Wednesday, July 12, 2017

Pelajaran Jurnalis Pertama

Tidak ada hal di dunia ini yang diciptakan untuk disia-siakan, segala sesuatu berarti, menjadi suatu hikmah pembelajaran bagi seseorang, atau bahkan orang lainnya; entah untuk belajar dari masa yang lalu, untuk apa yang akan dihadapi hari ini, atau sesuatu yang datang sesaat lagi di kemudian hari.

Ciaaa...

Dibuka dengan kutipan yang endeuusss ala ala gitu ya, padahal aku gak berpikir tulisannya akan seafiat apa, wkwk.

So, aku memutuskan untuk mengalihkan serial #journalistinsidescientitsoutside di instagram, menjadi benar-benar tayang di blog ini. Tadinya ingin kuceritakan alasannya kenapa, tapi ya sudahlah nggak penting, hehe.

Serial ini sebenarnya bercerita soal langkah pencapaian tulisanku di berbagai kolom yang jadi tugas mingguan di belia Pikiran Rakyat, sisipan koran suplemen remaja yang terbit tiap hari Selasa. Tapi mungkin untuk tulisan di blog, bakal sekalian diiringi behind the scene proses terjadinya dengan satu yang jadi interest point. Semoga nggak ada yang protes *siapa juga yang akan*, dan ya... terimakasih sebelumnya sudah ada keinginan membaca ini :)

Sumber: unsplash

Friday, July 7, 2017

Kenapa Nggak Dot Com Lagi?

Dari hampir sebulan - dua bulan yang lalu, Qwords udah mewanti-wanti kalau di tanggal 6 Juli 2017, domain asysyifaahs.com bakal expired. Aku sendiri udah mikir dari lama sih, kapan domain pribadi ini bakal habis waktunya. Lama-kelamaan berasa keenakan juga, eh tau tau udah mau udahan, nggak kaget sih karena sering banget dapet reminder dari jasa penyedia hosting dan domain itu wkwk.

Sumber: pixabay

Dari sejak itu, aku mulai berpikir juga apakah aku bakal ngelanjutin setahun berlangganan atau nggak. Dulu sih, kenapa pengen punya dot com karena promonya lagi menarik, kalau nggak salah harganya sekitar IDR 50k gitu, bahkan makin kesini promo domain dot com bisa seharga 35ribuan aja. Sayangnya, harga segitu gak menetap, harga promo cuma berlaku di satu tahun pertama langganan, sisanya ya harga normal. Qwords sendiri ngasih tau tagihan yang harus kubayar adalah Rp135.000,- belum termasuk pajak dan pengurangan credit yang kupunya di akunku sendiri.

Wednesday, June 21, 2017

Dan Bandung bagiku...

"Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." - Pidi Baiq

Dan Bandung bagiku adalah rumah, kemanapun kaki ini melangkah, Bandung lah tempatku kembali pulang.

Aku terlahir di sebuah desa yang dulunya disebut Bandung juga, kabupaten Bandung, yang lalu membelah diri menjadi kabupaten baru, Bandung Barat.


Pernah ada pertanyaan, apa bedanya Bandung tempat kelahiranku dan Bandung yang orang-orang kenal kebanyakan.

Sejujurnya, kami berbeda.


Yang diwalikotai oleh Bapak Ridwan Kamil, adalah KOTA BANDUNG.
Yang dibupatii oleh Bapak Dadang M. Naser, adalah KABUPATEN BANDUNG.

Dan yang dibupatii oleh Bapak Abubakar, adalah KABUPATEN BANDUNG BARAT.

Tapi dimanapun Bandungnya, hatiku tetaplah di tempat ini berada.


Bandung saat aku kecil, adalah tempat yang paling mengasyikkan untuk menghabiskan waktu dengan bermain hingga petang menjelang, sampai panggilan adzan menjadi pertanda aku harus kembali pulang.

Bandung saat aku remaja, adalah tempat yang menyenangkan untuk memupuk diri dengan segala potensi, menonjolkan diri di antara banyak pribadi, meski ada berbagai hal sedikit mengecewakan harus kuhadapi.

Bandung saat aku kini, adalah tempat yang cukup bagiku menjadi rumah, yang segala perasaan tertumpah-ruah, yang segala cerita pengobat hati, penawar rindu, dan penghilang sendu… tercukupi disini.


Aku mencintai pagiku di Bandung, yang sesekali terlambat karena nyala alarm seringkali tak berfungsi, dinginnya air yang sudah kutoleransi dengan berbagai derajat celciusnya bahkan mungkin angka yang menyentuh minus, hingga persiapan remeh-temeh yang kulakukan ketika jauh dari orang tua di rumah.

Aku mencintai kampusku di Bandung, yang jaraknya masih bisa terukur puluhan meter, dengan jalan bak kura-kura atau lari layaknya Bolt masih bisa ditempuh kurang dari 10 menit, serta segala cerita di dalamnya kan kutulis di lain kesempatan.


Aku mencintai perjalananku di Bandung, ke setiap sudut manapun itu, berbekal transportasi kekinian yang tak pernah membuatku pusing harus lewat mana jalan dan arahnya, yang kejadian-kejadiannya selalu tak terduga.

Aku mencintai jenis-jenis lampu di Bandung, yang sekali kena lampu merah maka harus selalu siap menemui lampu merah-lampu merah lain di perhentian berikutnya; keki dan jengkel bisa jadi, apalagi kalau harus terburu-buru saat pergi. Serta tak lupa, kerlip lampu jalanannya di malam hari, yang jarang kutemui saat di Bandungku dulu, ada pemandangan luar biasa yang bisa kunikmati, sembari menunggu lampu merah kan berganti lagi.


Aku mencintai Bandung dengan segala keragaman di dalamnya, barangkali jarang bagiku bertemu dengan orang-orang yang tak biasa kutemui sebelumnya, apakah memang Bandung cukup diisi dengan orang-orang ramah? Aku harap begitu.

Aku mencintai Bandung dengan semua sejarah yang dilaluinya, satu per satu belum pernah kujajaki, tapi mungkin dengan sekadar lewat di hadapannya sudah membuatku yakin, apakah memang Bandung begitu magis dengan daya tarik masa lalunya? Semua orang setuju.

Aku mencintai Bandung dengan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan dari kota lain. Jakarta adalah kota yang hebat, Jogja adalah kota yang ngangenin, Banjarmasin adalah kota yang kaya, dan semua kota-kota lainnya yang begitu luar biasa; dan Bandung punya semuanya.

Dan Bandung bagiku adalah awal, dimana aku memulai cerita; perasaan senang, sedih, tawa, tangis, suka, duka, ceria, haru, cinta, dan benci.

Dan Bandung bagiku adalah akhir, yang senantiasa kuharapkan menjadi tempat segala tujuan yang membuatku selalu mensyukurinya.


fin,

Acipa