Sunday, September 20, 2015

Pre-Meet Up Hari Anti Korupsi Internasional #HAKI2015BDG

Hari Minggu yang lalu, 13 September tepatnya aku berkesempatan mengikuti Pre-Meet Up Hari Anti Korupsi Internasional di Balai Kota Bandung. Ini adalah pertemuan perdana kami sebagai volunteer dalam kegiatan HAKI 2015.

HAKI itu apa sih?
HAKI atau Hari Anti Korupsi Internasional adalah ajang peringatan anti korupsi internasional yang serentak dilaksanakan di berbagai negara-negara dunia. Pelaksanaannya diselenggarakan tanggal 9 Desember setiap tahunnya. Nah, tahun ini, Indonesia melalui Kota Bandung berkesempatan ikut serta dalam memperingati salah satu hari internasional ini.


Di HAKI, kita nggak akan menyuarakan kalau koruptor dihukum dengan sanksi bla bla bla. Karena sebagai volunteer, kami tidak memiliki hak untuk menghakimi orang-orang yang sudah banyak merugikan negara tersebut. Toh, sudah ada bagian tersendiri yang mengawasi, menyelidiki, dan menindaklanjuti tindak pidana tersebut, apalagi kalau bukan KPK—Komisi Pemberantasan Korupsi.

Wednesday, July 1, 2015

ON HIATUS: National Exam!

Jadi setelah dipikirkan berulang-ulang, akhirnya aku mengambil keputusan yang satu ini. Hanya ingin memberitahukan kalau dalam beberapa waktu blog ini akan hiatus. Bukan, bukan berhenti untuk selamanya tapi mengambil waktu untuk fokus dalam kegiatan yang lebih diprioritaskan.

Seperti yang teman-teman tahu--atau mungkin nggak mau tahu--semester depan adalah semester kelima aku berada di SMA. Itu berarti selangkah lebih dekat dengan kelulusan, err... sebelum itu ada UN pastinya. Aku harus menghadapi berbagai kegiatan menuju Ujian Nasional, ada pemantapan yang bahkan sudah dimulai dari bulan Juli (awal masuk), Try Out, dan serentet ujian-ujian lainnya.

Meski disayangkan, aku rasa aku harus mengambil tindakan ini supaya bisa berkonsentrasi lebih baik dan lebih cepat menyelesaikan semuanya, as better as faster. Dari kemarin mulai terpikir kalau aku harus sudah menyiapkan semuanya sedini mungkin, kita selalu mengira waktu yang lama itu ternyata cepat berlalu, kan? Dan itu benar terjadi. Aku nggak mau hal yang sama terulang saat aku menunda-nunda persiapan saat UAS, dan jreng... jreng... hasil UAS kemarin rada mengecewakan untuk kedua orangtuaku. Apa sih salahnya ranking dua?

Mungkin di sesekali waktu ada cerita yang ingin kutulis di blog, tapi aku nggak janji sih. Sesekali waktu juga aku akan tetap blogwalking ke beberapa blog teman-teman, kalau memang hal itu sempat. 

Aku nggak bisa memperkirakan sampai kapan keadaan hiatus ini berjalan, entah sampai UN selesai, atau sampai aku benar-benar diterima di suatu PTN di Indonesia--ITB ya amin..., hehe ^^v

Doakan saja semoga semua kegiatanku di tahun terakhir SMA ini lancar dan mendapat hasil yang terbaik. Terimakasih juga untuk teman-teman yang sudah sempat mampir atau bahkan tersesat di blog ini. So... wish me luck on my National Exam! Much love to you all :)

by.asysyifaahs♥

Monday, June 22, 2015

Guest Posting: Ramadhan ala Amalia

Halo, Amalia! Dia adalah temanku waktu kelas 8 SMP, santri yang dulu bilangnya nggak betah sekarang mah udah ngerasa nggak mau pulang ke rumah di Cipasung, yang hari ini bakal cerita sedikit sama kita soal kehidupan bulan Ramadhan-nya di pesantren. 


Ini Amalia, EXO-L juga :D

Hai teman-teman, aku Amalia, seneng bisa nulis di blog ini *padahal mah yang nulis si Asyifa!*. Oke, mungkin bagi kalian yang belum pernah denger tentang pesantren, pasti beranggapan santri itu agamis banget, beda lah kehidupannya sama orang-orang biasa yang tinggal di luar sana. Padahal nggak kok, kita juga manusia kekekekek~

Apa sih enaknya tinggal pesantren, padahal bulan Ramadhan ini baiknya kumpul sama keluarga di rumah ya kan? Tapi buat kita nggak, kita harus stay di pesantren. Penasaran gimana kehidupan kita para santri di pesantren pada saat bulan Ramadhan ini ? Oke kita mulai.

Nah, kalo setiap bulan Ramadhan ini kegiatan pengajian di pesantren itu semakin padat atau biasa disebut dengan istilah pasaran. Maksudnya padat gimana? Kegiatan pengajian kita itu jadi lebih ditambah, kalo di pesantren aku sendiri sih waktunya 2 kali, dari mulai ba'da Dzuhur hingga sekitar pukul 04.30 dan ba'da shalat Terawih (sekitar jam 8 lewat) hingga pukul 11. Lama kan ? Yahhh namanya juga pasaran. *yaah, namanya juga anak santri—edisi voiceover*

Sunday, June 21, 2015

Ramadhan 1001: Taraweeh Super Quick

Kemarin baru dapat rapot, dan Alhamdulillah naik ke kelas 12. Azek, jadi senior SMA euy... Dan dapat pengumuman kalau kali ini dapat libur sebulan. SubhanAllah banget karena rasanya baru pertama kali setelah sekian lama paling banter libur tiga minggu. Yah, yang sekarang mah disyukuri aja ya, besoknya kan udah harus ngadepin kesibukan UN. Wuuu... doakan ya, semoga sisa hidup di SMA ini lancar jaya makmur sentosa *ini kok kayak iklan propaganda?*

Oke, masih di Ramadhan 1001, kemarin aku nggak ngepost karena... ada alasan lah ya. Dipikir-pikir, kita juga butuh jeda, makanya aku mulai bikin jam tayang baru di Ramadhan 1001 ini, dimulai dari jam publish-nya sampai harinya juga, sekarang mah punya aturan, aturan suka-suka aku :p 

Mau ngomongin apa hari ini? Aku bingung, kamu bingung, kita semua bingung. Abisnya lagi nyari partner-in-crime nih, siapa tau kamu-kamu ada yang mau menawarkan diri untuk jadi guest blogger disini. Kalau aku yang nawarin, takut ditolak, sakit sering ditolak mulu sih *eeaa curhat!


Hal yang sederhana aja ya, masih berhubungan juga sama post dua hari sebelumnya, tarawih. Tarawih kali ini beda versi. Kalau kemarin tentang tarawih banyakan, sekarang tentang... baca aja dulu yuk!

Saturday, June 20, 2015

Hari Bagi Rapot

Hari ini hari bagi rapot, hari di saat orang-orang lagi nyari mamah sewaan, papah sewaan, sampai rapot sewaan pun ada. Yah, aku barengan Mamah bawa rapot ke sekolah sih, mungkin sekarang lagi dibagi rapot di kelas, tapi aku nggak kesana karena lagi di perpus. Niatnya sih nggak akan pergi ke sekolah karena--bisa jadi belum legowo--atau saking udah tau hasilnya bakal kayak gimana. Hehehe ^^v

Di perpus lagi ngobrol sama Dinar, curhat dia gitu yang lagi dekat sama satu guru muda di sekolah. Kadang kalau dipikir-pikir, kita nggak akan pernah tahu apa yang terjadi besok hari. Siapa tahu cerita Dinar ini malah bakal jadi kenangan karena mereka beneran jodoh, siapa tahu kan? Sekolah punya keajaibannya tersendiri.

Ini hari terakhir jadi anak kelas 11. Sumpah, nggak kerasa, kemarin rasanya masih jadi anak ingusan yang daftar ke SMA. Ikut MOPD sampai tragedi pingsan pun ada. Padahal kayak baru kenal teman-teman di kelas X MIIA 4, tau-tau naik ke kelas XI MIIA 3. Besok apa kabarnya? Santer terdengar kelas bakal dipisah lagi, dan aku nerima-nerima aja selagi masih sama mereka.

Dua tahun di SMA, belum banyak cerita yang sejarah banget. Kata orang, kalau belum pacaran pas SMA nggak sah. Dan aku nggak tau kalau itu bener apa nggak. Aku belum ngerasain yang namanya Sweet Seventeen, karena toh itu bakal terjadi setelah aku jadi mahasiswa di suatu perguruan tinggi apalah.

