Saturday, September 9, 2017

KULIP-KULIP

Tiga bulan kemarin, aku kerja jadi reporter magang di belia Pikiran Rakyat, sisipan koran remaja yang dimuat tiap hari Selasa. Buat kalian yang tau, belum tau, atau mungkin ada pertanyaan seputar kenapa aku bisa magang, gimana daftarnya, benefit yang didapat, atau cuma kepo aja soal keseruannya, here we go...!

Jadi, aku memutuskan untuk bikin series #journalistinsidescientistoutside, lucu-lucuan aja sih karena pengalaman selama liburan ini nggak bisa kalau nggak aku ceritakan hehe. Belum ditaro di blog karena... instagram dulu aja gak papa deh ya xD _ Kebetulan, aku baru aja diterima jadi reporter magang Belia Pikiran Rakyat. Rasanya seneng sih, pake banget, karena dari sejak SMP emang udah baca sisipan koran remaja tiap hari Selasa ini. Alasannya apa ya, mungkin karena waktu SMP-SMA sekolahku gak pernah kebagian diliput, tapi pas aku lulus, sekolahku cukup seringlah mejeng disana, minusnya gak ada aku hahaha. Namaku emang sempet muncul juga, dulu di kolom Suara Hati Pelajar yang sekarang rubriknya udah nggak ada. Terus pernah satu tulisan juga tuh dimuat, meski dari semua itu honornya nggak pernah diambil, karena belum dibolehin berangkat Cililin - Bandung kalau sendirian (dulu aturannya belum bisa transfer bank) wkwk. _ Dan, untuk yang pertama ini, agak telat posting karena ceritanya mau dipost tiap Selasa, tapi gak papa deh ya, seneng juga karena bener-bener dilibatin banyak dalam proses penggarapan kontennya. Aku aja takjub pas 6 Juni kemarin, emailku muncul disana (itu penanda siapa yang nulis rubrik tsb), perdana karena akhirnya muncul lagi di koran yeay! Dan iya, cewek kerudung merah yang ada di laporan utama itu diriku *meski tampak samping, haha. _ Oh iya, untuk kemarin aku baru nulis buat Laporan Utama dan Aksi, Alhamdulillah buat minggu depan udah dikasih kepercayaan buat nulis sekitar 5 rubrik. Magang disini buat ngisi libur sih, nggak berasa gawe karena orang-orangnya teh welcome banget, gak canggung kayak udah berasa kenal semuanya, meski reporter lama yang dulu kutau sejak SMP-SMA udah nggak di Belia lagi. _ Abis ini, mulai pedekatein anak SMP-SMA karena butuh sama mereka buat diwawancara. Merapat yuk dedek-dedekku 😚
A post shared by Asy-syifaa Hs || Acipa (@asysyifaahs) on

Lalu kenapa aku memilih menjadi seorang jurnalis?

Nggak bisa dipungkiri, ada dua alasan utama aku (nyoba-nyoba) ngisi waktu liburanku kemarin dengan magang reporter. Pastinya buat yang udah baca cerita ini, paham juga alasannya kenapa. Iya, aku menulis karena dua hal: untuk kesenangan dan uang. Well, aku nggak bisa menutup-nutupi poin yang keduanya sih, frontal mungkin ya apalagi buat seorang kreator apapun itu, kalau udah ngomongin duit gampang banget dicap materialistisnya.

Tapi aku nggak bohong, buatku ketika aku menyenangi sesuatu yang dari awal prosesnya sampai jadi hasilnya bikin aku senang, ada kepuasan yang nggak bisa diungkapkan, bahkan tanpa aku dibayar sekalipun! Aku bakalan semangat ngerjainnya meski mungkin aku tau apa yang aku lakukan (bisa jadi) ngerusak schedule atau malah buang-buang waktu karena realitanya nggak sesuai ekspektasi.

Nggak papa kok, selama aku menyenanginya, orangtuaku setuju-setuju aja :D

Monday, September 4, 2017

R E F L E K S I

Tujuh belas tahun aku menghabiskan waktuku, seingatku belum pernah ada hadiah yang benar-benar aku persembahkan untuk diri sendiri. Kalaupun ada, sifatnya disposable, sekali habis. Atau mungkin pernah, tapi tak seberkesan itu, karena aku mudah melupakannya, hehe.

