, minusnya gak ada aku hahaha. Namaku emang sempet muncul juga, dulu di kolom Suara Hati Pelajar yang sekarang rubriknya udah nggak ada. Terus pernah satu tulisan juga tuh dimuat, meski dari semua itu honornya nggak pernah diambil, karena belum dibolehin berangkat Cililin - Bandung kalau sendirian (dulu aturannya belum bisa transfer bank) wkwk. _ Dan, untuk yang pertama ini, agak telat posting karena ceritanya mau dipost tiap Selasa, tapi gak papa deh ya, seneng juga karena bener-bener dilibatin banyak dalam proses penggarapan kontennya. Aku aja takjub pas 6 Juni kemarin, emailku muncul disana (itu penanda siapa yang nulis rubrik tsb), perdana karena akhirnya muncul lagi di koran yeay! Dan iya, cewek kerudung merah yang ada di laporan utama itu diriku *meski tampak samping, haha. _ Oh iya, untuk kemarin aku baru nulis buat Laporan Utama dan Aksi, Alhamdulillah buat minggu depan udah dikasih kepercayaan buat nulis sekitar 5 rubrik. Magang disini buat ngisi libur sih, nggak berasa gawe karena orang-orangnya teh welcome banget, gak canggung kayak udah berasa kenal semuanya, meski reporter lama yang dulu kutau sejak SMP-SMA udah nggak di Belia lagi. _ Abis ini, mulai pedekatein anak SMP-SMA karena butuh sama mereka buat diwawancara. Merapat yuk dedek-dedekku 😚
A post shared by Asy-syifaa Hs || Acipa (@asysyifaahs) on

Lalu kenapa aku memilih menjadi seorang jurnalis?

Nggak bisa dipungkiri, ada dua alasan utama aku (nyoba-nyoba) ngisi waktu liburanku kemarin dengan magang reporter. Pastinya buat yang udah baca cerita ini, paham juga alasannya kenapa. Iya, aku menulis karena dua hal: untuk kesenangan dan uang. Well, aku nggak bisa menutup-nutupi poin yang keduanya sih, frontal mungkin ya apalagi buat seorang kreator apapun itu, kalau udah ngomongin duit gampang banget dicap materialistisnya.

Tapi aku nggak bohong, buatku ketika aku menyenangi sesuatu yang dari awal prosesnya sampai jadi hasilnya bikin aku senang, ada kepuasan yang nggak bisa diungkapkan, bahkan tanpa aku dibayar sekalipun! Aku bakalan semangat ngerjainnya meski mungkin aku tau apa yang aku lakukan (bisa jadi) ngerusak schedule atau malah buang-buang waktu karena realitanya nggak sesuai ekspektasi.

Nggak papa kok, selama aku menyenanginya, orangtuaku setuju-setuju aja :D

Monday, September 4, 2017

R E F L E K S I

Tujuh belas tahun aku menghabiskan waktuku, seingatku belum pernah ada hadiah yang benar-benar aku persembahkan untuk diri sendiri. Kalaupun ada, sifatnya disposable, sekali habis. Atau mungkin pernah, tapi tak seberkesan itu, karena aku mudah melupakannya, hehe.

Kali ini, aku memilih menceritakan tentang diriku dari yang aku tahu sendiri. Kalau teman-teman punya cerita lain, kolom komentar boleh diisi kok :)


Nama lengkapku Asy-syifaa Halimatusa'diah. Itu yang tertera di ijazah SMA terakhir, kalau ada pengejaannya yang berbeda, atau susunannya tidak seperti itu, intinya masih orang yang sama kok.

Nama Asy-syifaa berarti Penyembuh. Dulu, aku sering mengartikannya sebagai obat, tapi berkat suatu tulisan yang pernah kubaca, "obat belum tentu menyembuhkan". Makanya aku meneguhkan diri bahwa nama Asy-syifaa berarti penyembuh, di samping karena aku nggak suka obat, rasanya pahit! -__-

Halimatusa'diah adalah nama ibu angkat yang menyusui Nabi Muhammad sewaktu kecil. Nama tersebut berarti lemah lembut, santun, berkasih sayang, berarti juga orang baik.

Seingatku, Mamah sering bercerita asal-usul pemberian nama yang sempat berganti-ganti. Aku lupa apa saja nama itu, tapi yang kutahu, aku bangga dengan namaku yang sekarang. Ada doa yang sangat luar biasa yang kedua orangtuaku harapkan, menjadi orang baik dan penyembuh bagi orang banyak, termasuk diriku sendiri.

Friday, August 25, 2017

Sepenggal Kisah dari Mentor OSKM ITB 2017

Setahun yang lalu, 20 Agustus 2016, aku masih ingat hari itu adalah hari terakhir penyelenggaraan INTEGRASI ITB 2016. Euforia menikmati selesainya ajang kaderisasi awal terpusat untuk mahasiswa baru ITB saat itu bisa dibilang cukup meriah meski rasanya masih kurang greget alias "kurang merinding" saat digaungkannya Salam Ganesha di kawasan Saraga, Sabtu sore. Tapi nggak papa, hal itu nggak menyurutkan semangatku untuk ikut andil jadi mentor KAT ITB tahun berikutnya. Dan... voila! harapanku Allah kabulkan kembali. Alhamdulillah...