Wednesday, April 17, 2013

Happy 1000 Viewers to My Lovely Blog

Happy 1000 Viewers to My Lovely Blog Asy-syifaa Halimatu Sa'diah J


Tunggu ya bakal ada acara seru dalam rangka Happy 1000 Viewers to My Blog ini. Tungguin aja :)

Oh iya, doakan Syifa juga ya dalam menghadapi Ujian Nasional 2013 ini. Semoga semuanya berjalan dengan lancar, sukses, dan memuaskan. Semoga hasilnya juga sangat memuaskan. Hingga bisa dinyatakan LULUS selulus-lulusnya, LULUS dengan membanggakan dan memuaskan. Dan bisa diterima di SMA favorit (yang Syifa inginkan). AAAAMMMMIIIINNNN............................................*yang baca, bilang AMIN* :)

Sekali lagi, tunggu kejutan "Happy 1000 Viewers" dari Syifa ya :) Byeeeeeeeeeeeeeeeeee....................*muach muach* *tebar kiss*

PS. Gambarnya 1001, bukan 1000. Maaf ya :)

Saturday, April 13, 2013

My Little World: 'BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop'

My Little World: 'BBI 2nd Anniversary Giveaway Hop'

Tinggalkan jejak disini ya :)Terimakasih sudah berkunjung :)

Wednesday, April 10, 2013

[yang tak berjudul]


Getaran angan kosong
Andai ia benar-benar ada
Luapkan semua ego dan emosi
Untuk cerita-cerita yang menyengsarakan
Hampa...

Sampai kapan semua itu bisa luput?
Untuk dilupakan: selamanya
Kosong...oh tidak, setengah kosong
Mungkin pula setengah isi
Ambigu!

Apa karena aku yang tak paham?
Juga mereka yang menerima apa adanya?
Indahnya cerita itu...

Nestapa hati yang tak berkesudahan
Untaian kata yang tak menyenangkan
Gusar...Aku ragu...
Riak air semakin membesar
Ah, aku harus melemparnya lagi
Harus...Iya harus
Agar bayangan itu bisa pergi: sesaat

Semesta-Nya


Semesta-Nya



Langit Subuh selalu memikat naluri
Warnanya merajut merah, kuning keemasan
Menyemangati hidup, bagaikan permadani surgawi
Yang terhampar menggantung terbalik menaungi bumi pagi
Ya Allah, Ya Qodir, kuasa-Mu tak ada yang dapat menandingi

Kumandang suara Adzan dari Masjid
Yang dilantunkan Muadzin mengalun di telinga
Merasuki pikir dan nurani
Membangunkan umat Muslim untuk segera Shalat
Menghadap kepada yang Khalik
Mengajak orang-orang untuk menyembah kepada-Nya

Di pekarangan rumah terdengar suara kokok si jago,
Ayam jantan yang tak mau ketinggalan menyambut pagi
Menyanyikan lagu wajibnya setiap hari

Kubuka jendela kamar, sejenak angin menerobos masuk
Menghalau aroma tak sedap di kamar karena bau peluhku
Melalui lubang jendela terlihat obor-obor yang berjalan
Ku amati, namun hanya segerombol anak laki-laki

Ku amati lagi keadaan pedesaan ini, kali ini lebih nyata lagi
Kubuka jendela kayu itu dengan hati-hati
Ku arahkan pandanganku ke hamparan padi di sebelah rumahku
Sungguh asri pedesaan ini seolah akan selalu abadi
Namun lebih abadi yang menciptakannya, Allah Azza Wajalla


Bandung, 20 Februari 2011, 16.30

Berikan Dia

Berikan Dia



Ketika mentari menyapa, kicauan burung menjawab
Ketika seorang gadis kecil berambut pendek menyaut sautan dunia,
Sang laksamana tersenyum kagum kepadanya
Di ribuan tasbih embun pagi, dia mengenang
Melangkah tegap serang berperang singsingkan cinta, untuk semua orang

Syair – syair lantunan, tutur katanya menusuk nurani
Kecapan, kedipan kelopak matanya, mengencangkan surya

Ya Tuhan, kuatkanlah jati dirinya dalam sanubari tata surya zaman
Ya Tuhan, berilah dia kesempatan untuk menghirup hawa
Ya Tuhan, acungkanlah kebahagiaan untuknya
Ya Tuhan, sembahkanlah sejuta kisah untuknya
Ya Tuhan, tuturkanlah cinta dalam hidupnya, dalam buihnya
Ya Tuhan, satukanlah alam pikirannya untuk selamanya

Jangan Engkau hilangkan nama harumnya dan tutur lembutnya dalam kehidupan
            Namun, berikanlah dirinya kesempatan untuk berpijak
            Di atas roda kehidupan itu kembali . . . . . . . . . .