Kali ini, aku memilih menceritakan tentang diriku dari yang aku tahu sendiri. Kalau teman-teman punya cerita lain, kolom komentar boleh diisi kok :)


Nama lengkapku Asy-syifaa Halimatusa'diah. Itu yang tertera di ijazah SMA terakhir, kalau ada pengejaannya yang berbeda, atau susunannya tidak seperti itu, intinya masih orang yang sama kok.

Nama Asy-syifaa berarti Penyembuh. Dulu, aku sering mengartikannya sebagai obat, tapi berkat suatu tulisan yang pernah kubaca, "obat belum tentu menyembuhkan". Makanya aku meneguhkan diri bahwa nama Asy-syifaa berarti penyembuh, di samping karena aku nggak suka obat, rasanya pahit! -__-

Halimatusa'diah adalah nama ibu angkat yang menyusui Nabi Muhammad sewaktu kecil. Nama tersebut berarti lemah lembut, santun, berkasih sayang, berarti juga orang baik.

Seingatku, Mamah sering bercerita asal-usul pemberian nama yang sempat berganti-ganti. Aku lupa apa saja nama itu, tapi yang kutahu, aku bangga dengan namaku yang sekarang. Ada doa yang sangat luar biasa yang kedua orangtuaku harapkan, menjadi orang baik dan penyembuh bagi orang banyak, termasuk diriku sendiri.

Friday, August 25, 2017

Sepenggal Kisah dari Mentor OSKM ITB 2017

Setahun yang lalu, 20 Agustus 2016, aku masih ingat hari itu adalah hari terakhir penyelenggaraan INTEGRASI ITB 2016. Euforia menikmati selesainya ajang kaderisasi awal terpusat untuk mahasiswa baru ITB saat itu bisa dibilang cukup meriah meski rasanya masih kurang greget alias "kurang merinding" saat digaungkannya Salam Ganesha di kawasan Saraga, Sabtu sore. Tapi nggak papa, hal itu nggak menyurutkan semangatku untuk ikut andil jadi mentor KAT ITB tahun berikutnya. Dan... voila! harapanku Allah kabulkan kembali. Alhamdulillah...

Wednesday, July 12, 2017

Pelajaran Jurnalis Pertama

Tidak ada hal di dunia ini yang diciptakan untuk disia-siakan, segala sesuatu berarti, menjadi suatu hikmah pembelajaran bagi seseorang, atau bahkan orang lainnya; entah untuk belajar dari masa yang lalu, untuk apa yang akan dihadapi hari ini, atau sesuatu yang datang sesaat lagi di kemudian hari.

Ciaaa...

Dibuka dengan kutipan yang endeuusss ala ala gitu ya, padahal aku gak berpikir tulisannya akan seafiat apa, wkwk.

So, aku memutuskan untuk mengalihkan serial #journalistinsidescientitsoutside di instagram, menjadi benar-benar tayang di blog ini. Tadinya ingin kuceritakan alasannya kenapa, tapi ya sudahlah nggak penting, hehe.

Serial ini sebenarnya bercerita soal langkah pencapaian tulisanku di berbagai kolom yang jadi tugas mingguan di belia Pikiran Rakyat, sisipan koran suplemen remaja yang terbit tiap hari Selasa. Tapi mungkin untuk tulisan di blog, bakal sekalian diiringi behind the scene proses terjadinya dengan satu yang jadi interest point. Semoga nggak ada yang protes *siapa juga yang akan*, dan ya... terimakasih sebelumnya sudah ada keinginan membaca ini :)

Sumber: unsplash

Friday, July 7, 2017

Kenapa Nggak Dot Com Lagi?

Dari hampir sebulan - dua bulan yang lalu, Qwords udah mewanti-wanti kalau di tanggal 6 Juli 2017, domain asysyifaahs.com bakal expired. Aku sendiri udah mikir dari lama sih, kapan domain pribadi ini bakal habis waktunya. Lama-kelamaan berasa keenakan juga, eh tau tau udah mau udahan, nggak kaget sih karena sering banget dapet reminder dari jasa penyedia hosting dan domain itu wkwk.