Friday, June 19, 2015

Ramadhan 1001: Tarawih

Puasa sudah memasuki hari kedua, waaah... H-28 menuju Lebaran nih. Oke, itu masih lama sih yah, jadi nggak usah ditungguin karena waktu emang suka nggak kerasa berlalunya. Kadang emang PHP juga, siapa tau pas lebaran hilal belum kelihatan, makanya dimundurkan jadi seminggu. Eh kebanyakan ya!

Dua hari puasa berarti udah dua kali juga tarawih. Alhamdulillah hari perdana ini aku nggak halangan, gimana teman-teman? Ada yang malah sedih karena nggak bisa tarawih pertama? Padahal awal-awal puasa biasanya tarawih selalu rame lho. Iya nggak sih?


Setuju atau nggak, di tempat manapun hari pertama tarawih selalu lebih seru dibanding tarawih-tarawih selanjutnya. Nah makanya, kenapa ya kalau tarawih pertama shafnya selalu banyak bahkan satu masjid pun seringnya nggak muat malah ada yang sampai ke pelataran luarnya? Ini bisa jadi hari pertama puasa, hari pertama shalat berjama'ah lagi bareng warga sekampung setelah sekian lama, hari dimana orang-orang pamer, atau bahkan hari dimana anak-anak muda ikhtiar buat nyari pacar karena katanya Ramadhan selalu barokah. Bukan aku lho ini...!

Thursday, June 18, 2015

Ramadhan 1001: Papajar

Ini hari pertama puasa di bulan Ramadhan, sudah bikin persiapan apa dari kemarin-kemarin? Persiapan hati, jiwa, itu udah pasti harus sudah dibersihkan ya, dan jangan lupa juga persiapan sembako sebelum harga makin naik, nanti nggak ada jatah buat beli baju baru *padahal Lebaran jaraknya masih sebulan, Cip!*

Dari sebelum Ramadhan, udah pasti sering ada acara-acara khusus menjelang bulan suci satu ini. Ada banyak macam ya, bisa jadi kumpul-kumpul sambil makan-makan biar puasanya kuat dan tahan lama. Nambah-nambahin berat badan biar pas puasa lumayan ngurusan, padahal mah nggak. Ya banyak lah cara untuk menikmati hari sebelum Ramadhan tiba, salah satunya acara yang disebut Papajar.


Papajar berasal dari kata mapag fajar, kata dalam bahasa Sunda yang mengartikan menjemput fajar pertama menuju bulan Ramadhan. Padahal awal perhitungan hari dalam Islam dimulai dari Maghrib, tapi ya nggak mungkin juga aku ganti istilahnya jadi Pamagrib, jadi rada awkward didengernya :P

Welcome, Ramadhan 1001!

Bismillahirrahmanirrahim...

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Telah datang kepadamu bulan Ramadhan. Bulan nan penuh berkah. Allah mewajibkan atas kamu berpuasa di bulan ini. Pada bulan ini pintu-pintu surga di buka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan di belenggu. Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barang siapa tidak mendapatkan kebaikan di bulan ini, niscaya tidak ada kebaikan baginya. (HR: Ahmad 8631).

Credit by Indonesian Youth 

Halo, halo... Apa kabar semua? Alhamdulillah sudah memasuki bulan Ramadhan, semoga bulan ini bisa menjadi berkah dan ladang yang baik untuk mendapatkan pahala dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya ya. Agak lama dari post terakhir aku nggak ngeblog, iri dengan Tipluk yang bahkan dalam masa UAS pun masih ada waktu untuk menulis.

By the way, berbicara soal Ramadhan, aku jadi teringat Ramadhan tahun lalu yang bisa dibilang Ramadhan tersedih. Kenapa? Mungkin, bagi beberapa pembaca blog ini pasti tahu kalau Ramadhan tahun lalu aku terserang penyakit tifus. Sedih karena menjalankannya tidak dengan baik karena harus istirahat total hampir tiga minggu. Memang sih, sakit itu menggugurkan dosa, tapi ternyata kalau sakit pas puasa itu nggak enak. Bukan masalah sehat yang mahal dan sakit pasti lebih mahal--bayar infusan dan obat-obatnya bok'--tapi rasanya nggak seru karena nggak melakukan hal-hal yang biasanya khas Ramadhan dan... jeng jeng, puasa qodho-nya itu lho. Aku hampir menggenapkannya sebulan termasuk masa halangannya. Waduh!

Saturday, May 16, 2015

Life Hack: Alarm Clock

Pernah kesiangan karena telat bangun nggak? Pasti dongkol kan ya, kalau kita terlambat bangun padahal di jam sekian sudah punya janji tertentu. Alhasil, karena telat bangun itulah yang bikin acara hari ini jadi berantakan.

Tapi, yang namanya teknologi pasti makin berkembang. Kita nggak perlu susah-susah lagi bangun karena di handphone sudah tersedia fitur Alarm. Dengan alarm, kita diberikan peringatan untuk segera bangun dan nggak terus ketiduran. Mungkin, penyedia fitur alarm saat itu juga termasuk tipe orang yang sering telat bangun, haha. 

Pic from here

Sunday, March 8, 2015

Menjawab #1Day1Dream: Kak Ades

Jadi nih, malam Minggu yang kesekian kalinya kemarin aku masih nganggur (errr, sebenarnya nggak juga sih), jadi ya udah mau kembali menulis untuk Menjawab #1Day1Dream aja deh. Salah satu faktor kenapa aku mau punya sekuel ini adalah karena orang yang akan aku balas ceritanya ini, sekaligus yang kemarin aku dapat hadiah darinya. Ditambah, karena orang ini juga aku jadi tahu blogger terkenal macam Andra Alodita, Chacha Thaib, Elle dan Jess Yamada, dsb.

Ya udah sih ya, nggak usah dirahasiain juga siapa orangnya karena pasti udah tahu dari judul blog post ini. Yap, aku mau menjawab cerita dari Kak Ades pemilik Another Diary. Nama lengkapnya sih Arifinda Desiana Putri, lebih sering dipanggil Desi. Cuma, ya suka-suka aku lah ya mau manggil dia apa *dilindes pala berbi*

...to be honest, aku gak mikir kalo nilai mencerminkan pribadi orangnya. SMA aku emang bisa dibilang lumayan sih, tapiiii kalo mau liat isinya duh hahaha. Apalagi anak-anaknya yang langganan guru BK-lah, langganan bikin guru-guru sabarlah, khususnya anak lakinya sih. Kalau nilai mencerminkan pribadi, harusnya nilai mereka jelek dong? Tapi enggak, hampir semua anak yang bikin guru-guru ngelus dada dapet nilai bagus, dapet universitas bagus. Kenapa gitu? Karena walaupun kasarnya yah, kita bandel di kelas, tapi kita juga belajar serius.

Kenapa tanggapan Kak Ades beda dengan ekspektasiku—membayangkan bahwa mungkin orang-orang setuju terhadap pernyataan “nilai mencermikan pribadi orangnya”? Mungkin sudut pandang kami berbeda, jadi aku nggak bisa mengelak kenapa Kak Ades punya pendapat lain. Aku bisa saja setuju kalau nggak semua nilai mencerminkan pribadi orangnya, oke, garis bawahi ya... nggak semua, makanya waktu itu aku hanya ambil beberapa orang yang dekat dengan circle-ku aja, hoho.

Source here

Saturday, February 28, 2015

#4MAZINGKK Kancut Keblenger

Nggak ada yang tahu status ‘ngasal’ Irvina Lioni Yuniasari di jam 16.55 tanggal 28 Februari 2011 yang lalu bakal punya banyak pengaruh di segala sisi. Awal yang hanya sekadar ‘iseng’, malah membuat semuanya jadi benar-benar berbeda dengan sekarang. Coba tanya sama Kak Irvina dan para komentator yang ada waktu itu, pastinya mereka tahu apa perbedaan yang paling kontras antara masa lalu dan saat ini.


Nggak ada yang tahu yang awalnya grup canda-candaan berisi 25 orang blogger pemula yang doyan curhat (dan saling bully) kini diisi dengan lk 2500 orang Indonesia di berbagai titik dunia yang sama-sama KREATIF.

Nggak ada yang tahu, awal yang dibuat nggak sengaja, iseng, dan agak ngasal itu kini punya dampak yang luar biasa dan benar-benar hebat. Nggak ada yang tahu Kancut Keblenger akan seperti sekarang ini... selain Tuhan yang sudah Mengaturnya.

