Saturday, January 31, 2015

Ma

Kepada pemilik rahim yang mengandungku,

Selamat pagi, aku disini sedang menulis surat untukmu. 10 km dari tempat yang kita sebut rumah dan di sela waktu istirahat sekolah, aku disini sedang menulis surat untukmu. Maaf tanpa dirimu tahu, aku sedikit moodie menghadapi pelajaran hari ini. Bukan karena apa, hanya saja pembelajaran ini tak begitu kupahami betul. Maukah dirimu jadi guru sepanjang hidupku?

15 tahun kita bersama, tanpa pernah sekalipun terpisah jauh dan terpisah lama. Bosankah aku? Mungkin. Tapi, bosankah dirimu? Pasti tidak! Aku ingat betul bagaimana dirimu memperlakukanku selama ini, dan baru kupahami sekarang, aku sadar bagaimana cara khasmu menghadapi sifat dan watakku selama ini.

Saat aku bertanya, “Kenapa harus nama Asy-syifaa?”. Kadang dirimu berdiam sejenak, mungkin berpikir atau entah apa, menyusun kalimat per kalimat seperti apa yang harus kau ucapkan ketika menjawab pertanyaan kecilku. Aku tak sabar, lalu pergi meninggalkanmu.

Namun, saat pertanyaan itu baru saja kuajukan beberapa hari yang lalu, kau dengan mantap menjawab,

“Asy-syifaa itu artinya obat…,”

Namun belum selesai dirimu jawab, aku menyela potongan pembicaraanmu.

“Aku nggak suka obat, pahit!”

“Asy-syifaa juga berarti penenang hati…,”

“Berarti aku obat penenang gitu?”

“Asy-syifaa itu artinya obat penenang hati, doa kami hanya ingin kamu jadi anak yang bisa menenangkan hati banyak orang. Mungkin tidak dengan cara yang kebanyakkan orang lakukan, tapi kami tahu kamu punya cara sendiri. Kami juga berharap kamu sebagai obat penyembuh dari setiap luka, apa pun itu.”

“Lha, aku nggak minat jadi Dokter kok!”

“Walaupun seringkali kamu membuat jengkel kami, tapi kami bahagia, kamu tetap yang terbaik bagi kami.” Katamu tepat, tepat sasaran mengenai hatiku, namun setelahnya kau malah bergelak tawa dengan orang ini.

Aku pun ikut tertawa, di balik kenyataan bahwa sampai saat ini aku sedang berpikir setiap kalimat demi kalimatmu dalam menjawab pertanyaanku. Benarkah sampai dirimu berpikir demikian?

Orang yang kupanggil dengan sebutan Mamah,

Aku tak begitu tahu harus menyusun seperti apa surat ini. Kalau aku menulis bagaimana cerita kita, aku tak yakin kau bisa senang, karena itupun sama saja melihat ke belakang dan mungkin kau masih ingat. Percuma kah?

Surat ini akan pendek kurasa, karena tanpa diminta pun dirimu tak pernah suka aku melakukan hal-hal seperti ini. Kau terlalu khawatir kelak aku bisa dan seperti apa nantinya. Maka Ma, doakan dan restui aku melakukan apapun selagi aku sanggup dan bermanfaat untukku. Jangan pernah khawatir, karena kini gadis kecilmu yang dulu dipapah, telah tumbuh menjadi gadis remaja yang semoga tahu dan siap menghadapi dunianya.

Ia mungkin belum dewasa, apalagi mempunyai pemikiran sebrilian dirimu. Belum, belum saatnya. Tapi sungguh, ia telah siap bahkan umurnya yang masih sangat belia ini. Mamah tak perlu khawatir, namun… ia hanya meminta tolong ketika suatu saat kelak ia terjatuh, tersungkur, tersandung, hingga menangis, angkat dia, usap air matanya, beri ia semangat, dan doakan semoga kelak ia bisa berdiri lebih hebat dan lebih kuat lagi. Mungkin ia akan takut berjalan sendiri, maka tak apa bila nanti kau menemaninya.

Untuk sembilan bulan ketika Tuhan memberi ruh,

Aku mungkin bukan anak yang bisa kau banggakan, pada saudara-saudaramu, pada keluargamu, pada orang-orang, dan pada dunia. Aku tidak seperti itu, tapi kalau boleh, bolehkah kebanggaan ini bisa menjadi milikmu? Aku tak meminta kau memberitahukannya pada dunia, itu tak perlu. Karena cukup bagiku, kau menangis bahagia jika kelak semua yang telah kau lakukan tak pernah sia-sia, InsyaAllah.

Ma, bolehkah aku menyudahinya? Kalau kau mau, aku bisa setiap hari menulis surat-surat seperti ini. Tapi, bila itu harus ditunjukkan pada orang-orang, aku belum siap.

Ma, terimakasih.

Love.

by.asysyifaahs♥

#1Day1Dream The Last One, The Big One, The Dream One!

Sebelum hari dan bulan berganti, izinkan aku menulis kembali apa yang telah kulakukan sebulan ini. Mungkin tak seberapa, mengingat aku seringkali “bolos” dan membayarnya keesokan harinya. Jadi, maaf kalau di hari terakhir pun aku masih saja seperti itu, keadaan yang memaksa demikian.

Aku lupa mimpi-mimpi apa saja yang telah kutulis dan kuceritakan pada kalian. Kalau tidak salah, ada lima Kawancut yang menulis kembali cerita mimpiku. Terimakasih, aku janji setelah #1Day1Dream selesai, akan ada kelanjutan dari cerita yang kalian tulis. Tunggu ya!

Sekali lagi, di tengah sibuknya kegiatan di sekolah yang masih berlangsung hingga aku mengetik tulisan ini, aku bimbang menentukan mimpi mana yang benar-benar ingin aku wujudkan.

Sumber disini

Aku tak pernah tahu apa sebenarnya mimpi besarku karena dari sudut pandangku, mimpiku tidak sebesar harapanku untuk mewujudkannya. Aku masih terlalu takut—kalau boleh jujur—cemas menghadapi dunia yang mau tidak mau harus dan pasti kujalani di kemudian hari.

Aku masih khawatir kalau-kalau mimpi-mimpi itu tidak terwujud, aku takut kedua orangtuaku kecewa, aku takut pada keberanian dari teman-temanku, dan aku takut akan pendapat orang-orang yang mungkin saja mencibirku suatu hari nanti. AKU MASIH TERLALU TAKUT!

Iya, aku tidak seperti aku yang kalian baca dari tiap tulisan-tulisanku, aku tidak seperti aku yang kalian dengar dari tiap kicauanku di berbagai media. Aku tak seperti itu, aku… aku masih belum bisa.