Sumber: pixabay

Dari sejak itu, aku mulai berpikir juga apakah aku bakal ngelanjutin setahun berlangganan atau nggak. Dulu sih, kenapa pengen punya dot com karena promonya lagi menarik, kalau nggak salah harganya sekitar IDR 50k gitu, bahkan makin kesini promo domain dot com bisa seharga 35ribuan aja. Sayangnya, harga segitu gak menetap, harga promo cuma berlaku di satu tahun pertama langganan, sisanya ya harga normal. Qwords sendiri ngasih tau tagihan yang harus kubayar adalah Rp135.000,- belum termasuk pajak dan pengurangan credit yang kupunya di akunku sendiri.

Wednesday, June 21, 2017

Dan Bandung bagiku...

"Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi." - Pidi Baiq

Dan Bandung bagiku adalah rumah, kemanapun kaki ini melangkah, Bandung lah tempatku kembali pulang.

Aku terlahir di sebuah desa yang dulunya disebut Bandung juga, kabupaten Bandung, yang lalu membelah diri menjadi kabupaten baru, Bandung Barat.


Pernah ada pertanyaan, apa bedanya Bandung tempat kelahiranku dan Bandung yang orang-orang kenal kebanyakan.

Sejujurnya, kami berbeda.


Yang diwalikotai oleh Bapak Ridwan Kamil, adalah KOTA BANDUNG.

Yang dibupatii oleh Bapak Dadang M. Naser, adalah KABUPATEN BANDUNG.

Dan yang dibupatii oleh Bapak Abubakar, adalah KABUPATEN BANDUNG BARAT.

Tapi dimanapun Bandungnya, hatiku tetaplah di tempat ini berada.


Bandung saat aku kecil, adalah tempat yang paling mengasyikkan untuk menghabiskan waktu dengan bermain hingga petang menjelang, sampai panggilan adzan menjadi pertanda aku harus kembali pulang.

Bandung saat aku remaja, adalah tempat yang menyenangkan untuk memupuk diri dengan segala potensi, menonjolkan diri di antara banyak pribadi, meski ada berbagai hal sedikit mengecewakan harus kuhadapi.

Bandung saat aku kini, adalah tempat yang cukup bagiku menjadi rumah, yang segala perasaan tertumpah-ruah, yang segala cerita pengobat hati, penawar rindu, dan penghilang sendu… tercukupi disini.


Aku mencintai pagiku di Bandung, yang sesekali terlambat karena nyala alarm seringkali tak berfungsi, dinginnya air yang sudah kutoleransi dengan berbagai derajat celciusnya bahkan mungkin angka yang menyentuh minus, hingga persiapan remeh-temeh yang kulakukan ketika jauh dari orang tua di rumah.

Aku mencintai kampusku di Bandung, yang jaraknya masih bisa terukur puluhan meter, dengan jalan bak kura-kura atau lari layaknya Bolt masih bisa ditempuh kurang dari 10 menit, serta segala cerita di dalamnya kan kutulis di lain kesempatan.


Aku mencintai perjalananku di Bandung, ke setiap sudut manapun itu, berbekal transportasi kekinian yang tak pernah membuatku pusing harus lewat mana jalan dan arahnya, yang kejadian-kejadiannya selalu tak terduga.

Aku mencintai jenis-jenis lampu di Bandung, yang sekali kena lampu merah maka harus selalu siap menemui lampu merah-lampu merah lain di perhentian berikutnya; keki dan jengkel bisa jadi, apalagi kalau harus terburu-buru saat pergi. Serta tak lupa, kerlip lampu jalanannya di malam hari, yang jarang kutemui saat di Bandungku dulu, ada pemandangan luar biasa yang bisa kunikmati, sembari menunggu lampu merah kan berganti lagi.


Aku mencintai Bandung dengan segala keragaman di dalamnya, barangkali jarang bagiku bertemu dengan orang-orang yang tak biasa kutemui sebelumnya, apakah memang Bandung cukup diisi dengan orang-orang ramah? Aku harap begitu.

Aku mencintai Bandung dengan semua sejarah yang dilaluinya, satu per satu belum pernah kujajaki, tapi mungkin dengan sekadar lewat di hadapannya sudah membuatku yakin, apakah memang Bandung begitu magis dengan daya tarik masa lalunya? Semua orang setuju.

Aku mencintai Bandung dengan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan dari kota lain. Jakarta adalah kota yang hebat, Jogja adalah kota yang ngangenin, Banjarmasin adalah kota yang kaya, dan semua kota-kota lainnya yang begitu luar biasa; dan Bandung punya semuanya.