SELAMAT ULANG TAHUN YANG KEEMPAT
KANCUT KEBLENGER

From @MASEandDEDEK

Tulis harapan kamu buat Kancut Keblenger di kolom komentar bawah, yuk! Komentar yang masuk akan aku tulis disini. Komentar yang sudah ada, aku ambil dari mention para Kawancut yang di-retweet @KancutKeblenger :)

1 Kita akan nerusin cita-cita untuk kerenin blogger negeri (Kancut Keblenger)
2 Selalu dan makin yang terbaik buat Kancut Keblenger (@asysyifaahs)
3 Semoga anggota yang menyebalkannya berkurang dan segera punah (@irvinalioni)
4 Semoga makin kerencuttt! (@primaditarahma)
5 Tambah ketje aja deh buat semua anggotanye ye.. (@lalankpattrya)
6 Moga membernya makin sukses dan makin keren menyeluruh negeri (@oalahtok)
7 Makin eksis plis, membernya juga makin tjakep-tjakep dongg *loh* (@DINDSKIII)
8 Semoga kawancut makin kreatif!! (@fannyfsaufina)
9 Tetap eksis untuk menyebarkan virus ngeblog (@ReyFahlepi)
10 Moga semakin besar untuk menampung para blogger keren di Nusantara ini Tetap kece ya! (@rzarzs)
11 Keep creative and awesome! Terimakasih ilmu ilmunya usefull banget, panjang umur ya (@Firdausaah)
12 Semoga makin kerencuttt! (@BeeMarta)
13 Semoga semakin kece. Makin solid. Blogger-nya pada rajin nulis dan bisa nerbitin novel. Aaamiin (@yoggaas)
14 Sukses terus ya hiwhiw, yg terbaik deh yaa buat kawancut dll (@muhirazzz)
15 Sukses terus! (@febrinuzi)
16 Semoga makin jaya dan makin keren. Semoga kancut2 kita terbang setinggi bintang. (@armanzg)
17 Semoga makin akrab antar membernya :)) (@ilhambachtial)
18 Smoga makin jaya,makin solid,makin kreatif (@ntarnana)
19 Makin jaya terusssss (@dillasntso)
20 Semoga makin kece dan cetar membahana, we love you :* (@MASEandDEDEK)
21 Semoga tambah solid (@_gegew)
22 Semoga Kancut Keblenger makin maju kualitasnya dan tetep solid ^O^ sekaligus punya banyak manfaat untuk orang di luar komunitas juga ^^ (@HildaIkka)
23
24
25
dst

↓↓↓↓↓

Jangan lupa tulis harapan kamu di komentar bawah ya!

by.asysyifaahs♥

Thursday, February 26, 2015

Menjawab #1Day1Dream: Primadita as a Project Manager

”This girl is so special for me. She’s cute, energetic, and have a lot of achievements. At top of that, she is a very dedicated girl towards her passion and activities. Her name is Syifa.”

Terimakasih untuk kalimat pembuka yang mengesankan ini ya, Kak Prima. Semoga pembaca blog A Blessed Life nggak salah paham apakah aku ber-kong-kalikong dengan Kak Prima atau nggak, yang pasti aku sendiri kaget dikatai demikian.


Menjawab #1Day1Dream pertama ini dibuka dari blog post milik project manager kita. Bukan karena post-nya menyanjung diriku, tapi aku pikir awal yang baik akan selalu memberi akhir yang baik juga kan? Jadi, mari mulai label sekuel #1Day1Dream ini dengan yang baik-baik.

Senang bisa menjadi salah satu orang yang dikenal Kak Prima dan masuk di blognya. Walaupun belum pernah sama sekali bertemu secara langsung, aku selalu merasa she’s one of the great woman that I’ve know. Dari caranya bercerita di berbagai media (twitter, blog, facebook, dll), itu nunjukkin cermin dirinya in a real life. Setuju? *acungkan kepala*

People are not interested in personal affairs of others, unless it’s something sensational. Jadi, daripada menceritakan awal mula kisah sejarah peradaban dunia aku kenal Kak Prima—yang nggak ada sensasinya sama sekali—mari lewati bagian tersebut.

Yang aku suka adalah saat Kak Prima bilang, “Syifa mengingatkan akan saya waktu SMP”. Waah..., berarti masa-masa sekolah Kak Prima itu bisa dibilang menakjubkan juga. Bedanya, aku yang sekarang seringkali inaktif dalam beberapa kegiatan. Bukan karena malas *eh itu salah satu faktor, yang kesekian sih*, tapi aku selalu diingatkan akan prioritas. Salah satu orang yang aku percaya sebagai motivator bilang, kita harus punya prioritas, setidaknya TIGA PRIORITAS dalam menjalani segala hal, khususnya dalam bidang pendidikan. Apakah itu? Watch it, please ^^



Makanya, kalau dibilang aku aktif di sekolah, itu nggak sepenuhnya benar! Syifa hanyalah seorang pelajar kelas 2 SMA yang mencoba menjalani masa sekolah seperti teman kebanyakkan, lulus SMA, NEM gede, diterima di universitas yang diinginkan, dan hal-hal umum nan monoton demikian. Etapi, bener lho, memangnya siapa yang nggak mau kayak gitu? Tapi aku percaya, kita juga perlu mengembangkan softskills kita kan? Nah, sayangnya aku belum melakukan hal tersebut semaksimal mungkin. Semangatin aku ya!

Berteman dengan Syifa memberikan energi baru di kehidupan saya, cieh. But it’s true. Melihatnya begitu bersemangat mengejar impiannya, mengingatkan saya bahwa saya juga punya impian. Yang sedikit terlupakan karena tertutup beban hidup #halah”

Dear Kak Prima,
Terimakasih untuk ini. Kalau memang aku bisa memberi energi positif, Alhamdulillah. Aku juga selalu belajar banyak dari Kak Prima, semoga walau terbentang jarak nun jauh di sana, nggak menghalangi kita untuk saling belajar dan mencari ridho-Nya ya. Apapun mimpi kita, selama itu baik menurut Dia, tetap semangat untuk kita. Keep on fighting till the end 9^_^9

by.asysyifaahs♥

Saturday, January 31, 2015

Ma

Kepada pemilik rahim yang mengandungku,

Selamat pagi, aku disini sedang menulis surat untukmu. 10 km dari tempat yang kita sebut rumah dan di sela waktu istirahat sekolah, aku disini sedang menulis surat untukmu. Maaf tanpa dirimu tahu, aku sedikit moodie menghadapi pelajaran hari ini. Bukan karena apa, hanya saja pembelajaran ini tak begitu kupahami betul. Maukah dirimu jadi guru sepanjang hidupku?

15 tahun kita bersama, tanpa pernah sekalipun terpisah jauh dan terpisah lama. Bosankah aku? Mungkin. Tapi, bosankah dirimu? Pasti tidak! Aku ingat betul bagaimana dirimu memperlakukanku selama ini, dan baru kupahami sekarang, aku sadar bagaimana cara khasmu menghadapi sifat dan watakku selama ini.

Saat aku bertanya, “Kenapa harus nama Asy-syifaa?”. Kadang dirimu berdiam sejenak, mungkin berpikir atau entah apa, menyusun kalimat per kalimat seperti apa yang harus kau ucapkan ketika menjawab pertanyaan kecilku. Aku tak sabar, lalu pergi meninggalkanmu.

Namun, saat pertanyaan itu baru saja kuajukan beberapa hari yang lalu, kau dengan mantap menjawab,

“Asy-syifaa itu artinya obat…,”

Namun belum selesai dirimu jawab, aku menyela potongan pembicaraanmu.

“Aku nggak suka obat, pahit!”

“Asy-syifaa juga berarti penenang hati…,”

“Berarti aku obat penenang gitu?”

“Asy-syifaa itu artinya obat penenang hati, doa kami hanya ingin kamu jadi anak yang bisa menenangkan hati banyak orang. Mungkin tidak dengan cara yang kebanyakkan orang lakukan, tapi kami tahu kamu punya cara sendiri. Kami juga berharap kamu sebagai obat penyembuh dari setiap luka, apa pun itu.”

“Lha, aku nggak minat jadi Dokter kok!”

“Walaupun seringkali kamu membuat jengkel kami, tapi kami bahagia, kamu tetap yang terbaik bagi kami.” Katamu tepat, tepat sasaran mengenai hatiku, namun setelahnya kau malah bergelak tawa dengan orang ini.

Aku pun ikut tertawa, di balik kenyataan bahwa sampai saat ini aku sedang berpikir setiap kalimat demi kalimatmu dalam menjawab pertanyaanku. Benarkah sampai dirimu berpikir demikian?

Orang yang kupanggil dengan sebutan Mamah,

Aku tak begitu tahu harus menyusun seperti apa surat ini. Kalau aku menulis bagaimana cerita kita, aku tak yakin kau bisa senang, karena itupun sama saja melihat ke belakang dan mungkin kau masih ingat. Percuma kah?