Bandung, 18 Februari 2011,15.50
                                                                                              

Haram


HARAM




       Dalam akidah Islam, setiap perbuatan baik yang diawali bacaan “basmallah” dan diakhiri ucapan “tahmid” adalah ibadah. Ada ibadah wajib, ada ibadah sunnah. Demikian juga dalam hukum: ada haram, ada halal. Dalam konteks beribadah, mengerjakan sesuatu yang haram berarti melanggar perintah Allah alias berdosa, karenanya akan mendapatkan hukuman siksa di neraka. Bila meninggalkan yang haram artinya mendapatkan pahala.
       Rasulullah SAW pernah bersabda dalam bahasa yang lugas, jelas, dan tidak multi-tafsir mengenai masalah tersebut. “Sesungguhnya perkara yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Diantara keduanya ada perkara yang syubhat samar-samar. Barang siapa menjauhi yang syubhat, berarti dia telah berserah diri untuk menjaga agamanya dan akhlaknya. Dan, barang siapa yang melakukan syubhat, dia akan jatuh ke dalam keharaman. Ibarat penggembala di dekat taman terlarang, selangkah lagi gembalaannya (nafsunya) pasti masuk ke dalamnya. Ingatlah, sesungguhnya setiap raja itu ada larangannya. Ingatlah (Dia Maha Raja), larangan Allah itu adalah perkara-perkara yang haram.” (H.R. Bukhari – Muslim).
       Belum lama ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa “haram” bagi rokok dan bagi golongan putih yang tidak menggunakan hak pilihnya dalam Pemilihan Umum. Aneh bin ajaibnya, “pengharaman” itu tidak berlaku bagi seluruh umat Islam. Bahkan ada catatan khususnya, dalam hal merokok “haram bagi anak-anak, ibu hamil dan menyusui”.
       Dengan logika demikian, maka pasti daging kambing pun suatu saat akan “diharamkan” bagi para penderita darah tinggi, jantung, dan asam urat. Hukum macam apa itu? Tidak konsisten. Tidak istiqomah. Tidak taat asas. Ambivalen. Ambiguitas. Mendua. Kacau!
       Fatwa tersebut kalau hanya terbatas sebagai “imbauan moral” bagi Muslimin-Muslimat, tidak memasuki wilayah haram, dapat dimaklumi. Namun, karena sudah merambah kepada wilayah ibadah, berbeda persoalannya. Sebab, haram dalam terminologi Islam, itu artinya kalau dikerjakan berarti melanggar perintah Allah, berdosa, pasti akan disiksa di neraka. Atau, jangan-jangan ada motif materi dan duniawi kepada pihak tertentu di balik fatwa tersebut?
       Padahal Allah SWT mengajarkan keistiqomahan, konsistensi dalam penerapan hukum. Firman-Nya “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (Q.S. An-Nisa [4]: 82).
       Nabi Muhammad SAW pun dilarang ketika mengharamkan madu, walau untuk dirinya sendiri. Karena motifnya untuk menyenangkan istri-istrinya yang cemburu kepada salah seorang istri Rasulullah yang lain, yang biasa menyuguhkan madu dan melahirkan putra Nabi SAW bernama Ibrahim.
       Allah SWT berfirman: “Wahai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah halalkan bagimu; kamu hanya mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. At-Tahrim [66]: 1).
       “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal.’ Katakanlah: ‘Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu tentang ini atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Q.S. Yunus [10]: 59)
       “Dan, janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah . Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Q.S. An-Nahl [16]: 116)
“Dan, kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku serta dari sapi dan domba. Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, kecuali lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang ada di dalam perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami menghukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.”(Q.S. Al-An’am [6]:146)
       “Orang-orang yang menyekutukan Tuhan, akan mengatakan; ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak menyekutukan–Nya dan tidak pula kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan para rasul sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: ’Adakah kamu memiliki suatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?’ Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta,”(Q.S. Al-An’am [6]: 148).
       “Katakanlah: ‘Bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwa Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan itu.’ Jika mereka mempersaksikan, maka jangalah kamu ikut pula menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka menyekutukan Tuhan mereka.” (Q.S. Al- An’am [6]: 150)
       “Katakanlah: ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu menyekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu bapakmu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya, melainkan dengan sesuatu sebab yang benar.’ Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya.” (Q.S. Al-An’am [6]: 151)
       “Dan, yang Kami perintahkan ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu menyerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-An’am [6]: 153)
       Dari beberapa ayat Al-Quran yang dikutip di atas, sangat jelaslah bahwa hanya Allah SWT yang paling berhak menentukan yang halal dan haram. Bukan berdasarkan akal, apalagi dengan motif dan niat agar pihak tertentu membagikan sebagian keuntungannya dan memberikan kontribusi yang signifikan, dengan dalih, untuk kemajuan umat Islam sebagai penduduk mayoritas di negeri ini. Akal bukanlah sumber hukum. Fungsi akal dalam hal ini hanya terbatas untuk memahami, menalar fakta permasalahan dan nash-nash syara’ yang berkaitan dengan permasalahan tersebut. Bukan untuk menentukan halal-haramnya masalah!
       “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik.” (Q.S. Al-An’am [6]: 57).  “Menetapkan hukum hanyalah hak Allah. Dia memperintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” (Q.S. Yusuf [12]: 40).  “Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih termasuk hukum, maka putusannya terserah kepada Allah.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 10)
       Kesimpulannya: Hanya Allah Azza Wajalla yang menjadi Musyarri’ (Pembuat Hukum) dalam masalah ibadah. “ingatlah, Menciptakan dan Memperintahkan hanyalah hak Allah.” (Q.S. Al-A’raf [7]: 54).Wallahu’alam.
      