Dan Bandung bagiku adalah awal, dimana aku memulai cerita; perasaan senang, sedih, tawa, tangis, suka, duka, ceria, haru, cinta, dan benci.

Dan Bandung bagiku adalah akhir, yang senantiasa kuharapkan menjadi tempat segala tujuan yang membuatku selalu mensyukurinya.


fin,

Acipa

Monday, June 19, 2017

Ketemu Gita Savitri Devi

Ada yang nggak kenal siapa itu Gitasav? Kayaknya sih ya, anak zaman sekarang mah sepengetahuan dangkalku, pasti kenal lah minimal siapa dia, ngapain kontribusinya terhadap dunia sosial media, apalagi kalo sampe tau akar-akarnya.

Sumber: @gitasav

Kalau belum tau, ketik aja di Google, beres.

Awal aku tau nama Gitasav itu dari Youtube, salah satu videonya lewat di berandaku, beberapa kali sampe akhirnya bikin aku nge-notice kalo ini vlognya orang Indonesia. Cuma nggak aku klik buat tau lebih jauh, gimana ya... tbh aku ngerasa underexpected sama vlogger-vlogger Indonesia yang maaf maaf nih, cuma ngikutin tren kekinian gitu, jadinya malah bosen wkwk *kayak acipa bisa aja sih elaaahhh*

Tuesday, May 30, 2017

Ketemu Oppa di Korea Selatan Yuk!

“Travel is the only thing you buy that makes you richer.” - Unknown

Percaya kan kalau boyband dan girlband K-Pop masih digandrungi orang-orang di Indonesia saat ini? Lihat aja, sekarang kita nggak cuma tau Super Junior, SNSD, Bigbang aja, tapi juga banyak banget idola-idola yang baru debut atau bahkan comeback lagi. Dan ngomongin soal budaya Hallyu, kita juga nggak bisa lepas dari tempat wisata di Korea Selatan yang punya daya tarik super ciamik buat dikunjungi. Makanya, ada banyak paket wisata yang bisa kita pilih buat datang ke Seoul yang jadi ibukota negeri ginseng ini.

Sumber: travel.cnn.com

Buy For Others, Cara Baru Belanja Online

Salah satu #ResolusiRamadhan yang sebenarnya nggak berbeda dan positif dilakukan banyak orang adalah sedekah. Siapa yang nggak tau kalau sedekah di bulan Ramadhan ini, pahalanya bakal dilipat-gandakan oleh Allah Ta'ala. Apalagi, kalau sedekahnya dengan ngasih makanan ke sesama, kita bisa dapet pahala double dan nambah sodara lho!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sumber: https://muslim.or.id/1282-dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan.html
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sumber: https://muslim.or.id/1282-dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan.html
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” 
(HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “hasan shahih”)
(HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Sumber: https://muslim.or.id/1282-dahsyatnya-sedekah-di-bulan-ramadhan.html


Nah, buat temen-temen yang bingung nih mau sedekah kemana, aku mau kasih tau salah satu wadah buat kalian nyalurin hasrat sedekah sekaligus 'online shopping'. Pasti pada hobi jajan di online shop kan? Gimana kalau sekarang keinginan itu ditularkan ke cara yang lebih berfaedah.

Emang ada? Ada dong!

Sunday, May 28, 2017

Ramadhan-nya Anak Kos, Wajib Banget Mandiri

Hari kedua puasa nih, gimana masih pada lancar kan? Semoga Allah jaga terus semangat kita sampai akhir untuk dapat merasakan hari kemenangan ya. Amin...

Dan di hari kedua ini juga, for the first time in my life... puasa jauh dari orang rumah. Hmm, gimana ya, seingatku aku nggak pernah ngejalanin puasa sendirian, maklum baru kali ini ngerasain jadi anak kos dan artinya buka puasa dan sahur harus mandiri nih.

Sumber: Brotherhood Arts

Jadi, kebetulan beberapa hari di bulan Ramadhan ini ada kegiatan yang harus aku lakukan di kampus, sifatnya wajib-wajib berfaedah sih. Makanya, meski kemarin Senin pulang untuk ngejalanin hari pertama puasa bareng keluarga, tapi setelahnya harus langsung balik lagi. 

Saturday, May 27, 2017

Bikin #ResolusiRamadhan Berbeda Positif Yuk!