Ini sedikit berlebihan, tapi mengertikah kalian rasanya takut dan was-was pada hal-hal yang bahkan tak patut dicemaskan? Itu menyengsarakan, sungguh. Kadangkala aku berkeinginan kuat untuk keluar dari kurungan rasa takutku sendiri, tapi aku belum sanggup.

Maka, jika ditanya apa mimpi besarku yang ingin sekali diwujudkan dalam setiap hal dan waktu kapan pun, aku bersedia menjawab bahwa aku tak ingin punya rasa takut lagi pada mimpi-mimpiku. Aku nggak mau takut lagi, aku nggak mau hanya karena aku takut lantas aku nggak bisa mencapai hal-hal yang kuimpikan, aku nggak mau hanya karena aku takut hingga aku membiarkan dan mengabaikan mimpi-mimpiku sendiri, aku nggak mau takut lagi           

Perasaan seperti ini lumrah bagi manusia, dan itu merupakan kodratnya. Bahwa setiap manusia pasti selalu punya rasa takut, terlebih takut pada Tuhan-Nya, Tuhan Yang Maha Besar. Kita, manusia, memang harus takut pada-Nya, agar kita tahu bahwa keberanian kita tak pernah sekalipun melampaui rasa takut kita pada Tuhan. Percayalah, saat kita merasa takut pada Tuhan, saat itulah kita yakin bahwa kita manusia yang berakal. Tahu sampai mana harus menggunakan kekuatan untuk mengalahkan ketakutan kita sendiri.

Maka, saat menulis mimpi ini (aku menulisnya di dalam kelas perkemahan, di mana para peserta sedang menjalankan kegiatan lain; perlu diketahui bahwa aku sendirian di sini), aku ingin tak lagi merasa takut. Pada mimpi-mimpiku terutama.



Aku tak ingin aku merasa takut untuk memimpikannya, mengusahakannya, meraihnya, mencapainya, hingga mewujudkannya. Mimpiku tak seberapa, lalu mengapa aku harus takut kalau mimpi-mimpiku saja kecil? Impian yang kecil saja kadangkala membuatku takut, bagaimana dengan impian-impian besarku ya? Akankah aku merasa lebih dan sangat takut?

Jadi, tolong dan kumohon, ketika suatu saat si penulis cerita ini merasa takut terhadap mimpinya sendiri, jewer saja dia. Katakan padanya bahwa dia pernah berjanji pada kalian bahwa dirinya tak akan pernah takut mencapai mimpi-mimpinya, mimpi kecil maupun mimpi besarnya. Katakan juga padanya bahwa ia pernah berkata dengan pasti bahwa ia harus melawan ketakutannya sendiri, sebesar apa pun itu—kecuali rasa takut pada Tuhan ya.

Kalau ia berkhianat, sesekali kalian boleh menyindirnya, baik dengan cara halus atau kasar sekalipun. Mungkin, dalam beberapa waktu ia perlu diberi pelajaran, agar tahu bahwa dirinya perlu ditempa sedemikian rupa supaya ia lebih kuat lagi.


Ketakutan itu pasti ada, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin menghilangkannya. Target pencapaiannya memang tidak jelas, kapan tercapai, kapan terwujud, dan kapan impian itu sudah selesai dilaksanakan memang masih belum kupikirkan. Tidak ada rentang atau target waktu sekalipun yang ingin kupasang demi memenuhi impian semacam ini. Tapi percayalah padaku, bahwa aku mampu mencapainya.

Untuk kalian juga, selamat mencapai mimpi-mimpi kalian—tak perduli seberapa besar kecilnya mimpi itu, tetaplah bermimpi dan capai hingga terwujud. Karena seperti yang telah kukatakan sebelumnya, saat bermimpi kalian harus bertanggung jawab terhadap mimpi-mimpi kalian. Kalau tidak bisa bertanggung jawab, maka jangan pernah berani untuk bermimpi. Doakan untukku juga ya ^_^


…dari kelas perkemahan, akhir Januari setelah projek bersama ini selesai, aku juga ingin bermimpi dan terus bermimpi.


by.asysyifaahs♥

Friday, January 30, 2015

#1Day1Dream Primadita Rahma Ekida

Waktu berjalan dan sudah sekitar satu tahun ini aku mengenal orang tersebut. 2 Januari tepatnya, hari kedua sebuah blogger project pertama yang aku ikuti selama ngeblog sejak 2012 membuat perkenalan kami terasa mendadak. Nggak ada yang tahu kalau dengan perkenalan tidak sengaja itu malah membuatku jadi makin ingin mengenalnya, kalau boleh.

Siapa yang nggak tahu Primadita Rahma Ekida? Oke, banyak sebenarnya prestasi yang sudah dia raih, dan saat ini dia jadi project manager untuk #1Day1Dream. Tidak, kali ini aku nggak bakal banyak bercerita tentangnya, tapi kalau aku kebablasan, bukan salahku ya :D

Kalau diceritakan semua hal yang sudah umum, pasti sudah banyak yang tahu. Jadi, aku ingin mencoba menceritakan mimpi ala Kak Prima dari sudut pandangku. Terkesan subjektif, tapi ya suka-suka aku dong, kan yang nulis aku

Jika ditanya apa mimpi besar Kak Prima, tahukah kamu? Kalau kamu tahu, berarti kamu benar-benar mengenalnya. Sayangnya, sebuah pertanyaan bagus seperti itu, malah mendapat jawaban “Aku gak tau. Hahahahaha.” Is kidding me? Bukan, bukan merasa nggak puas terhadap jawaban tersebut, apalagi sampai marah, hanya saja… mungkin Kak Prima punya banyak mimpi, dan hampir semuanya berupa mimpi besar yang ia miliki. Mimpinya besar, itu yang aku suka!

Namun, di balik seseorang yang hebat tentu selalu ada tantangan yang lebih hebat pula. Di satu sisi, Kak Prima selalu merasa waktu 24/7 terlalu sayang jika hanya digunakan untuk sebagian hal saja. Namun di sisi lain, Kak Prima juga bisa ingin fokus dan memberikan kemampuan terbaiknya dalam satu dan segala hal. Bukankah kita juga sering mengalami hal demikian?