Disadur dari: “BUKU HARIANKU” karya DARATIA WIDIA PRIMA.

The Experience(s)


The Experience(s)




"Pengalaman adalah guru yang paling berharga", yap kata bijak yang satu ini memang sangat benar sekali. Banyak sekali pengalaman yang sudah kita lewati sejak kita dilahirkan sampai saat ini, ada ribuan bahkan jutaan pengalaman yang sudah aku dapatkan khususnya. Begitupun halnya dengan kalian, bukan?

Kalau boleh bertanya, sudah berapa banyak sih pengalaman yang kalian dapatkan selama ini? Ratusan? Ribuan? Jutaan? Atau milyaran? Tiap detiknya, manusia itu akan selalu mempunyai pengalaman. Terlebih, semakin tua, semakin banyaklah pengalaman yang didapatkannya. Tapi, pernahkah berpikir, apakah pengalaman yang kalian dapatkan itu adalah suatu harapan atau ketidak-inginan?

Selama ini, Tuhan memberikan pengalaman kepada manusia agar ia bisa belajar, baik belajar dari kesalahan atau kebenarannya. Dalam hal kesalahan, sepatutnya kita harus belajar dari kesalahan itu agar tidak terulang untuk kedua, ketiga, dan kesekian kalinya. Sedangkan, dalam hal kebenaran, itulah yang harus kita terapkan dan tingkatkan lagi.

"Experience is unforgetable moment", itu kata bijak yang sangat benar-benar sekali. Pengalaman itu memang momen yang tidak terlupakan, apalagi kalau pengalamannya menyenangkan, tidak terkecuali pengalaman yang menyedihkan juga. Ketika kita mengalami peristiwa yang menyenangkan, kita selalu mengingatnya dan tak akan pernah terlupakan, misalkan ketika kita dinyatakan menjadi juara dalam suatu perlombaan. Atau ketika kita mengalami peristiwa yang menyedihkan, hal ini sering menjadi trauma tersendiri bagi pribadi seseorang.