Marhaban Ya Ramadhan... Alhamdulillah ya nggak kerasa ini hari pertama kita ngejalanin bulan Ramadhan 1438 H. Gimana nih perasaan temen-temen dikasih kesempatan mengecap bulan puasa lagi? Seneng dong ya pastinya, Alhamdulillah 😇

Tapi, aku pengen nanya deh, gimana sih rasanya kalau seandainya ini jadi Ramadhan terakhir kalian? Dan apa yang bakal temen-temen lakuin untuk ngebuat Ramadhan tahun ini "berbeda positif" dibanding Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang pernah kalian jalani? Boleh lho dijawab di kolom komentar.

Sumber: Brotherhood Arts

Beberapa hari yang lalu, aku baru dapat handbook Extraordinary Ramadhan, disitu pembukanya bikin #jleb banget. Dan pembuka itulah yang akhirnya bikin aku mikir keras, kalau ini jadi Ramadhan terakhirku, aku harus gimana? Cemas? Takut? Atau ngapain, ya kan?

Wednesday, May 24, 2017

FREE Handbook Extraordinary Ramadhan

Jadi, sudah H- berapa Ramadhan ya? Wah, nggak kerasa banget tau-tau udah mau bulan puasa lagi aja. Biasanya sebelum Ramadhan, ada tradisi-tradisi tertentu yang dilakukan banyak orang, apapun namanya kegiatan tersebut bisa juga jadi persiapan, pemanasan karena artinya kita siap untuk reborn kembali di bulan suci ini.

Nah, sebelum Ramadhan ini aku juga dapat info yang bermanfaat banget. Terimakasih untuk seseorang yang kulupa siapa dia yang waktu itu sempat kirim broadcast-an lewat grup LINE. Berkat dia, aku tahu keberadaan akun instagram bernama @extraordinaryramadan dan yang menariknya adalah... mereka dengan sukarela membagikan jurnal Ramadhan yang disebar secara gratis di laman blognya.

Wednesday, May 10, 2017

Volunteer Bina Antarbudaya Chapter Bandung

Dulu, aku semangat banget untuk bisa ikut seleksi pertukaran pelajar AFS/YES. Tapi, karena syarat pertamanya mengharuskan siswa kelas 10 SMA kelahiran 1997 - 1998, aku nggak bisa mengusahakan apapun untuk hal itu. Makanya, karena ngerasa ditolak duluan aku memantapkan diri untuk bisa jadi "orang di belakang layar" yang ngebantu adik-adik SMA yang menjalani student exchange nantinya.

And now, harapan itu terwujud, aku jadi salah satu relawan untuk Bina Antarbudaya Chapter Bandung yang berafiliasi dengan American Field Service untuk memberangkatkan putra-putri terbaik bangsa ini ke berbagai negara di dunia. Buat yang belum tahu apa itu AFS dan Binabud, bisa mlipir dulu ke laman yang satu ini.

Setelah menunggu sekian lama *eaaa*, beberapa waktu lalu @binabudbdg dalam akun instagram-nya mem-posting rekrutmen terbuka untuk jadi bagian mereka. Rasanya seneng banget, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga. Seleksinya nggak susah kok, cuma memang dari sejak pendaftaran agak lama harap-harap cemas menunggu pengumuman apakah aku diterima atau nggak. Karena kalau ditolak lagi, bakal sedih banget hahaha 😆

Waktu lagi makan, ikan dori matah dari Fifteen Cafe lumayan recommended lho!

Sunday, March 19, 2017

Boleh Duduk Sebentar?

Barangkali aku cukup banyak belajar dari semester pertama tentang berbagai hal. Satu yang aku kagumi atas diriku sendiri adalah, aku mulai bisa memilih apa yang baik menurutku. Mungkin terkesan narsis banget, tapi percaya atau nggak ini adalah kemajuan yang aku syukuri.

Kalau kamu sempat membaca tulisanku ini, pasti tahu aku adalah tipe orang yang nggak begitu optimal menjalani enam-bulan-pertama sebagai mahasiswa baru. Maksudku, IP yang kudapatkan mediocre banget, mungkin salah satu sebab gagalnya adalah ekspektasiku yang kadang naik-turun, dan iya... kenyataan yang kudapatkan di bawah harapanku yang sedang-sedang saja itu, ya makanya hasilnya segitu. Jadi, ya sudah, nggak usah bahas-bahas IP, sensitif.