She want to gain more, achieve more, and get more. Itu nggak salah, dia berusaha fokus pada satu hal, misalnya di bulan Januari ini berusaha fokus pada #1Day1Dream, namun di waktu yang sama pula dia juga harus mengurusi hal-hal penting lainnya yang pasti lebih baik untuk masa depannya sendiri.
Menurutmu, siapa sih muse inspiratif dari sosok inspiratif Kak Prima ini? Kebayang nggak sih, orang seinspiratif Kak Prima punya role model tersendiri? Ibaratnya, aku yang dapat inspirasi dari Kak Prima aja berada di hierarki terbawah orang-orang inspiratif itu. Hehe…

Oki Setiana Dewi, Kak Prima menyebutnya she breath, talk, do dakwah, with an easy and fun way. Ya, salah satu impian terbesarnya dia ingin bisa seperti Kak Oki, sosok ustadzah-muslimah yang benar-benar inspiratif juga menurutku. Berbeda dengan Kak Oki, Kak Prima tentu punya cara tersendiri untuk melakukan “an easy and fun way to do” seperti itu, yakni salah satunya dengan blog. Dakwah bisa saja menyasar ke kalangan umum—Kawancut misalnya—karena sebenarnya itu juga berupa value dalam dakwah.

Blog adalah media yang paling menonjol di mana ia bisa banyak berbagi cerita di sana. Blog itu mudah diakses, gratis pula. Itu yang dikatakannya, dan benar… perkembangan zaman sudah berjalan cepat, dan orang-orang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan kecanggihan teknologi. Dan Kak Prima, memanfaatkan hal tersebut sebaik mungkin, sebaik yang ia bisa menebar kebaikan pada banyak orang.

Aku kagum sama Kak Prima, benar-benar kagum. Kalau boleh pun, ingin menjadikan Kak Prima sebagai role model, memang nggak semua hal yang ia lakukan pasti aku lakukan, setidaknya beberapa yang pernah ia lakukan juga bakal aku lakukan. Tidak hanya cantik, tapi juga benar-benar menakjubkan, she’s a wonderful woman in everything, actually.

Sumber Facebook Primadita

Terimakasih sudah menebar kebaikan sampai sejauh ini walau Kak Prima bahkan belum mengenal banyak tentangku dan orang lain yang mendapat kebaikan itu. Terimakasih sudah banyak memberi inspirasi dan motivasi besar dalam hidupku dan orang-orang lain. Terimakasih sudah menjadi seperti Kak Prima yang sekarang, aku mungkin nggak bisa membalasnya karena… #daakumahapaatuh mana mungkin bisa membalas inspirasi dari Kak Prima? Hehe…

“Syifa buat aku anak yang bersemangat, berdedikasi, passionate. Udah mulai kelihatan kesukaannya apa. Yang fokus ya Sayang, biar segera kelihatan keberhasilannya”. Dan terimakasih untuk ini, kalau bersedia… jadikan aku adik yang bisa dibagi cerita Kak Prima padanya dan bisa aku curhati cerita-ceritaku dan bagaimana harus menghadapinya. Semoga perkenalan kita nggak cukup sampai di sini, semoga makin banyak momen-momen yang bisa kita lewati dan aku bisa mengambil hikmah di dalamnya. Thanks a bunch, Sister ^_^

by.asysyifaahs♥

A... untuk Abah #30HariMenulisSuratCinta

Kepada Ayah yang malam kemarin berdiskusi denganku,

Selamat pagi Abah, sebelum berangkat sekolah di hari Jumat, aku ingin menulis surat pertama ini untukmu. Dari dalam kamar milik gadis perempuanmu satu-satunya, aku sedang mendengar Abah berbincang dengan Mamah. Entah tentang hal apa, aku tak begitu menyimaknya dengan baik--toh, seorang anak tidak patut nimbrung pembicaraan orangtua kan, terkecuali jika kami diizinkan? Bukan begitu yang Abah ajarkan padaku dulu?

Entah harus kumulai dari mana, semua hal yang kita lakukan selalu menyenangkan. Sejak kecil, aku memang lebih dekat dengan Abah, begitupun sampai sekarang. Aku ingat tentang bagaimana Abah saat aku kecil mencari kerja, menjadi buruh, pekerja lepas, hingga sekitar tahun 2006 Abah bisa dipercaya untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik pun lebih layak. Haruskah kuucapkan terimakasih untuk itu? Berkatmu, kami semua, aku, Mamah, dan Ikmal bisa hidup lebih baik dan semakin baik hingga sekarang. Terimakasih.

Abah adalah sosok orang yang kukagumi, laki-laki pertama yang selalu sigap melindungiku dan laki-laki yang takkan pernah mengkhianatiku. Abah juga bukan orang PHP yang sama seperti lelaki yang pernah kukenal sebelumnya, Abah ada untukku.

Meski sering ditinggal 3 bulan untuk pergi ke daerah di seberang sana, tak apa. Tak apa bila dengan begitu Abah bisa melakukan hal yang terbaik bagi kami. Rindu tidak hanya sekadar rindu karena sekarang teknologi informasi menjadi hal terbaik untuk kita bercakap-cakap walau via telepon. Aku senang hari ini Abah bisa pulang, meski hanya mendapat jatah cuti tidak lebih dari 3 minggu, aku bersyukur Abah masih sehat.

Abah yang kemarin malam berdiskusi tentang masalah ekonomi denganku,
Apa rasanya berbagi ilmu dan berbagi cerita dengan gadismu? Menyenangkan kah? Membosankan kah? Atau malah membuatmu mengantuk karena aku terlalu bertele-tele dalam bercerita? Saat topik awal membahas ini, sudah bisa dipastikan ceritaku akan merambat ke mana-mana, tersebar, dan meluas, hingga acap kali Abah lebih memintaku menyampaikan kesimpulannya saja. Hihi... maafkan anakmu ini ya, mungkin aku mendapat kebiasaan ini agak berlawanan denganmu.

Kemarin malam kita berbincang soal masalah ekonomi. Agak cukup berat sebenarnya pembahasannya, tapi entah kenapa kalau berdiskusi denganmu, semua terasa lebih ringan. Tidak ada rasa aku takut salah mengutarakan pendapatku, karena Abah benar-benar menghargai setiap pembicaraanku. Kemarin Abah bertanya, "Icha (panggilan kecilku) tahu soal inflasi?". Namun seketika itu juga aku malah bingung, jangan-jangan Abah mau mengetesku karena aku bakal ikut Olimpiade Ekonomi ya? Atau jangan-jangan Abah tahu kalau bahasan materi Ekonomi di kelasku juga sedang mempelajari masalah inflasi? Haha...

Walaupun sedikit bingung harus menjawab seperti apa--apakah harus seperti caraku menyampaikan materi pada teman, atau pada orang lain--aku mencoba menjelaskannya padamu. Tentang inflasi, masalah ekonomi yang mendera di Indonesia akhir-akhir ini, soal saham, obligasi, dan hal-hal seputar itu yang kuyakin caraku menyampaikannya kurang baik. Apa Abah paham maksudku? Hehe...