Surat ini akan pendek kurasa, karena tanpa diminta pun dirimu tak pernah suka aku melakukan hal-hal seperti ini. Kau terlalu khawatir kelak aku bisa dan seperti apa nantinya. Maka Ma, doakan dan restui aku melakukan apapun selagi aku sanggup dan bermanfaat untukku. Jangan pernah khawatir, karena kini gadis kecilmu yang dulu dipapah, telah tumbuh menjadi gadis remaja yang semoga tahu dan siap menghadapi dunianya.

Ia mungkin belum dewasa, apalagi mempunyai pemikiran sebrilian dirimu. Belum, belum saatnya. Tapi sungguh, ia telah siap bahkan umurnya yang masih sangat belia ini. Mamah tak perlu khawatir, namun… ia hanya meminta tolong ketika suatu saat kelak ia terjatuh, tersungkur, tersandung, hingga menangis, angkat dia, usap air matanya, beri ia semangat, dan doakan semoga kelak ia bisa berdiri lebih hebat dan lebih kuat lagi. Mungkin ia akan takut berjalan sendiri, maka tak apa bila nanti kau menemaninya.

Untuk sembilan bulan ketika Tuhan memberi ruh,

Aku mungkin bukan anak yang bisa kau banggakan, pada saudara-saudaramu, pada keluargamu, pada orang-orang, dan pada dunia. Aku tidak seperti itu, tapi kalau boleh, bolehkah kebanggaan ini bisa menjadi milikmu? Aku tak meminta kau memberitahukannya pada dunia, itu tak perlu. Karena cukup bagiku, kau menangis bahagia jika kelak semua yang telah kau lakukan tak pernah sia-sia, InsyaAllah.

Ma, bolehkah aku menyudahinya? Kalau kau mau, aku bisa setiap hari menulis surat-surat seperti ini. Tapi, bila itu harus ditunjukkan pada orang-orang, aku belum siap.

Ma, terimakasih.

Love.

by.asysyifaahs♥

#1Day1Dream The Last One, The Big One, The Dream One!

Sebelum hari dan bulan berganti, izinkan aku menulis kembali apa yang telah kulakukan sebulan ini. Mungkin tak seberapa, mengingat aku seringkali “bolos” dan membayarnya keesokan harinya. Jadi, maaf kalau di hari terakhir pun aku masih saja seperti itu, keadaan yang memaksa demikian.

Aku lupa mimpi-mimpi apa saja yang telah kutulis dan kuceritakan pada kalian. Kalau tidak salah, ada lima Kawancut yang menulis kembali cerita mimpiku. Terimakasih, aku janji setelah #1Day1Dream selesai, akan ada kelanjutan dari cerita yang kalian tulis. Tunggu ya!

Sekali lagi, di tengah sibuknya kegiatan di sekolah yang masih berlangsung hingga aku mengetik tulisan ini, aku bimbang menentukan mimpi mana yang benar-benar ingin aku wujudkan.

Sumber disini

Aku tak pernah tahu apa sebenarnya mimpi besarku karena dari sudut pandangku, mimpiku tidak sebesar harapanku untuk mewujudkannya. Aku masih terlalu takut—kalau boleh jujur—cemas menghadapi dunia yang mau tidak mau harus dan pasti kujalani di kemudian hari.

Aku masih khawatir kalau-kalau mimpi-mimpi itu tidak terwujud, aku takut kedua orangtuaku kecewa, aku takut pada keberanian dari teman-temanku, dan aku takut akan pendapat orang-orang yang mungkin saja mencibirku suatu hari nanti. AKU MASIH TERLALU TAKUT!

Iya, aku tidak seperti aku yang kalian baca dari tiap tulisan-tulisanku, aku tidak seperti aku yang kalian dengar dari tiap kicauanku di berbagai media. Aku tak seperti itu, aku… aku masih belum bisa.

Ini sedikit berlebihan, tapi mengertikah kalian rasanya takut dan was-was pada hal-hal yang bahkan tak patut dicemaskan? Itu menyengsarakan, sungguh. Kadangkala aku berkeinginan kuat untuk keluar dari kurungan rasa takutku sendiri, tapi aku belum sanggup.

Maka, jika ditanya apa mimpi besarku yang ingin sekali diwujudkan dalam setiap hal dan waktu kapan pun, aku bersedia menjawab bahwa aku tak ingin punya rasa takut lagi pada mimpi-mimpiku. Aku nggak mau takut lagi, aku nggak mau hanya karena aku takut lantas aku nggak bisa mencapai hal-hal yang kuimpikan, aku nggak mau hanya karena aku takut hingga aku membiarkan dan mengabaikan mimpi-mimpiku sendiri, aku nggak mau takut lagi           

Perasaan seperti ini lumrah bagi manusia, dan itu merupakan kodratnya. Bahwa setiap manusia pasti selalu punya rasa takut, terlebih takut pada Tuhan-Nya, Tuhan Yang Maha Besar. Kita, manusia, memang harus takut pada-Nya, agar kita tahu bahwa keberanian kita tak pernah sekalipun melampaui rasa takut kita pada Tuhan. Percayalah, saat kita merasa takut pada Tuhan, saat itulah kita yakin bahwa kita manusia yang berakal. Tahu sampai mana harus menggunakan kekuatan untuk mengalahkan ketakutan kita sendiri.

Maka, saat menulis mimpi ini (aku menulisnya di dalam kelas perkemahan, di mana para peserta sedang menjalankan kegiatan lain; perlu diketahui bahwa aku sendirian di sini), aku ingin tak lagi merasa takut. Pada mimpi-mimpiku terutama.



Aku tak ingin aku merasa takut untuk memimpikannya, mengusahakannya, meraihnya, mencapainya, hingga mewujudkannya. Mimpiku tak seberapa, lalu mengapa aku harus takut kalau mimpi-mimpiku saja kecil? Impian yang kecil saja kadangkala membuatku takut, bagaimana dengan impian-impian besarku ya? Akankah aku merasa lebih dan sangat takut?

Jadi, tolong dan kumohon, ketika suatu saat si penulis cerita ini merasa takut terhadap mimpinya sendiri, jewer saja dia. Katakan padanya bahwa dia pernah berjanji pada kalian bahwa dirinya tak akan pernah takut mencapai mimpi-mimpinya, mimpi kecil maupun mimpi besarnya. Katakan juga padanya bahwa ia pernah berkata dengan pasti bahwa ia harus melawan ketakutannya sendiri, sebesar apa pun itu—kecuali rasa takut pada Tuhan ya.

Kalau ia berkhianat, sesekali kalian boleh menyindirnya, baik dengan cara halus atau kasar sekalipun. Mungkin, dalam beberapa waktu ia perlu diberi pelajaran, agar tahu bahwa dirinya perlu ditempa sedemikian rupa supaya ia lebih kuat lagi.


Ketakutan itu pasti ada, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin menghilangkannya. Target pencapaiannya memang tidak jelas, kapan tercapai, kapan terwujud, dan kapan impian itu sudah selesai dilaksanakan memang masih belum kupikirkan. Tidak ada rentang atau target waktu sekalipun yang ingin kupasang demi memenuhi impian semacam ini. Tapi percayalah padaku, bahwa aku mampu mencapainya.

Untuk kalian juga, selamat mencapai mimpi-mimpi kalian—tak perduli seberapa besar kecilnya mimpi itu, tetaplah bermimpi dan capai hingga terwujud. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, saat bermimpi kalian harus bertanggung jawab terhadap mimpi-mimpi kalian. Kalau tidak bisa bertanggung jawab, maka jangan pernah berani untuk bermimpi. Doakan untukku juga ya ^_^


…dari kelas perkemahan, akhir Januari setelah projek bersama ini selesai, aku juga ingin bermimpi dan terus bermimpi.


by.asysyifaahs♥

Friday, January 30, 2015

#1Day1Dream Primadita Rahma Ekida

Waktu berjalan dan sudah sekitar satu tahun ini aku mengenal orang tersebut. 2 Januari tepatnya, hari kedua sebuah blogger project pertama yang aku ikuti selama ngeblog sejak 2012 membuat perkenalan kami terasa mendadak. Nggak ada yang tahu kalau dengan perkenalan tidak sengaja itu malah membuatku jadi makin ingin mengenalnya, kalau boleh.