Di setengah semester ini, aku masih menyadari aku sama nggak maksimalnya, tapi at least... aku sadar lebih dini. Kadang, aku harus memuji hal-hal gini supaya bisa memuaskan hati sendiri. Narsis lagi kan? Bukan apa-apa, tapi reward dan punishment yang diajarkan seseorang padaku, cukup ampuh untuk mendoktrin diri.

Thursday, February 16, 2017

Mager? #KurangPiknik? Jalan-Jalan Aja Yuk!

Pernah nggak sih rasanya mager banget seharian, nggak tau mau ngapain, ngerjain ini males, ngerjain itu ogah, udah layak banget disebut hidup segan mati tak mau kan? Saking magerannya, segala hal jadi gak berarti apa-apa lagi. Hal-hal penghibur diri yang biasanya dilakuin dengan asyik pun jadi gak kerasa seru deh. Terus, apa ya sebabnya? Waaah, bisa jadi itu karena #kurangpiknik tuh!

Tapi nih, ibarat air di tengah padang mahsyar pasir, ada aja kesenangan yang timbul di tengah kemageran tersebut meski itu hal kecil bahkan amatlah retjeh. Weits, jangan salah, contohnya nih kayak hari Rabu kemarin yang harus banget disyukuri karena kegiatan pemilu yang dilaksanakan di cukup banyak daerah bikin Bapak Negara mutusin kalau 15 Februari jadi hari libur nasional. Eh, terus katanya Pilgub Jakarta ada putaran kedua? Kuyy aja sih kita mah, apalagi kalau jadi hari libur lagi, mau ampe puteran 30 juga dijabanin 😜

Ngomongin liburan, Kamis ini sebenarnya agak kejepit banget sih, soalnya masih ada kuliah, padahal kalau kosong bisa banget dipakai buat libur (agak) panjang, kan lumayan ya. Nah tapi kan nggak seru tuh kalau liburannya disini lagi, gimana kalau liburannya ke luar kota, bisa nggak ya? Bisa banget dong, pastinya! Kan sekarang ada banyak mode transportasi, mau pakai jalan darat, laut, udara, sampai ngelayang ke khayangan dianter Mimi Peri juga ada aja tuh 😂

Sunday, February 12, 2017

Untukmu yang Sedang Aku (Coba) Perjuangkan

Kepada satu hal yang sejak wacananya diterbitkan di papan pengumuman LTPB,

Belakangan, aku harus jujur pada diriku sendiri, niatan awalku menjadikanmu pilihan bukanlah suatu keinginan yang maha besar yang ada dalam diriku. Kamu tahu kenapa? Karena ada pilihan lain yang nyatanya lebih tepat untuk kuambil. Tapi tidak, aku membohongi diriku sendiri. Dan entah harus bahagia atau sedih, kau benar-benar menerima 'pinangan'-ku.

Hari-hari pertama, keantusiasanku amatlah memuncak, bukan karena dirimu, tapi apa yang berada di belakangmu, embel-embel kebanggaan yang pastinya dimimpikan banyak orang. Aku merasa..., aku terlalu beruntung (?) Entah harus kukatakan apa, padahal bisa jadi, ada yang lebih benar-benar menginginkanmu.

Hari-hari selanjutnya, rasa gembira itu menurun, berbanding terbalik dengan jumlah waktu yang kukeluarkan untukmu. Kamu tahu kalau itu rasanya seperti buang-buang waktu saja kan? Andaikan saja sejak awal aku tak benar-benar memilihmu, bukan tidak mungkin aku bisa lebih bahagia dengan yang lain, bukan tidak mungkin ada orang yang lebih tepat untukmu yang bisa bahagia karena dan bersama kamu.

Tapi, jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku tak pernah benar-benar ingin melepasmu.

Saturday, February 11, 2017

Jangan Mengagumiku, Cukup Aku

Menggulir layar beranda media sosial adalah kebiasaan burukku yang belakangan sering aku lakukan. Bukan apa-apa, aku pikir itu bisa jadi hiburan di tengah kesibukanku sekarang. Padahal, aku sadar dari situlah sumber kelelahanku berasal. Hampir dua minggu ini kebiasaan itu masih saja menggangguku. Tapi, aku bersyukur, pagi ini, baru saja, belum sekering jemuran yang kucuci, linimasaku mengingatkanku akan satu acara tahunan yang hanya ada tiap bulan Februari, #30HariMenulisSuratCinta. Dulu, entah tahun ke berapa, aku pernah ingin mengikutinya, tapi dasar si perfeksionis ini baru tahu di tengah jalan, malas kalau harus menulis tidak dari awal. Tapi kalau tidak salah, aku pernah menulisnya juga--tidak di bulan Februari, dua surat untuk dua orang yang teramat kusayangi, ini dan ini.