Aku juga nggak bertanya kenapa Abah bisa tiba-tiba membicarakan tentang hal itu, atau mungkin Abah berminat beli saham? Atau perusahaan Abah sedang terkena masalah soal obligasi? Hmm... kuyakin semua bisa bermanfaat, baik untukku sendiri maupun untuk Abah. Semoga.

Untuk Abah yang selama ini menyayangiku,
Terimakasih untuk segala-galanya. Walaupun kuyakin Abah nggak akan membaca surat anakmu ini, tapi kutahu Abah paham bagaimana rasa sayang dan hormatnya aku pada dirimu. Kalau anak-anak teman Abah punya cara umum menyayangi Ayahnya, maka aku punya cara tersendiri bagaimana aku berlaku kepadamu. Mungkin sedikit berbeda, tapi semuanya tetap sama, aku menyayangimu.

Lots of love,


Gadis kecilmu

Pic from here

by.asysyifaahs♥

Thursday, January 29, 2015

#1Day1Dream Salsa Putri Sadzwana

People say, age is just a number. Nggak ada pengaruhnya sama sekali terhadap hal-hal yang bisa dilakukan seseorang. Orang-orang yang memiliki umur di bawah kita, siapa tahu bisa lebih hebat melakukan hal yang nggak bisa kita lakukan. Kalau kata anak-anak DARR sih, Jangan Remehkan!

Sumber Facebook Salsa

Salsa Putri Sadzwana adalah salah satu penulis cilik yang menjadi kebanggaan Indonesia. Anak SMP yang akan menghadapi UN ini ternyata sudah memiliki 5 karya dalam bentuk buku lho, yaitu KKPK JuiceMe: Tersandung Hobiku, PCPK My Spooky Moment, PCPK Pesulap Misterius, Komik Fantasteen Vol. 14: Red Midnight Vampire, dan yang baru-baru ini terbit adalah buku berjudul Spooky Stories Revenge.
Nah tuh, siapa yang nggak takjub melihat karyanya sudah lahir di usianya yang bahkan masih sangat belia? Kalau dibandingkan sama aku, udah pasti Salsa lebih baik kalau soal karya dalam buku-bukunya.

Aku kenal Salsa secara nggak sengaja lebih tepatnya, namun ketidaksengajaan itu malah bikin aku kenal cukup baik dengan Salsa. Bahkan, aku ngerasa kayak punya adik baru, aneh aja rasanya saat beberapa waktu lalu aku dikasih tahu kalau bukunya sudah terbit. Rasanya bukan iri, lebih kepada bangga bahwa aku punya adik yang jadi penulis. Hehe...

Sebagai penulis cilik, mimpi adikku yang satu ini juga nggak jauh-jauh tentang dunia perbukuan. Salsa pengin dia bisa nulis lebih banyak lagi buku dan bukunya bisa dijadikan sebuah film. How amazing, right? Aku dukung banget nih soal mimpinya, karena kalau dipikir-pikir Indonesia udah jarang punya film anak-anak berkualitas, khususnya yang diangkat dari buku anak karya anak-anak Indonesia sendiri. Yah, siapa tahu suatu saat ada produser atau sutradara yang mau menjadikan buku karangan penulis cilik Indonesia sebagai ide cerita dari film. Amin...

Sama seperti penulis pada umumnya, kendala yang biasa Salsa hadapi juga banyak, semacam write block dan moodie itu jadi virus yang paling sering banget menyerang ketika dia lagi nulis. Yang aku suka dari dia adalah, dia kadang memaksakan diri untuk tetap menulis—apalagi dia juga harus siap berkutat dengan deadline, begitu katanya. Waaah, jarang nih aku menemukan orang yang “memaksakan kehendak” tapi untuk hal yang positif. Acungan jempol buat Salsa!
Taktik lain yang biasa dia gunakan juga ada, aku menyebutnya Nocturnal Habit. Karena nih, Salsa kan sering nggak sempat menulis di siang hari, makanya waktu yang paling pas buat dia menulis ya tentu saja malam. Cara mengatasi lainnya juga dengan membaca, I believe if you write more you read much more. Dan salah satu yang jadi motivasinya adalah teman-temannya sendiri. Kenapa? Iyalah, teman-temannya juga penulis, secara nggak langsung dia punya dorongan semangat yang makin menggelora untuk menulis buku lebih banyak lagi.

Ah ya, mimpi-mimpi Salsa sedikit banyak mengingatkanku pada impian masa kecil ala Syifa. Dia pengin jadi penulis terkenal, pengusaha, dan sutradara. Lucu sekali kalau setiap kali main, aku pura-pura jadi sutradara yang punya ciri khas “CUT!” dalam setiap memotong adegan.

Dear my dearest young sister, Salsa. Walaupun kita terpisah jauh (tetap se-Indonesia sih), dan belum pernah bertemu sekalipun, doa Kakak selalu buat kamu. Semoga impian dan semua harapan kamu bisa terwujud. Jangan pernah menyerah dan tetap semangat menjalani semuanya, karena Kakak yakin kamu bisa, pasti bisa, dan tentu bisa. Jujur, kamu salah satu orang yang menginspirasi Kakak untuk bermimpi menjadi penulis juga dan lebih banyak mengapresiasi karya-karya penulis Indonesia.

Terimakasih sudah bilang kalau Kakak baik, cantik, pintar, dan blogger sejati walau sebenarnya kita belum pernah bertemu sama sekali. Semoga di lain kesempatan, kita dipertemukan sebagai orang yang sudah mencapai mimpi-mimpi besar kita ya. Keep on fighting till the end, Dear ^_^

by.asysyifaahs♥

Wednesday, January 28, 2015

#1Day1Dream Uni Dzalika

Sesepele apapun hal, secara tidak sadar hal itu akan membawa pada hal yang lebih besar. Seperti yang aku alami beberapa bulan lalu di akhir tahun 2014 kemarin. Nggak pernah ada yang tahu kalau di hari itu aku punya kenalan sekaligus inspirasi baru dalam ngeblog.

Dokumentasi Uni

Beberapa blogger pasti tahu Uni Dzalika. Dia juga salah satu Kawancut yang September tahun lalu mengadakan sebuah projek blog berkolaborasi. Temanya unik, #30DaysSaveEarth, menulis tentang bagaimana aksi kita dalam menyelamatkan dan menjaga Bumi. Awalnya aku memang antusias, eksaitid, tapi rasa sudah berlalu... hingga akhir tanggal 30 September, aku belum ikut, dan akhirnya jadi nggak ikut apa-apa. Sedih ya?