Nah, sebagai makhluk Tuhan yang diberikan begitu banyak pengalaman tak terhingga, seharusnya kita bisa bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah ia takdirkan untuk kita. Apapun itu pengalamannya, menyenangkan, menyedihkan, mengharukan, dan pengalaman-pengalaman lainnya, Tuhan berikan agar kita selalu ingat dan tak lupa atas nikmat-Nya. Karena dari pengalamanlah, kita bisa tahu arti hidup sesungguhnya.***

Perbedaan Iqro dan Membaca

PERBEDAAN IQRO DAN MEMBACA

Pelajaran I

Guru               : Apa gunanya AGAMA bagi manusia?
Murid              : Untuk diyakini maka dia beriman atau diingkari maka dia kafir.
Guru               : Apa bedanya ORANG BODOH dan ORANG TIDAK TAHU?
Murid              : ORANG BODOH tetap bodoh meskipun diberi pengetahuan sedangkan ORANG TIDAK TAHU menjadi tahu setelah  diberi pengetahuan.
Guru               : Apa artinya “BELAJAR”?
Murid              : BELAJAR artinya “mengucapkan, membaca, memahami, iqra dan mengamalkan”
Guru               : Apa artinya “MENGUCAPKAN”?
Murid              : MENGUCAPKAN artinya “menirukan bunyi huruf”, baik berdiri sendiri atau yang tersusun dalam kata.
Guru               : Apa artinya “MEMBACA”?
Murid              : MEMBACA artinya “menirukan bunyi huruf dalam kata dan mengetahui artinya”, baik berdiri sendiri atau   terangkai dalam kalimat.
Guru               : Apa artinya “MEMAHAMI”?
Murid              : MEMAHAMI artinya “mengerti maksud setiap kalimat yang diucapkan dan dibaca”, baik satu kalimat yang terhimpun dalam alinea.
Guru               : Apa artinya “IQRA” atau “BACALAH” dalam Al-Quran?
Murid              : IQRA artinya “memahami maksud dan tujuan setiap ayat Al-Quran diturunkan ke bumi”, baik yang terkandung dalam seluruh surat dari Al-Fatihah sampai An-Nas maupun di alam yang terkembang menjadi Sunatullah.
Guru               : Apakah artinya “MENGAMALKAN”?
Murid              : MENGAMALKAN artinya “melaksanakan seluruh pelajaran yang telah di-iqra dalam kehidupan sehari-hari”, baik Fardu ‘Ain(Kewajiban Pribadi), Fardu Kifayah (Kewajiban Umum), Habluminallah (Hubungan Dengan Allah) atau Habluminannas (Hubungan Antarmanusia).
Guru               : Kalian sudah belajar sampai dimana?
Murid              : Baru dapat sedikit-sedikit mengucapkan, membaca dan mengamalkan.
Guru               : Alhamdulillah. Lebih baik belajar sedikit tetapi diamalkan daripada banyak belajar tapi hanya disimpan sebagai pelajaran.
Murid              : Itulah bedanya orang bodoh dan orang tidak tahu. Mereka mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan.



Guru               : Orang kafir itu akan tetap kafir meskipun semua orang memberi pengetahuan kepada mereka. “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 6).  “Sama saja bagi mereka apakah kamu meberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.” (Q.S. Yasin [36]: 10).

Pelajaran II

Guru               : Siapakah sebaik-baiknya Maha Guru yang patut diteladani?
Murid              : Nabi dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Guru               : Bagaimana cara untuk meneladaninya?
Murid              : Belajar mengucapkan, membaca, memahami, iqra, dan mengamalkan seluruh akhlak dan perilaku Rasulullah dalam tindakan, ucapan dan kehidupan beliau selama 22 tahun 2 bulan 22 hari kenabian dan kerasulannya.
Guru               : Alhamdulillah. Bagaimana kalau ada orang yang belum iqra dan mengamalkan Al-Quran dan As-Sunah dalam kehidupannya, kemudian ia berkhotbah?
Murid              : Batal Demi Allah!! “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (Q.S. Ash-Shaff [61]: 2)