Tahun ini, programnya bernama #PosCintaTribu7e, apapun bentuknya, meski terlambat tiga hari dari yang seharusnya, aku mencoba memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk menulis surat-surat yang selama ini kupendam di hati dan buku harianku. Maka, untuk surat pertama ini, aku tahu kalau kata-kataku menjemukan, masih pemanasan karena harus terbiasa menulis lagi. Teruntuk orang pertama yang menjadi tujuan dari kemana seharusnya surat ini dikirim, maaf kalau tulisanku tak bagus.

***

Friday, February 3, 2017

Yeay ke NET, Media Visit bareng Radio Kampus ITB

Beberapa waktu lalu, tepatnya di hari Jumat, tanggal 20 Januari 2017, aku berkesempatan untuk berkunjung ke salah satu stasiun televisi terkece di Indonesia yang dulu bahkan cuma jadi angan aja di benakku, apalagi kalau bukan Net Mediatama Indonesia!

Jadi, kunjungan tersebut dalam rangka Media Visit 2.0 dari Radio Kampus ITB. Awalnya aku sempat daftar cuma karena sistemnya first pay first get, kuota yang tersedia full booked *fyi, media visit ini berbayar lho ya 💁 Sedih dong, eh tapi bukan anak sholehah namanya kalau nggak dapat rezeki, ternyata ada yang ngebatalin dan akhirnya aku ngegantiin slot yang kosong. Makasih lho...

Monday, January 2, 2017

2017, Definitely Gonna Be My Year

Seperti kebanyakan orang yang merayakan tahun baru, nggak ada salahnya buatku ikut merasakan euforia ini. Meskipun, di malam detik-detik pergantiannya nggak ada kegiatan yang umumnya orang-orang lakukan—new year party etc—aku berusaha untuk juga mengevaluasi diriku di tahun 2016 dan harapan untuk 2017 ini 🙂

Well, kadang lebih banyak lupanya tentang apa aja yang udah dilewati di tahun 2016, cuma beberapa pengalaman yang pastinya benar-benar diingat karena hal-hal tersebut adalah sesuatu yang beda dan paling menonjol dibanding lainnya. Dari sekian itu, jelas yang paling gampang adalah saat aku menambah kata “maha” dalam status “siswa”-ku, ehem. Nggak bisa dibilang hal yang luar biasa juga sih, tapi buatku itu memang semacam starting point.

Berhubung aku nggak punya alur khusus bagaimana biasanya (atau seharusnya) orang-orang mengevaluasi diri di tahun ini, aku coba ambil contoh dari salah satu section yang ada di majalah Gogirl! Desember 2016. Here we go~

Sunday, January 1, 2017

Cerita dari Satu Semester

Dari tahun lalu—hari di 2016 maksudnya, desakan untuk segera menulis cerita ini sudah memuncak. Ada satu beban tersendiri kalau di 2016 aku nggak menceritakannya—dan baru sempat ku-publish di tahun berikutnya. Bukan sesuatu yang dipaksakan sih, tapi tekanan yang aku nikmati karena proses yang kulalui selama beberapa bulan ke belakang cukup aku senangi.

Aku nggak pernah berpikir untuk menuliskannya di blog, selain janji-janjiku di caption instagram yang membuatku rindu untuk bersua dengan blog ini. “Nanti ya, kalau sempat, kalau inget, kalau ada yang mau baca,... kalau lagi ujan!” Hari ini nggak lagi hujan, sempat atau nggak sejujurnya selama ini aku selalu punya banyak kesempatan, masalah mau menggunakannya untuk menulis itulah yang nggak pernah aku manfaatkan dengan baik. Kalau ingat, tentulah sekarang lagi ingat, dengan sadar aku menulis ini. Terakhir, perihal ada yang mau baca atau nggak, aku nggak lagi mengkhawatirkannya secara berlebihan.

Jadi gini...