Sumber Facebook Uni

Saat kemarin malam mengobrol, dengan tidak memakai Hangul tentunya—akhir-akhir ini ada partner yang bisa diajak belajar bahasa Korea, selain Rezka—aku merasa bahwa Uni adalah orang yang easy-going. Baru kenal sekitar 4 bulan, tapi dia bisa berbagi cerita denganku. Syukurlah nggak dibilang SKSD *ditimpuk*

Uni juga tipe pemimpi yang realistis—katanya sih untuk “membatasi mimpinya” agar tahu mana yang lebih diprioritaskan, biar satu per satu dari semuanya bisa tercapai. Beda dong sama aku yang banyak mimpinya nggak realistis dan malah jadi surealis, misalnya bikin planet baru untuk pindah ke sana karena Bumi udah terlalu sesak, haghaghag.

Mimpinya di tahun ini adalah ingin menjadi cerpenis media dan menelurkan sebuah novel karya sendiri. Ini mungkin nggak mudah, tapi kuyakin dengan kemampuan Uni sejauh yang aku baca dari blognya, Uni bisa melakukan hal tersebut. Dari yang aku tahu juga, Uni memang sudah jadi penulis, buku-bukunya keroyokan—salah satu dari sembilan buku antologinya yang kukenal adalah A Cup of Tea Cinta Buta; kenal aja bacanya belum.

Kadangkala aku menemukan beberapa penulis yang dengan mudahnya menceritakan sesuatu kemudian tulisannya naik cetak di salah satu penerbit buku. Terkesan mudah memang, tapi beberapa kali kutemukan bukunya nggak begitu menarik di pasaran. Lalu kenapa dengan Uni? Mungkin kurasa dia benar-benar “ingin menulis”—bisa ditekankan kata-katanya?—bukan untuk menerbitkan buku, dengan begitu ceritanya tidak saja menarik tapi juga diingat para pembacanya. Hopefully so.
Sumber Facebook Uni

Satu lagi, bermimpi jadi orang kaya, diperbolehkan kan? Kalau ini adalah mimpi Uni, aku malah kadang merasa takut untuk bermimpi demikian. Bukan, bukan takut bermimpi, hanya terkadang aku merasa menjadi orang kaya itu menakutkan. Salah satunya adalah akan sangat disayangkan bila menjadi orang kaya tapi tidak bahagia dan punya sifat yang kurang baik. Ini bisa saja terjadi kan?

Namun berbeda dengan Uni, motivasinya bukan untuk pamer, tapi kalau dengan menjadi orang kaya bisa berbagi dengan sesama pakai uang sendiri, tidak lagi meminta pada orangtua, dan juga bisa membeli sesuatu tanpa harus melihat harga, kenapa nggak? Ini mimpi yang baik selagi langkah yang ditempuhnya pun baik. Jadi, kalau Uni sudah jadi orang kaya, boleh ya belikan aku boneka Roumang? Heheh...
Sumber Facebook Uni

Hal lain yang aku suka dari Uni selain blognya yang cukup nyaman dibaca akan pemilihan diksi dari cerita-ceritanya adalah keinginannya untuk belajar lebih banyak. Dia memang bukan Korean addict yang tiba-tiba suka dengan berbagai jenis hal tentang Korea. Tapi karena kesempatannya beberapa kali bertemu orang-orang Korea, hal ini sedikit banyak mempengaruhi ketertarikannya untuk mengenal budaya negeri ginseng itu. Uni juga mau belajar bahasanya, masakannya, musik-musiknya, tapi dengan motivasi ingin belajar, bukan fanatik. Ini yang patut ditiru, jangan kayak aku yang dulu bilangnya nggak suka banget sama boyband Korea, eeehh... sekarang malah kecanduan K-drama dan EXO. Hahah... *ditimpuk fans Korea*

Ah ya, kalau cerita soal blog, Uni memulainya sejak 2009 yang lalu. Namun baru merasa menjadi “blogger sesungguhnya” di tahun 2014. Katanya sih, Uni ini banyak belajar dari blognya sendiri, agak sesuai dengan apa yang dia inginkan, meskipun tetap belum puas. Tapi memang nggak ada kata puas, biar bisa belajar terus kan?

Untuk Uni yang membaca nanti..., semoga mimpi Uni terwujud ya, apalagi mimpi di tahun ini untuk menulis sebuah buku sendiri. Nanti, kalau bukunya terbit, aku harus dapat tanda tangan Uni di bukunya, biar bisa diingat bahwa mimpi Uni pernah aku ceritakan disini. Oh iya, terimakasih untuk cerita-cerita manis di blognya, semoga Uni tetap konsisten biar aku bisa menikmati terus racikan kata yang Uni buat.

Terimakasih sudah mengatakan kalau Syifa adalah anak yang periang, aktif, dan punya jiwa semangat yang tinggi. Semoga suatu hari kita bisa bersua, aku juga pengin ngobrolin banyak hal sama Uni.

by.asysyifaahs♥

Tuesday, January 27, 2015

#1Day1Dream Muhammad Abdilah Ramdani

Perubahan itu pasti selalu ada, tanpa kita tahu kapan seseorang bisa berubah jauh lebih beda. Hal ini terjadi dengan salah satu kakak kelasku. Pertama kali jadi adik kelas dari kakak yang satu ini adalah pas SMP, karena kebetulan kami berada di satu sekolah yang sama. Setelah lulus dan masuk SMAN 1 Cililin, lagi-lagi masih menjadi adik kelasnya.


Aku mengenal Muhammad Abdilah Ramdani, atau yang akrab disapa A Ramdan saat di SMA berbeda dengan A Ramdan yang aku kenal pas SMP. Perubahannya lebih baik tentu saja, salah satu hal yang berpengaruh adalah jabatannya sebagai Ketua OSIS 2013 – 2014 yang lalu.

Walaupun nggak begitu dekat dengan A Ramdan, selain sebagai adik-kakak kelas dan berada di satu ekskul yang sama, sejauh ini dia dikenal sebagai sosok pelajar yang aktif dalam kegiatan berorganisasi. Dulu pas SMP, A Ramdan juga jadi anggota OSIS, hanya anggota dari salah satu seksi bidang, beda sama aku yang waktu itu jadi Wakil Bendahara *zongong, Acipa!*. Tapi, nggak nyangka aja pas masuk SMA, dia jadi pemimpin organisasi sekolah.

Jabatannya itu setidaknya pernah membantuku dalam hal penerimaan anggota OSIS. Berkatnya, aku pernah dapat semacam pembelaan hingga singkat cerita aku masuk dalam keorganisasian. Entah aku yang nggak tahu diri, aku cuma bisa “bertahan” di OSIS selama setengah periode. Jujur saat itu memang sulit, memilih antara berhenti atau bertanggung jawab dengan pembelaan A Ramdan saat itu. Heheh...