Siapa yang nggak tahu Primadita Rahma Ekida? Oke, banyak sebenarnya prestasi yang sudah dia raih, dan saat ini dia jadi project manager untuk #1Day1Dream. Tidak, kali ini aku nggak bakal banyak bercerita tentangnya, tapi kalau aku kebablasan, bukan salahku ya :D

Kalau diceritakan semua hal yang sudah umum, pasti sudah banyak yang tahu. Jadi, aku ingin mencoba menceritakan mimpi ala Kak Prima dari sudut pandangku. Terkesan subjektif, tapi ya suka-suka aku dong, kan yang nulis aku

Jika ditanya apa mimpi besar Kak Prima, tahukah kamu? Kalau kamu tahu, berarti kamu benar-benar mengenalnya. Sayangnya, sebuah pertanyaan bagus seperti itu, malah mendapat jawaban “Aku gak tau. Hahahahaha.” Is kidding me? Bukan, bukan merasa nggak puas terhadap jawaban tersebut, apalagi sampai marah, hanya saja… mungkin Kak Prima punya banyak mimpi, dan hampir semuanya berupa mimpi besar yang ia miliki. Mimpinya besar, itu yang aku suka!

Namun, di balik seseorang yang hebat tentu selalu ada tantangan yang lebih hebat pula. Di satu sisi, Kak Prima selalu merasa waktu 24/7 terlalu sayang jika hanya digunakan untuk sebagian hal saja. Namun di sisi lain, Kak Prima juga bisa ingin fokus dan memberikan kemampuan terbaiknya dalam satu dan segala hal. Bukankah kita juga sering mengalami hal demikian?

She want to gain more, achieve more, and get more. Itu nggak salah, dia berusaha fokus pada satu hal, misalnya di bulan Januari ini berusaha fokus pada #1Day1Dream, namun di waktu yang sama pula dia juga harus mengurusi hal-hal penting lainnya yang pasti lebih baik untuk masa depannya sendiri.
Menurutmu, siapa sih muse inspiratif dari sosok inspiratif Kak Prima ini? Kebayang nggak sih, orang seinspiratif Kak Prima punya role model tersendiri? Ibaratnya, aku yang dapat inspirasi dari Kak Prima aja berada di hierarki terbawah orang-orang inspiratif itu. Hehe…

Oki Setiana Dewi, Kak Prima menyebutnya she breath, talk, do dakwah, with an easy and fun way. Ya, salah satu impian terbesarnya dia ingin bisa seperti Kak Oki, sosok ustadzah-muslimah yang benar-benar inspiratif juga menurutku. Berbeda dengan Kak Oki, Kak Prima tentu punya cara tersendiri untuk melakukan “an easy and fun way to do” seperti itu, yakni salah satunya dengan blog. Dakwah bisa saja menyasar ke kalangan umum—Kawancut misalnya—karena sebenarnya itu juga berupa value dalam dakwah.

Blog adalah media yang paling menonjol di mana ia bisa banyak berbagi cerita di sana. Blog itu mudah diakses, gratis pula. Itu yang dikatakannya, dan benar… perkembangan zaman sudah berjalan cepat, dan orang-orang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kecanggihan teknologi. Dan Kak Prima, memanfaatkan hal tersebut sebaik mungkin, sebaik yang ia bisa menebar kebaikan pada banyak orang.

Aku kagum sama Kak Prima, benar-benar kagum. Kalau boleh pun, ingin menjadikan Kak Prima sebagai role model, memang nggak semua hal yang ia lakukan pasti aku lakukan, setidaknya beberapa yang pernah ia lakukan juga bakal aku lakukan. Tidak hanya cantik, tapi juga benar-benar menakjubkan, she’s a wonderful woman in everything, actually.

Sumber Facebook Primadita

Terimakasih sudah menebar kebaikan sampai sejauh ini walau Kak Prima bahkan belum mengenal banyak tentangku dan orang lain yang mendapat kebaikan itu. Terimakasih sudah banyak memberi inspirasi dan motivasi besar dalam hidupku dan orang-orang lain. Terimakasih sudah menjadi seperti Kak Prima yang sekarang, aku mungkin nggak bisa membalasnya karena… #daakumahapaatuh mana mungkin bisa membalas inspirasi dari Kak Prima? Hehe…

“Syifa buat aku anak yang bersemangat, berdedikasi, passionate. Udah mulai kelihatan kesukaannya apa. Yang fokus ya Sayang, biar segera kelihatan keberhasilannya”. Dan terimakasih untuk ini, kalau bersedia… jadikan aku adik yang bisa dibagi cerita Kak Prima padanya dan bisa aku curhati cerita-ceritaku dan bagaimana harus menghadapinya. Semoga perkenalan kita nggak cukup sampai di sini, semoga makin banyak momen-momen yang bisa kita lewati dan aku bisa mengambil hikmah di dalamnya. Thanks a bunch, Sister ^_^

by.asysyifaahs♥

A... untuk Abah #30HariMenulisSuratCinta

Kepada Ayah yang malam kemarin berdiskusi denganku,

Selamat pagi Abah, sebelum berangkat sekolah di hari Jumat, aku ingin menulis surat pertama ini untukmu. Dari dalam kamar milik gadis perempuanmu satu-satunya, aku sedang mendengar Abah berbincang dengan Mamah. Entah tentang hal apa, aku tak begitu menyimaknya dengan baik--toh, seorang anak tidak patut nimbrung pembicaraan orangtua kan, terkecuali jika kami diizinkan? Bukan begitu yang Abah ajarkan padaku dulu?

Entah harus kumulai dari mana, semua hal yang kita lakukan selalu menyenangkan. Sejak kecil, aku memang lebih dekat dengan Abah, begitupun sampai sekarang. Aku ingat tentang bagaimana Abah saat aku kecil mencari kerja, menjadi buruh, pekerja lepas, hingga sekitar tahun 2006 Abah bisa dipercaya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik pun lebih layak. Haruskah kuucapkan terimakasih untuk itu? Berkatmu, kami semua, aku, Mamah, dan Ikmal bisa hidup lebih baik dan semakin baik hingga sekarang. Terimakasih.

Abah adalah sosok orang yang kukagumi, laki-laki pertama yang selalu sigap melindungiku dan laki-laki yang takkan pernah mengkhianatiku. Abah juga bukan orang PHP yang sama seperti lelaki yang pernah kukenal sebelumnya, Abah ada untukku.

Meski sering ditinggal 3 bulan untuk pergi ke daerah di seberang sana, tak apa. Tak apa bila dengan begitu Abah bisa melakukan hal yang terbaik bagi kami. Rindu tidak hanya sekadar rindu karena sekarang teknologi informasi menjadi hal terbaik untuk kita bercakap-cakap walau via telepon. Aku senang hari ini Abah bisa pulang, meski hanya mendapat jatah cuti tidak lebih dari 3 minggu, aku bersyukur Abah masih sehat.

Abah yang kemarin malam berdiskusi tentang masalah ekonomi denganku,
Apa rasanya berbagi ilmu dan berbagi cerita dengan gadismu? Menyenangkan kah? Membosankan kah? Atau malah membuatmu mengantuk karena aku terlalu bertele-tele dalam bercerita? Saat topik awal membahas ini, sudah bisa dipastikan ceritaku akan merambat ke mana-mana, tersebar, dan meluas, hingga acap kali Abah lebih memintaku menyampaikan kesimpulannya saja. Hihi... maafkan anakmu ini ya, mungkin aku mendapat kebiasaan ini agak berlawanan denganmu.

Kemarin malam kita berbincang soal masalah ekonomi. Agak cukup berat sebenarnya pembahasannya, tapi entah kenapa kalau berdiskusi denganmu, semua terasa lebih ringan. Tidak ada rasa aku takut salah mengutarakan pendapatku, karena Abah benar-benar menghargai setiap pembicaraanku. Kemarin Abah bertanya, "Icha (panggilan kecilku) tahu soal inflasi?". Namun seketika itu juga aku malah bingung, jangan-jangan Abah mau mengetesku karena aku bakal ikut Olimpiade Ekonomi ya? Atau jangan-jangan Abah tahu kalau bahasan materi Ekonomi di kelasku juga sedang mempelajari masalah inflasi? Haha...

Walaupun sedikit bingung harus menjawab seperti apa--apakah harus seperti caraku menyampaikan materi pada teman, atau pada orang lain--aku mencoba menjelaskannya padamu. Tentang inflasi, masalah ekonomi yang mendera di Indonesia akhir-akhir ini, soal saham, obligasi, dan hal-hal seputar itu yang kuyakin caraku menyampaikannya kurang baik. Apa Abah paham maksudku? Hehe...

Aku juga nggak bertanya kenapa Abah bisa tiba-tiba membicarakan tentang hal itu, atau mungkin Abah berminat beli saham? Atau perusahaan Abah sedang terkena masalah soal obligasi? Hmm... kuyakin semua bisa bermanfaat, baik untukku sendiri maupun untuk Abah. Semoga.

Untuk Abah yang selama ini menyayangiku,
Terimakasih untuk segala-galanya. Walaupun kuyakin Abah nggak akan membaca surat anakmu ini, tapi kutahu Abah paham bagaimana rasa sayang dan hormatnya aku pada dirimu. Kalau anak-anak teman Abah punya cara umum menyayangi Ayahnya, maka aku punya cara tersendiri bagaimana aku berlaku kepadamu. Mungkin sedikit berbeda, tapi semuanya tetap sama, aku menyayangimu.