Saturday, April 6, 2013

Mendung di Dalam Hujan

Awan Cumulunimbus sudah menggumpal di langit. Pertanda hujan akan turun. Cepat-cepat aku berlari menuju halte bus. Benar saja dugaanku, tetesan hujan mulai membasahi aspal jalan. Kulirik jam di tangan.
Tepat pukul 06.30.
“Mati aku. Bisa telat masuk sekolah, nih. Mana sekarang ada ulangan. Nyesel aku nggak ikut Abang tadi,” gerutuku.
5 menit berlalu, bus belum datang juga. Angkot pun tidak terlihat. Sial sekali pagi ini. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depanku. Aku mengenalinya. Aji, siswa IX-E. Aku juga mengenali sosok yang duduk di sampingnya.
Secara perlahan kaca mobil belakang turun, dan mulai memperlihatkan sosok yang ada di dalam mobil. Benar saja tebakanku. Ternyata itu Nanda. Sahabat karibku. Dulu. Ya, sahabatku yang dulu selalu bersama denganku.
“Pagi, Indah. Kamu ikut kita aja. Hujan begini, bus akan lama sampai. Nanti kamu telat masuk sekolah lagi,” ajak Aji.
Nanda hanya diam tanpa melirikku sedikitpun.
“Makasih tawarannya. Tapi lebih baik aku menunggu disini saja,” jawabku.
“Tapi, kamu bisa telat masuk sekolah. Iya kan, Nan?” tanyanya pada Nanda. Tapi dia malah diam seribu bahasa.
“Aku sangat berterima kasih. Tapi aku sudah terlanjur janji sama orang,”.
“Ya udahlah, Ji. Dia bilang kan nggak mau. Jadi jangan dipaksa. Lagipula kalau dia ikut cuma ganggu kita saja,” ujar Nanda tanpa melihatku.
“Benar, Ji,” jawabku dengan senyum yang terpaksa.
Untuk yang ketiga kalinya Aji menawariku. Tapi aku tetap menolaknya. Iapun melesat dengan mobil yang dikendarai oleh supirnya. Sebenarnya, bukannya aku tak ingin menerima tawarannya itu, tapi aku hanya ingin melihat reaksi Nanda saat aku menolak tawaran Aji. Dan hasilnya sangat mengecewakan. Dia sama sekali tidak mempedulikanku. Sahabatku yang dulu kini telah berubah. Sosok Nanda yang tak pernah kukenal sebelumnya.

Lost Februari


LOST FEBRUARI

Seandainya kamu tahu, aku ini kisah masa lalumu.
Hari berlalu dan kini Yomi akan menunggu setahun lagi untuk bisa bertemu dengannya. Yomi mencoba berhenti namun hatinya tetap memaksa untuk pergi. Yomi harus mengikuti waktu yang semestinya terjadi. Ah, siapa juga yang peduli –batinnya.
Yomi memang tak bisa untuk menunggu lagi. Februari dan janji itu mungkin hanya bualan bocah ingusan yang asal bicara, seasal ucapannya yang selalu dibenarkan oleh Yomi. Yomi dan penungguannya itu hanyalah cerita romantis yang tak ada artinya. Yomi sadar akan hal itu.
Yomi ingat betul bagaimana dulu, sejak dia harus memutuskan pindah kota ke Yogyakarta, tinggal bersama dengan Eyangnya. Dia baru tahu seorang bocah kecil menyukainya.
“Awan itu kaya kapas, empuk. Tapi lebih kaya aromanis, kayanya manis deh, tapi kayaknya manisan kamu. Aku suka kamu, Yomi,” ungkap bocah kecil itu.
 Walaupun hanya suka sebatas cinta monyet namun hal itu membekas pada hati Yomi. Membuatnya meninggalkan separuh hatinya itu agar dia dapat mengambilnya nanti. Yah, nanti. Sampai Yomi akan kembali ke Banjarmasin lagi. Seperti yang dijanjikan oleh bocah itu, dia akan menunggu Yomi di taman komplek rumahnya setiap bulan Februari. Pasti, tepat di bulan ulang tahun Yomi.
Yang menemaninya hanyalah Bintang. Dulu, di tahun pertama Yomi memutuskan pindah ke Banjarmasin lagi setelah Eyangnya meninggal, dia bertemu dengan Bintang. Saat itu hari terakhir di bulan Februari dan mustahil kalau bocah kecil itu masih menunggunya disini. Yomi menceritakan semuanya pada Bintang. Dan itu semua membuat mereka berada bersama dalam tali persahabatan, sampai saat ini.
“Sudahlah, buat apa kamu menunggunya dan menunggunya lagi. Dia gak akan pernah nemuin kamu. Dia mungkin udah lupa sama kamu,ungkap Bintang.
Yomi hanya diam. Memandang ke atas langit dan berayun-ayun di ayunan taman kompleksnya ini.
“Awan itu kaya kapas, empuk. Tapi lebih kaya aromanis, kayanya manis deh, tapi kayaknya manisan kamu.” ungkap Bintang lagi.
Yomi memandang Bintang. Hatinya bergetar hebat, apakah Bintang bocah kecil itu?