Beberapa waktu lalu, A Ramdan juga pernah terpilih dalam 100 Ketua OSIS SMA di Indonesia yang mengikuti Indonesia Student Leadership Camp III di salah satu tempat di Kampus Kuning alias Universitas Indonesia. Suatu kebanggaan juga sebagai adik kelas yang sebelumnya pernah mengikuti forum yang serupa *uhukFOR6uhuk*


Keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut juga sedikit banyak mempengaruhi dalam pilihannya di PTN mendatang. Katanya sih, A Ramdan ini berminat masuk FISIP UI. Hmm... doakan saja semoga keinginannya ini bisa tercapai. Amin...

Yang menarik dari A Ramdan adalah tentang persfektif kebanyakkan orang-orang terhadap dirinya. Banyak di antara teman-temanku (termasuk aku juga) dan adik-adik kelas lainnya menganggap A Ramdan adalah sosok yang cukup menakutkan. Bukan menakutkan seperti apa ya, lebih kepada takut salah tingkah di hadapannya yang dikenal sebagai Ketua OSIS. Tapi..., beberapa kali berbicara dengannya via BBM, aku rasanya lebih berani untuk chat dibandingkan ketemu langsung, haha... Acipa sama aja.

Ah ya, sebagai anak kelas 12, A Ramdan juga bilang kalau dia nggak terlalu memikirkan banget soal NEM UN-nya nanti. Toh, nilai UN bukanlah prioritas dan penentu utama dalam lulus atau tidaknya seseorang. Target yang ingin aku capai yang jelas itu hasil dari kerja keras maksimal yang telah aku perjuangkan. Setuju kan? Pastinya, karena hasil tak akan pernah mengkhianati perjuangan.

Untuk A Ramdan *kalau baca ini, tapi pasti baca #maksa*, tetap semangat ya jalani semua tantangan yang sedang dan akan dihadapinya. Semoga mimpi-mimpinya, baik jangka panjang, menengah, dan pendek bisa tercapai. Semoga jadi bagian dari orang-orang yang mengendalikan pemerintahan Indonesia agar lebih baik di usianya yang muda. Sebagai seorang adik kelas, aku merasa terinspirasi dan berterimakasih untuk semua yang telah dilakukan selama ini, terutama saat-saat aku berada menjadi bagian OSIS.

Terimakasih juga sudah jujur dan berani beda mengatakan kalau Syifa adalah orang yang cuek, pendiam *padahal kayak cacing kepanasan gini*, dan aktif mengekspresikan diri dalam tulisan. Semoga tulisan ini juga jadi salah satu cerita yang bisa diingat ya. Heheh...

by.asysyifaahs♥

Monday, January 26, 2015

#1Day1Dream Muhammad Wifqi Abdul Rashed

Kita nggak pernah tahu apa yang terjadi besok dan lusa saat kita sendiri masih menjalani waktu di hari ini. Dan itulah yang terjadi, nggak pernah terpikir bagiku seseorang yang dulu dianggap sebagai musuh teralay sepanjang sejarah, bisa jadi teman sekolah, teman dekat, bahkan teman baik.


Aku mengenal Muhammad Wifqi Abdul Rashed untuk pertama kalinya dari sebuah perlombaan yang menurutku jurinya nggak adil karena terlalu memihak tim dia. Malah, perkenalan kami seringnya berlanjut di facebook, perkenalan yang sama sekali nggak keren dan kayaknya cuma bisa diketawain aku dan Wifqi, bwahaha..

Musuh yang selama dua tahun cuma bisa bergelut di dunia maya, dan akhirnya dipertemukan di kelas 10 SMA yang sama, X MIIA 4. Aku nggak pernah membayangkan apalagi mengharapkan bakal sekelas sama doi, nggak ada sama sekali. Tapi, setahun sekelas bersama-sama itu menyenangkan, ada hal-hal lain yang kemudian aku tahu dari Wifqi selain tingkat kealayannya yang superganas *ditendang sampai ke Burj Khalifa*.

Sejauh ini, aku kenal Wifqi baru sekitar 4 tahun, dan kemudian kelas kami dipisah karena beda peminatan, aku masuk MIIA-Ekonomi, dia MIIA-Sosiologi. Dan sejauh itu pula aku pernah menjadikannya gebetan ada banyak mimpi-mimpi Wifqi yang owsom dan keren banget. Aku nggak nanya dia tentang mimpinya sih, karena buat apa kalau aku sendiri tahu mimpinya? *uhuk


Wifqi itu... bukan tipe pemimpi kayak aku, but he do what he want. Banyak hal yang mungkin bukan mimpinya tapi bisa ia raih dengan mudah, ya contohnya ikut berbagai lomba Matematika yang sebenarnya bukan mimpi dia tapi karena kemampuannya dalam bidang yang satu ini memang patut diacungi jempol, maka dia lakukan itu demi menapaki langkah menuju mimpinya.

Wifqi juga bukan tipe pemimpian alias KM yang otoriter dan egois, toh sebenarnya dia dipilih anak-anak sekelas karena merasa bahwa ia mampu dipercayai jadi seorang kepala suku. Dan itu yang membuatku salut, bukan saja tanggung jawab dan tugasnya yang memang jadi Ketua Kelas, tapi menurutku tingkah lakunya menunjukkan bahwa dia bisa jadi seorang pemimpin. He’s a good boy, anyway.


Aku juga belum banyak tahu soal latar belakang keluarganya—karena merasa belum saatnya; eh bukan ding... karena aku menganut sistem pertemanan yang ‘jalani aja dulu, kenal keluarganya belakangan’. Dan itulah yang aku sesalkan, baru saat diberi pertanyaan untuk post ini, aku jadi ngeh kalau his mother is a single parent, no... single fighter. Dia nggak sangsi untuk mengakuinya, bahkan di depan temen ceweknya sendiri. Whooaaa... a really gentleman, yang bisa-bisanya mengiyakan hal tersebut tanpa ada rasa marah atau sensitif sedikit pun.

“Saya bangga mempunyai ibu yang sangat hebat karena dia sudah menjadi ayah juga bagi saya”, akunya beberapa waktu lalu. Entah kenapa, aku yang merasa salah sama diriku sendiri mengajukan pertanyaan yang bahkan jawabannya udah aku tahu sebelumnya. Tapi, yang namanya pertanyaan harus selalu ada jawabnya kan? Aku takut salah kalau tiba-tiba hal tersebut bukan yang sebenarnya.