Lots of love,


Gadis kecilmu

Pic from here

by.asysyifaahs♥

Thursday, January 29, 2015

#1Day1Dream Salsa Putri Sadzwana

People say, age is just a number. Nggak ada pengaruhnya sama sekali terhadap hal-hal yang bisa dilakukan seseorang. Orang-orang yang memiliki umur di bawah kita, siapa tahu bisa lebih hebat melakukan hal yang nggak bisa kita lakukan. Kalau kata anak-anak DARR sih, Jangan Remehkan!

Sumber Facebook Salsa

Salsa Putri Sadzwana adalah salah satu penulis cilik yang menjadi kebanggaan Indonesia. Anak SMP yang akan menghadapi UN ini ternyata sudah memiliki 5 karya dalam bentuk buku lho, yaitu KKPK JuiceMe: Tersandung Hobiku, PCPK My Spooky Moment, PCPK Pesulap Misterius, Komik Fantasteen Vol. 14: Red Midnight Vampire, dan yang baru-baru ini terbit adalah buku berjudul Spooky Stories Revenge.
Nah tuh, siapa yang nggak takjub melihat karyanya sudah lahir di usianya yang bahkan masih sangat belia? Kalau dibandingkan sama aku, udah pasti Salsa lebih baik kalau soal karya dalam buku-bukunya.

Aku kenal Salsa secara nggak sengaja lebih tepatnya, namun ketidaksengajaan itu malah bikin aku kenal cukup baik dengan Salsa. Bahkan, aku ngerasa kayak punya adik baru, aneh aja rasanya saat beberapa waktu lalu aku dikasih tahu kalau bukunya sudah terbit. Rasanya bukan iri, lebih kepada bangga bahwa aku punya adik yang jadi penulis. Hehe...

Sebagai penulis cilik, mimpi adikku yang satu ini juga nggak jauh-jauh tentang dunia perbukuan. Salsa pengin dia bisa nulis lebih banyak lagi buku dan bukunya bisa dijadikan sebuah film. How amazing, right? Aku dukung banget nih soal mimpinya, karena kalau dipikir-pikir Indonesia udah jarang punya film anak-anak berkualitas, khususnya yang diangkat dari buku anak karya anak-anak Indonesia sendiri. Yah, siapa tahu suatu saat ada produser atau sutradara yang mau menjadikan buku karangan penulis cilik Indonesia sebagai ide cerita dari film. Amin...

Sama seperti penulis pada umumnya, kendala yang biasa Salsa hadapi juga banyak, semacam write block dan moodie itu jadi virus yang paling sering banget menyerang ketika dia lagi nulis. Yang aku suka dari dia adalah, dia kadang memaksakan diri untuk tetap menulis—apalagi dia juga harus siap berkutat dengan deadline, begitu katanya. Waaah, jarang nih aku menemukan orang yang “memaksakan kehendak” tapi untuk hal yang positif. Acungan jempol buat Salsa!
Taktik lain yang biasa dia gunakan juga ada, aku menyebutnya Nocturnal Habit. Karena nih, Salsa kan sering nggak sempat menulis di siang hari, makanya waktu yang paling pas buat dia menulis ya tentu saja malam. Cara mengatasi lainnya juga dengan membaca, I believe if you write more you read much more. Dan salah satu yang jadi motivasinya adalah teman-temannya sendiri. Kenapa? Iyalah, teman-temannya juga penulis, secara nggak langsung dia punya dorongan semangat yang makin menggelora untuk menulis buku lebih banyak lagi.

Ah ya, mimpi-mimpi Salsa sedikit banyak mengingatkanku pada impian masa kecil ala Syifa. Dia pengin jadi penulis terkenal, pengusaha, dan sutradara. Lucu sekali kalau setiap kali main, aku pura-pura jadi sutradara yang punya ciri khas “CUT!” dalam setiap memotong adegan.

Dear my dearest young sister, Salsa. Walaupun kita terpisah jauh (tetap se-Indonesia sih), dan belum pernah bertemu sekalipun, doa Kakak selalu buat kamu. Semoga impian dan semua harapan kamu bisa terwujud. Jangan pernah menyerah dan tetap semangat menjalani semuanya, karena Kakak yakin kamu bisa, pasti bisa, dan tentu bisa. Jujur, kamu salah satu orang yang menginspirasi Kakak untuk bermimpi menjadi penulis juga dan lebih banyak mengapresiasi karya-karya penulis Indonesia.

Terimakasih sudah bilang kalau Kakak baik, cantik, pintar, dan blogger sejati walau sebenarnya kita belum pernah bertemu sama sekali. Semoga di lain kesempatan, kita dipertemukan sebagai orang yang sudah mencapai mimpi-mimpi besar kita ya. Keep on fighting till the end, Dear ^_^

by.asysyifaahs♥

Wednesday, January 28, 2015

#1Day1Dream Uni Dzalika

Sesepele apapun hal, secara tidak sadar hal itu akan membawa pada hal yang lebih besar. Seperti yang aku alami beberapa bulan lalu di akhir tahun 2014 kemarin. Nggak pernah ada yang tahu kalau di hari itu aku punya kenalan sekaligus inspirasi baru dalam ngeblog.

Dokumentasi Uni

Beberapa blogger pasti tahu Uni Dzalika. Dia juga salah satu Kawancut yang September tahun lalu mengadakan sebuah projek blog berkolaborasi. Temanya unik, #30DaysSaveEarth, menulis tentang bagaimana aksi kita dalam menyelamatkan dan menjaga Bumi. Awalnya aku memang antusias, eksaitid, tapi rasa sudah berlalu... hingga akhir tanggal 30 September, aku belum ikut, dan akhirnya jadi nggak ikut apa-apa. Sedih ya?

Sumber Facebook Uni

Saat kemarin malam mengobrol, dengan tidak memakai Hangul tentunya—akhir-akhir ini ada partner yang bisa diajak belajar bahasa Korea, selain Rezka—aku merasa bahwa Uni adalah orang yang easy-going. Baru kenal sekitar 4 bulan, tapi dia bisa berbagi cerita denganku. Syukurlah nggak dibilang SKSD *ditimpuk*

Uni juga tipe pemimpi yang realistis—katanya sih untuk “membatasi mimpinya” agar tahu mana yang lebih diprioritaskan, biar satu per satu dari semuanya bisa tercapai. Beda dong sama aku yang banyak mimpinya nggak realistis dan malah jadi surealis, misalnya bikin planet baru untuk pindah ke sana karena Bumi udah terlalu sesak, haghaghag.

Mimpinya di tahun ini adalah ingin menjadi cerpenis media dan menelurkan sebuah novel karya sendiri. Ini mungkin nggak mudah, tapi kuyakin dengan kemampuan Uni sejauh yang aku baca dari blognya, Uni bisa melakukan hal tersebut. Dari yang aku tahu juga, Uni memang sudah jadi penulis, buku-bukunya keroyokan—salah satu dari sembilan buku antologinya yang kukenal adalah A Cup of Tea Cinta Buta; kenal aja bacanya belum.

Kadangkala aku menemukan beberapa penulis yang dengan mudahnya menceritakan sesuatu kemudian tulisannya naik cetak di salah satu penerbit buku. Terkesan mudah memang, tapi beberapa kali kutemukan bukunya nggak begitu menarik di pasaran. Lalu kenapa dengan Uni? Mungkin kurasa dia benar-benar “ingin menulis”—bisa ditekankan kata-katanya?—bukan untuk menerbitkan buku, dengan begitu ceritanya tidak saja menarik tapi juga diingat para pembacanya. Hopefully so.
Sumber Facebook Uni

Satu lagi, bermimpi jadi orang kaya, diperbolehkan kan? Kalau ini adalah mimpi Uni, aku malah kadang merasa takut untuk bermimpi demikian. Bukan, bukan takut bermimpi, hanya terkadang aku merasa menjadi orang kaya itu menakutkan. Salah satunya adalah akan sangat disayangkan bila menjadi orang kaya tapi tidak bahagia dan punya sifat yang kurang baik. Ini bisa saja terjadi kan?