Lihat Saja Nanti

“Teng.. teng.. teng” bel pulang sekolah berbunyi. Ini saatnya kami membereskan semua peralatan sekolah yang terlihat berserakan dibangku masing-masing. Buku, pensil, penghapus, dan pulpen kembali ke alamnya masing-masing. Setelah teman-temanku tak terlihat dari pandangan, aku menutup pintu kelas dengan perlahan. Rasanya malas untuk pulang ke rumah. Lalu terpikirlah di benakku untuk pergi ke kantin menemui seorang wanita setengah baya bersifat lemah lembut bagai bidadari yang diutus untuk menemaniku dikala galau mendera.
“Kenapa Neng? Kok mukanya sedih gitu?” tanya Bi Inah, penjual bakso dan makanan ringan di sekolahku. Mungkin dialah satu-satunya orang yang bisa aku ajak curhat. Selain pandai menyimpan rahasia, Bi Inah juga terkadang memberiku solusi terbaik untuk semua masalahku. “Emang orang tua de’ Tira pada kemana? Kok sampai gak dianggap gitu?” Bi Inah menambahkan.
“Dimata mereka, sepertinya aku ini bodoh Bi, gak cerdas kayak saudara-saudara yang lain,” jawabku singkat.
“Sabar aja ya Neng, Allah tidak tidur. Suatu saat Allah pasti akan membuka jalan menuju kesuksesan itu,” kata Bi Inah lirih.
Aku menghela napas. “Hmm iya Bi, lihat saja nanti akan aku buktikan kalau aku bisa.”
Aku tahu diri, saudara-saudaraku lebih pintar dariku. Walau aku selalu yakin, tak ada orang yang bodoh dan pintar di dunia ini. Yang ada hanya orang malas dan orang yang rajin. Mugkin bedanya, mereka bisa sekolah ke SMA favorit di daerahnya masing-masing. Bagi mereka, I’m is nothing!
Jujur, sebenarnya aku malas pulang ke rumah. Karena aku sudah tak yakin ada yang mempedulikan aku lagi. Namun karena besok aku harus kembali melakukan rutinitas bersekolah akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Matahari hampir tenggelam ketika aku masuk ke dalam rumah. Untunglah penghuni rumah sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing sehingga tanpa basa-basi aku langsung pergi ke kamar. Aku terdiam di balkon kamar sembari menikmati indahnya pemandangan di sore hari. Sambil menulis diatas secarik kertas putih, sesekali aku meneteskan air mata yang sedari dulu aku pendam sendiri dan bisa jadi inilah puncak kesedihanku. Tanpa disadari jadilah sebuah cerita pendek pertamaku yang berjudul “Lihat Saja Nanti”.  Ya, naluri menulisku memang lumayan, tapi sayangnya aku malu untuk mempublikasikan karyaku pada khalayak ramai. Namun, sekaranglah waktunya untukku menunjukkan ini pada kedua orangtuaku. Iseng-iseng aku mengirimkan cerita pendek ini pada sebuah koran lokal.
Satu hari setelah mengirimkan cerita pendek itu tiba-tiba Ayah menemuiku lalu memelukku erat. “Kamu ternyata punya bakat menulis, Nak!” Ayah menatap mataku nanar. Suasana mendadak mengharu biru.
Aku terheran-heran, masih tak mengerti apa yang dikatakan Ayah. Perlahan  ia melepaskan pelukannya lalu menunjukkan sebuah koran remaja. Disana tercantum judul cerita pendekku, dan dibawahnya tertulis namaku. Oh ternyata cerita pendekku dimuat dalam koran tersebut!
Aku membalas tatapan itu. Ternyata semua terbukti, akhirnya aku bisa membuktikan bahwa aku bisa berhasil sukses dengan caraku sendiri.