Serius, dalam beberapa waktu kadang aku mengagumi Wifqi, bukan sebagai 'boyfriend', tapi sebagai sesama teman dan juga kakak. Dia bisa tetap menjalani hidup sebaik yang ia bisa walau berada dalam keluarga yang demikian. Coba aja bayangkan kalau aku, aku nggak akan sanggup jalani hari tanpa Mama yang cerewet dan Abah yang bawel. Geez!

Mimpinya banyak, dan banyak juga mimpi-mimpi kecilnya yang sekarang sudah terwujud. Dia memang bukan tipe pemimpi seperti aku *emangnya Acipa tipe pemimpi kek gimana?*. Sebagai teman, nggak banyak hal yang bisa aku lakukan selain mendukung dan mendoakannya supaya mimpi, harapan, dan keinginannya bisa terwujud, apalagi kuyakin mimpinya untuk membanggakan sang Mama dan melindungi seorang wanita yang sangat berharga dan wajib dijaganya. Siapapun wanitanya kelak, she’s a lucky girl!

Kalau mengingat empat tahun lalu dimana garis hidup kami mulai bertemu di titik yang sama, aku hanya bisa menertawakan diri sendiri. Hal-hal aneh yang rasanya nggak bisa dipercaya itu malah jadi kenangan yang unforgetable moment banget bareng Wifqi. Aku yakin Wifqi bakal baca ini, "jadi Wif... kalau suatu saat mimpi kamu banyak tercapai, jangan lupa kasih tahu aku ya. Mungkin aku nggak banyak andil dalam mimpi-mimpi itu, tapi kuyakin satu dua kali kita bisa bermimpi bersama".


Terimakasih sudah menganggap Acipa teman yang pintar, baik, bawel, dan gila saking banyaknya teriak di kelas. Semoga mimpi kita memecahkan teka-teki siapa yang lebih dulu antara Nabi Adam dan manusia purba juga bisa tercapai ^_^

by.asysyifaahs♥

Sunday, January 25, 2015

#1Day1Dream Sandra, a Fireworks Addict

Time flies so fast, nggak sadar tau-tau udah seminggu lagi Januari pertama di 2015 berakhir, dan nggak sadar tau-tau besok tenggat waktu pengiriman essay untuk lomba debat yang ceritanya bakal aku ikuti.  Ini hari terakhir untuk menceritakan mimpi orang lain. Ah, rasanya pengin banget repost satu per satu mimpi Kawancut yang ikut projek ini. Mimpi yang macam-macam, yang nggak kepikiran apa jadinya kalau mimpi itu terwujud suatu saat nanti.

Sumber Pinterest

Kita nggak akan pernah tahu sampai mimpi itu benar-benar terwujud. Hmm, sejauh ini, aku bingung mimpi mana saja yang sedikitnya sudah punya progres yang cukup memuaskan, tunggu selepas projek ini selesai. Mari bikin sekuelnya, misalnya Menjawab #1Day1Dream, Kemajuan #1Day1Dream, dan hal-hal lain yang mungkin bisa kita bahas. Biasanya sih, projek bikinan Kak Prima nggak berhenti hanya sampai di situ saja, kadang ada kelanjutannya sendiri yang bikin terngaga kaget saking nggak nyangkanya.

Hari terakhir di 25 Januari 2015, aku bakal menceritakan mimpi punya Kak Sandra Sasi Kirana, salah satu Kawancut yang juga ikut projek ini dan hanya bertahan sampai dua hari. Sedih sih, bukan karena Kak Sandra nggak bisa melanjutkannya, tapi sedih karena dari awal aku yang maksa dia untuk ikut acara ini. Haha..., jangan-jangan deket Acipa ya, ntar dipaksa cariin jodoh *lho?

Sumber disini


Yaks, melihat kembang api di langit yang luas pada suatu malam adalah impian gue. Whahaha.
Gue pengen banget ke tempat yang langitnya keliatan luas, misalnya laut, atau taman, atau arena bermain (example: Dufan), atau jalan tol sepi (ini ngasal), buat ngeliat kembang api menari-nari di langit malam.
Itu menurut gue keren aja. Ya gitu aja, sih. Haha.

Aku nggak tau sejak kapan tepatnya kenal Kak Sandra, mungkin beberapa bulan lalu atau setidaknya setahunan yang lalu. Dia...apa ya, nggak hanya baik tapi juga (ah I don't know to say it) beda. Sejauh yang aku kenal dari kicauannya di twitter dan tulisannya di blog, dia benar-benar beda. Nggak tau sih harus mengatakannya seperti apa, tapi kurasa dari mimpi kecilnya ini kalian bisa menangkap maksudku, haha. Sepele mungkin kalau mimpi pertama Kak Sandra di projek #1Day1Dream ini. Memangnya siapa sih yang mau-maunya nulis kembang api sebagai mimpi padahal kita bisa beli dan menyalakannya sesuka kita? That's the point!

Pada suatu hari, gue tiba-tiba mengagumi benda langit yang bersinar di gelapnya malam. Nama benda langit itu Bulan dan Bintang. Semenjak itu, mata gue selalu berbinar setiap saat melihat benda yang bersinar atau berkelip di angkasa malam. Kalau Bulan dan Bintang itu, kan, benda angkasa yang nggak bisa manusia atur, nah, bagi gue kembang api adalah “benda langit” yang bisa diatur dan dirancang kemunculannya sama manusia. Makanya gue eksaitid banget ngeliat kembang api. Biasa aja, sih, sebenernya, tapi gue ngeliat kembang api, tuh nggak cuma pake mata, tapi pake hati, duh elah!

Dari sekian banyak hal, mungkin ini mimpi tersederhana yang aku baca. Namun, sesederhana apapun mimpi, keinginan, dan harapan itu bukannya harus tetap diwujudkan ya? Saat kita bermimpi, maka kita harus bertanggung jawab terhadap apa yang kita mimpikan. Kalau nggak bisa tanggung jawab, ya jangan bermimpi lah, sesimpel itu!

Aku takjub dengan Kak Sandra, bagaimanapun hal-hal kecil juga tetaplah mimpi walau orang mengatakan bahwa itu sepele. Dan aku nggak bohong, kalau aku percaya Kak Sandra bisa mewujudkan mimpi melihat kembang api ini di suatu hari nanti. Mimpinya sederhana, tapi kuyakin cara Allah mewujudkannya akan jauh dari sesederhana mimpi itu sendiri. Siapa tau kan, Kak Sandra lihat fireworks di salah satu tempat di kota atau negara lain yang bahkan belum pernah terpikirkannya. Melihat jutaan kembang api melayang di langit malam suatu tempat, Sydney, Seoul, New York, London, atau Bandung mungkin? Who knows?