Namun berbeda dengan Uni, motivasinya bukan untuk pamer, tapi kalau dengan menjadi orang kaya bisa berbagi dengan sesama pakai uang sendiri, tidak lagi meminta pada orangtua, dan juga bisa membeli sesuatu tanpa harus melihat harga, kenapa nggak? Ini mimpi yang baik selagi langkah yang ditempuhnya pun baik. Jadi, kalau Uni sudah jadi orang kaya, boleh ya belikan aku boneka Roumang? Heheh...
Sumber Facebook Uni

Hal lain yang aku suka dari Uni selain blognya yang cukup nyaman dibaca akan pemilihan diksi dari cerita-ceritanya adalah keinginannya untuk belajar lebih banyak. Dia memang bukan Korean addict yang tiba-tiba suka dengan berbagai jenis hal tentang Korea. Tapi karena kesempatannya beberapa kali bertemu orang-orang Korea, hal ini sedikit banyak mempengaruhi ketertarikannya untuk mengenal budaya negeri ginseng itu. Uni juga mau belajar bahasanya, masakannya, musik-musiknya, tapi dengan motivasi ingin belajar, bukan fanatik. Ini yang patut ditiru, jangan kayak aku yang dulu bilangnya nggak suka banget sama boyband Korea, eeehh... sekarang malah kecanduan K-drama dan EXO. Hahah... *ditimpuk fans Korea*

Ah ya, kalau cerita soal blog, Uni memulainya sejak 2009 yang lalu. Namun baru merasa menjadi “blogger sesungguhnya” di tahun 2014. Katanya sih, Uni ini banyak belajar dari blognya sendiri, agak sesuai dengan apa yang dia inginkan, meskipun tetap belum puas. Tapi memang nggak ada kata puas, biar bisa belajar terus kan?

Untuk Uni yang membaca nanti..., semoga mimpi Uni terwujud ya, apalagi mimpi di tahun ini untuk menulis sebuah buku sendiri. Nanti, kalau bukunya terbit, aku harus dapat tanda tangan Uni di bukunya, biar bisa diingat bahwa mimpi Uni pernah aku ceritakan disini. Oh iya, terimakasih untuk cerita-cerita manis di blognya, semoga Uni tetap konsisten biar aku bisa menikmati terus racikan kata yang Uni buat.

Terimakasih sudah mengatakan kalau Syifa adalah anak yang periang, aktif, dan punya jiwa semangat yang tinggi. Semoga suatu hari kita bisa bersua, aku juga pengin ngobrolin banyak hal sama Uni.

by.asysyifaahs♥

Tuesday, January 27, 2015

#1Day1Dream Muhammad Abdilah Ramdani

Perubahan itu pasti selalu ada, tanpa kita tahu kapan seseorang bisa berubah jauh lebih beda. Hal ini terjadi dengan salah satu kakak kelasku. Pertama kali jadi adik kelas dari kakak yang satu ini adalah pas SMP, karena kebetulan kami berada di satu sekolah yang sama. Setelah lulus dan masuk SMAN 1 Cililin, lagi-lagi masih menjadi adik kelasnya.


Aku mengenal Muhammad Abdilah Ramdani, atau yang akrab disapa A Ramdan saat di SMA berbeda dengan A Ramdan yang aku kenal pas SMP. Perubahannya lebih baik tentu saja, salah satu hal yang berpengaruh adalah jabatannya sebagai Ketua OSIS 2013 – 2014 yang lalu.

Walaupun nggak begitu dekat dengan A Ramdan, selain sebagai adik-kakak kelas dan berada di satu ekskul yang sama, sejauh ini dia dikenal sebagai sosok pelajar yang aktif dalam kegiatan berorganisasi. Dulu pas SMP, A Ramdan juga jadi anggota OSIS, hanya anggota dari salah satu seksi bidang, beda sama aku yang waktu itu jadi Wakil Bendahara *zongong, Acipa!*. Tapi, nggak nyangka aja pas masuk SMA, dia jadi pemimpin organisasi sekolah.

Jabatannya itu setidaknya pernah membantuku dalam hal penerimaan anggota OSIS. Berkatnya, aku pernah dapat semacam pembelaan hingga singkat cerita aku masuk dalam keorganisasian. Entah aku yang nggak tahu diri, aku cuma bisa “bertahan” di OSIS selama setengah periode. Jujur saat itu memang sulit, memilih antara berhenti atau bertanggung jawab dengan pembelaan A Ramdan saat itu. Heheh...

Beberapa waktu lalu, A Ramdan juga pernah terpilih dalam 100 Ketua OSIS SMA di Indonesia yang mengikuti Indonesia Student Leadership Camp III di salah satu tempat di Kampus Kuning alias Universitas Indonesia. Suatu kebanggaan juga sebagai adik kelas yang sebelumnya pernah mengikuti forum yang serupa *uhukFOR6uhuk*


Keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut juga sedikit banyak mempengaruhi dalam pilihannya di PTN mendatang. Katanya sih, A Ramdan ini berminat masuk FISIP UI. Hmm... doakan saja semoga keinginannya ini bisa tercapai. Amin...

Yang menarik dari A Ramdan adalah tentang persfektif kebanyakkan orang-orang terhadap dirinya. Banyak di antara teman-temanku (termasuk aku juga) dan adik-adik kelas lainnya menganggap A Ramdan adalah sosok yang cukup menakutkan. Bukan menakutkan seperti apa ya, lebih kepada takut salah tingkah di hadapannya yang dikenal sebagai Ketua OSIS. Tapi..., beberapa kali berbicara dengannya via BBM, aku rasanya lebih berani untuk chat dibandingkan ketemu langsung, haha... Acipa sama aja.

Ah ya, sebagai anak kelas 12, A Ramdan juga bilang kalau dia nggak terlalu memikirkan banget soal NEM UN-nya nanti. Toh, nilai UN bukanlah prioritas dan penentu utama dalam lulus atau tidaknya seseorang. Target yang ingin aku capai yang jelas itu hasil dari kerja keras maksimal yang telah aku perjuangkan. Setuju kan? Pastinya, karena hasil tak akan pernah mengkhianati perjuangan.

Untuk A Ramdan *kalau baca ini, tapi pasti baca #maksa*, tetap semangat ya jalani semua tantangan yang sedang dan akan dihadapinya. Semoga mimpi-mimpinya, baik jangka panjang, menengah, dan pendek bisa tercapai. Semoga jadi bagian dari orang-orang yang mengendalikan pemerintahan Indonesia agar lebih baik di usianya yang muda. Sebagai seorang adik kelas, aku merasa terinspirasi dan berterimakasih untuk semua yang telah dilakukan selama ini, terutama saat-saat aku berada menjadi bagian OSIS.

Terimakasih juga sudah jujur dan berani beda mengatakan kalau Syifa adalah orang yang cuek, pendiam *padahal kayak cacing kepanasan gini*, dan aktif mengekspresikan diri dalam tulisan. Semoga tulisan ini juga jadi salah satu cerita yang bisa diingat ya. Heheh...

by.asysyifaahs♥

Monday, January 26, 2015

#1Day1Dream Muhammad Wifqi Abdul Rashed

Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi besok dan lusa saat kita sendiri masih menjalani waktu di hari ini. Dan itulah yang terjadi, nggak pernah terpikir bagiku seseorang yang dulu dianggap sebagai musuh teralay sepanjang sejarah, bisa jadi teman sekolah, teman dekat, bahkan teman baik.


Aku mengenal Muhammad Wifqi Abdul Rashed untuk pertama kalinya dari sebuah perlombaan yang menurutku jurinya nggak adil karena terlalu memihak tim dia. Malah, perkenalan kami seringnya berlanjut di facebook, perkenalan yang sama sekali nggak keren dan kayaknya cuma bisa diketawain aku dan Wifqi, bwahaha..

Musuh yang selama dua tahun cuma bisa bergelut di dunia maya, dan akhirnya dipertemukan di kelas 10 SMA yang sama, X MIIA 4. Aku nggak pernah membayangkan apalagi mengharapkan bakal sekelas sama doi, nggak ada sama sekali. Tapi, setahun sekelas bersama-sama itu menyenangkan, ada hal-hal lain yang kemudian aku tahu dari Wifqi selain tingkat kealayannya yang superganas *ditendang sampai ke Burj Khalifa*.

Sejauh ini, aku kenal Wifqi baru sekitar 4 tahun, dan kemudian kelas kami dipisah karena beda peminatan, aku masuk MIIA-Ekonomi, dia MIIA-Sosiologi. Dan sejauh itu pula aku pernah menjadikannya gebetan ada banyak mimpi-mimpi Wifqi yang owsom dan keren banget. Aku nggak nanya dia tentang mimpinya sih, karena buat apa kalau aku sendiri tahu mimpinya? *uhuk


Wifqi itu... bukan tipe pemimpi kayak aku, but he do what he want. Banyak hal yang mungkin bukan mimpinya tapi bisa ia raih dengan mudah, ya contohnya ikut berbagai lomba Matematika yang sebenarnya bukan mimpi dia tapi karena kemampuannya dalam bidang yang satu ini memang patut diacungi jempol, maka dia lakukan itu demi menapaki langkah menuju mimpinya.

Wifqi juga bukan tipe pemimpian alias KM yang otoriter dan egois, toh sebenarnya dia dipilih anak-anak sekelas karena merasa bahwa ia mampu dipercayai jadi seorang kepala suku. Dan itu yang membuatku salut, bukan saja tanggung jawab dan tugasnya yang memang jadi Ketua Kelas, tapi menurutku tingkah lakunya menunjukkan bahwa dia bisa jadi seorang pemimpin. He’s a good boy, anyway.


Aku juga belum banyak tahu soal latar belakang keluarganya—karena merasa belum saatnya; eh bukan ding... karena aku menganut sistem pertemanan yang ‘jalani aja dulu, kenal keluarganya belakangan’. Dan itulah yang aku sesalkan, baru saat diberi pertanyaan untuk post ini, aku jadi ngeh kalau his mother is a single parent, no... single fighter. Dia nggak sangsi untuk mengakuinya, bahkan di depan temen ceweknya sendiri. Whooaaa... a really gentleman, yang bisa-bisanya mengiyakan hal tersebut tanpa ada rasa marah atau sensitif sedikit pun.

“Saya bangga mempunyai ibu yang sangat hebat karena dia sudah menjadi ayah juga bagi saya”, akunya beberapa waktu lalu. Entah kenapa, aku yang merasa salah sama diriku sendiri mengajukan pertanyaan yang bahkan jawabannya udah aku tahu sebelumnya. Tapi, yang namanya pertanyaan harus selalu ada jawabnya kan? Aku takut salah kalau tiba-tiba hal tersebut bukan yang sebenarnya.

Serius, dalam beberapa waktu kadang aku mengagumi Wifqi, bukan sebagai 'boyfriend', tapi sebagai sesama teman dan juga kakak. Dia bisa tetap menjalani hidup sebaik yang ia bisa walau berada dalam keluarga yang demikian. Coba aja bayangkan kalau aku, aku nggak akan sanggup jalani hari tanpa Mama yang cerewet dan Abah yang bawel. Geez!

Mimpinya banyak, dan banyak juga mimpi-mimpi kecilnya yang sekarang sudah terwujud. Dia memang bukan tipe pemimpi seperti aku *emangnya Acipa tipe pemimpi kek gimana?*. Sebagai teman, nggak banyak hal yang bisa aku lakukan selain mendukung dan mendoakannya supaya mimpi, harapan, dan keinginannya bisa terwujud, apalagi kuyakin mimpinya untuk membanggakan sang Mama dan melindungi seorang wanita yang sangat berharga dan wajib dijaganya. Siapapun wanitanya kelak, she’s a lucky girl!

Kalau mengingat empat tahun lalu dimana garis hidup kami mulai bertemu di titik yang sama, aku hanya bisa menertawakan diri sendiri. Hal-hal aneh yang rasanya nggak bisa dipercaya itu malah jadi kenangan yang unforgetable moment banget bareng Wifqi. Aku yakin Wifqi bakal baca ini, "jadi Wif... kalau suatu saat mimpi kamu banyak tercapai, jangan lupa kasih tahu aku ya. Mungkin aku nggak banyak andil dalam mimpi-mimpi itu, tapi kuyakin satu dua kali kita bisa bermimpi bersama".


Terimakasih sudah menganggap Acipa teman yang pintar, baik, bawel, dan gila saking banyaknya teriak di kelas. Semoga mimpi kita memecahkan teka-teki siapa yang lebih dulu antara Nabi Adam dan manusia purba juga bisa tercapai ^_^

by.asysyifaahs♥

Sunday, January 25, 2015

#1Day1Dream Sandra, a Fireworks Addict

Time flies so fast, nggak sadar tau-tau udah seminggu lagi Januari pertama di 2015 berakhir, dan nggak sadar tau-tau besok tenggat waktu pengiriman essay untuk lomba debat yang ceritanya bakal aku ikuti.  Ini hari terakhir untuk menceritakan mimpi orang lain. Ah, rasanya pengin banget repost satu per satu mimpi Kawancut yang ikut projek ini. Mimpi yang macam-macam, yang nggak kepikiran apa jadinya kalau mimpi itu terwujud suatu saat nanti.

Sumber Pinterest

Kita nggak akan pernah tahu sampai mimpi itu benar-benar terwujud. Hmm, sejauh ini, aku bingung mimpi mana saja yang sedikitnya sudah punya progres yang cukup memuaskan, tunggu selepas projek ini selesai. Mari bikin sekuelnya, misalnya Menjawab #1Day1Dream, Kemajuan #1Day1Dream, dan hal-hal lain yang mungkin bisa kita bahas. Biasanya sih, projek bikinan Kak Prima nggak berhenti hanya sampai di situ saja, kadang ada kelanjutannya sendiri yang bikin terngaga kaget saking nggak nyangkanya.

Hari terakhir di 25 Januari 2015, aku bakal menceritakan mimpi punya Kak Sandra Sasi Kirana, salah satu Kawancut yang juga ikut projek ini dan hanya bertahan sampai dua hari. Sedih sih, bukan karena Kak Sandra nggak bisa melanjutkannya, tapi sedih karena dari awal aku yang maksa dia untuk ikut acara ini. Haha..., jangan-jangan deket Acipa ya, ntar dipaksa cariin jodoh *lho?

Sumber disini


Yaks, melihat kembang api di langit yang luas pada suatu malam adalah impian gue. Whahaha.
Gue pengen banget ke tempat yang langitnya keliatan luas, misalnya laut, atau taman, atau arena bermain (example: Dufan), atau jalan tol sepi (ini ngasal), buat ngeliat kembang api menari-nari di langit malam.
Itu menurut gue keren aja. Ya gitu aja, sih. Haha.

Aku nggak tau sejak kapan tepatnya kenal Kak Sandra, mungkin beberapa bulan lalu atau setidaknya setahunan yang lalu. Dia...apa ya, nggak hanya baik tapi juga (ah I don't know to say it) beda. Sejauh yang aku kenal dari kicauannya di twitter dan tulisannya di blog, dia benar-benar beda. Nggak tau sih harus mengatakannya seperti apa, tapi kurasa dari mimpi kecilnya ini kalian bisa menangkap maksudku, haha. Sepele mungkin kalau mimpi pertama Kak Sandra di projek #1Day1Dream ini. Memangnya siapa sih yang mau-maunya nulis kembang api sebagai mimpi padahal kita bisa beli dan menyalakannya sesuka kita? That's the point!

Pada suatu hari, gue tiba-tiba mengagumi benda langit yang bersinar di gelapnya malam. Nama benda langit itu Bulan dan Bintang. Semenjak itu, mata gue selalu berbinar setiap saat melihat benda yang bersinar atau berkelip di angkasa malam. Kalau Bulan dan Bintang itu, kan, benda angkasa yang nggak bisa manusia atur, nah, bagi gue kembang api adalah “benda langit” yang bisa diatur dan dirancang kemunculannya sama manusia. Makanya gue eksaitid banget ngeliat kembang api. Biasa aja, sih, sebenernya, tapi gue ngeliat kembang api, tuh nggak cuma pake mata, tapi pake hati, duh elah!

Dari sekian banyak hal, mungkin ini mimpi tersederhana yang aku baca. Namun, sesederhana apapun mimpi, keinginan, dan harapan itu bukannya harus tetap diwujudkan ya? Saat kita bermimpi, maka kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita mimpikan. Kalau nggak bisa tanggung jawab, ya jangan bermimpi lah, sesimpel itu!

Aku takjub dengan Kak Sandra, bagaimanapun hal-hal kecil juga tetaplah mimpi walau orang mengatakan bahwa itu sepele. Dan aku nggak bohong, kalau aku percaya Kak Sandra bisa mewujudkan mimpi melihat kembang api ini di suatu hari nanti. Mimpinya sederhana, tapi kuyakin cara Allah mewujudkannya akan jauh dari sesederhana mimpi itu sendiri. Siapa tau kan, Kak Sandra lihat fireworks di salah satu tempat di kota atau negara lain yang bahkan belum pernah terpikirkannya. Melihat jutaan kembang api melayang di langit malam suatu tempat, Sydney, Seoul, New York, London, atau Bandung mungkin? Who knows?

Sumber disini

Kapanpun, dimanapun, dan siapapun nantinya saat Kak Sandra lihat kembang api, semoga Kakak nggak pernah lupa mimpi sederhananya ini. Impian-impian kecil yang seharusnya bisa terwujud secepat kilatan kembang api tapi butuh waktu seperti saat membuatnya agar kembang api bisa seindah seperti apa yang kita lihat.

"Karena impian kecil serupa dengan cinta yang tidak berlebihan, sederhana."

 by.asysyifaahs♥