Sumber disini

Kapanpun, dimanapun, dan siapapun nantinya saat Kak Sandra lihat kembang api, semoga Kakak nggak pernah lupa mimpi sederhananya ini. Impian-impian kecil yang seharusnya bisa terwujud secepat kilatan kembang api tapi butuh waktu seperti saat membuatnya agar kembang api bisa seindah seperti apa yang kita lihat.

"Karena impian kecil serupa dengan cinta yang tidak berlebihan, sederhana."

 by.asysyifaahs♥

Saturday, January 24, 2015

#1Day1Dream Riana, School Dreamer

Tadinya aku bingung mau nulis cerita mimpi siapa, soalnya saking banyaknya yang bisa jadi pilihan. Cuma, karena beberapa hari lalu pernah janji sama Kak Riana kalau aku bakal post tentangnya, maka inilah hari ini. Aku bakal menceritakan mimpi punya Kak Riana Maulida, yang katanya sih ngidol banget sama Casey Stoner. Hem, berhubung namanya juga sama kayak istri Stoner, Adriana, xixi...

Sumber disini


Kenapa sih kok pengen sekolah lagi?

Halah paling nanti kalo dah kerja gak mikirin sekolah lagi.
 
Banyak yang bilang gitu. Kalo kata Ibu gue sih, orang kalo mau sukses itu pura – pura budeg aja. gak usah dengerin apa kata orang. Ibu juga dulu gitu, gak dengerin apa kata orang. Banyak yang bilang kalo orang tua gue gak bisa nyekolahin anaknya sampe sarjana. Tapi buktinya? Ada kan rejekinya. Malah bisa buat rumah segala. Rejeki memang sudah diatur sama Yang Maha Kuasa.

Pertanyaan utamanya adalah, buat apa sih sekolah? Kalau dengan sekolah Indonesia masih "gini-gini aja", buat apa? Kalau dengan sekolah cuma banyak masalah baru yang keluar, buat apa? Kalau dengan sekolah masih banyak orang jahat, buat apa? Itulah jawabannya! Dengan sekolah kita bisa jadi orang baik, bisa menyelesaikan banyak masalah, dan bisa bikin Indonesia bangga dan nggak menutup kemungkinan jadi negara maju. Dan aku suka semangat Kak Riana ini, semangat ibunya yang nggak putus asa membantu anaknya meraih mimpi walau banyak ocehan-ter-nggak-penting dari orang-orang yang iri.

Sumber disini

Mengambil pelajaran dari situ, gue jadi makin pengen untuk mewujudkannya. Tapi gue pengen sekolah pake uang sendiri. Pake hasil keringet gue sendiri. Malu kalo harus minta lagi sama orang tua :”)

Kalau boleh bilang, mungkin aku belum bisa melakukan hal ini. Sekolahku masih ditanggung orangtua, dan aku cuma bisa membalasnya dengan belajar sebaik dan semampu yang aku bisa. Aku pasti bakal dukung semua orang yang mau sekolah setinggi-tingginya terlebih dengan uang hasil jerih payah mereka sendiri, termasuk Kak Riana ini. Orangtua pasti nggak akan nolak kalau dimintai biaya dan materi kalau dipergunakan dengan baik, tapi tentunya... sebagai anak kita mau dong mencoba berusaha sendiri dan membuktikan pada mereka bahwa apa yang telah mereka berikan selama ini ada hasilnya, ada manfaatnya, ada gunanya, nggak sia-sia melayang begitu aja.

Mimpi Kak Riana untuk melanjutkan sekolah S2 di Jepang mungkin belum tercapai, mungkin belum ada kesempatannya karena masih banyak pertimbangan ini-itu, apalagi untuk seorang anak perempuan. Kalau dipikir-pikir, keperluan cewek itu tuh bisa berkali-kali lipatnya dibanding cowok. Tapi, kalau Dia sudah berkehendak dan berkuasa, siapa lagi yang bisa menentangnya? Nggak ada yang nggak mungkin kalau Kak Riana gesit cari peluang dan berani ambil resiko. Semoga mimpinya sekolah lebih tinggi itu bisa benar-benar tercapai, karena ya seperti kata dosennya--beliau cuma pengin sekolah setinggi-tingginya, bukan meraih jabatan setinggi-tingginya.
 
kenapa sekolah? alesan gue cuma satu; satu - satunya yang bermanfaat di dunia ya ilmu. gada yang lain.

Sumber disini

Makasih ya Kak Riana udah menulis mimpi besar ini, seakan aku juga dapat lecutan semangat dan motivasi untuk bisa mimpi, salah satunya sekolah setinggi-tingginya, dan belajar untuk selamanya. Karena tugas kita di dunia ini salah satunya untuk belajar lebih banyak, semakin banyak, dan sebanyak-banyaknya agar bisa memahami bagaimana hidup dan kehidupan yang diberikan Tuhan. Keep fighting ^^
 
by.asysyifaahs♥

Friday, January 23, 2015

#1Day1Dream Zoel, for Donate Blood

Senang banget rasanya saat kali ini saling bertukar cerita mimpi. Kita bisa saling menanggapi satu sama lain dan bertukar pendapat tentang mimpi kita oleh orang lain. Sejauh ini, baru ada 2 orang yang menceritakan mimpiku, dan kesemuanya punya tanggapan yang keren. Nanti kalau #1Day1Dream selesai, bakal kutulis juga deh "Menjawab #1Day1Dream" untuk membalas postingan-postingan itu ^^

Dan hari ini, aku mau nulis mimpi Kak Zulfa Nurul--alias Kak Zoel, nggak mikir aku ngebalesnya karena dia juga bercerita mimpiku sih, cuma memang dari kemarin udah mikir kalau aku bakal nulis mimpinya Kak Zoel. So, here the story!


 
Sumber disini
Pertama kali donor darah itu, tepat di umur gue yang ke-17. Waktu itu gue masih duduk si bangku SMK. Alasan gue ikut dondar itu cuma karena penasaran, gimana sih rasanya. Eh taunya bikin ketagihan. Yang kedua dan ketiga, gue lakukan di kampus. Jadi totalnya udah 3 kali gue dondar.
 
Jujur kalau soal yang ini aku iri berat. Gimana nggak? Aku belum pernah donor darah padahal di sekolah pernah ada kegiatannya selama 3 kali sejauh ini. Selain syarat utama yang belum memenuhi yakni umur minimal 17 tahun *ya kalau berat badan mah melebihi lebih tepatnya*, aku masih takut-takut untuk nyoba. Rasanya mengalir atau dialirkan cairan ke dalam darah itu... geli-geli gimana gitu! Aku pernah dimasuki "makanan" lewat infus pas lagi sakit beberapa waktu lalu, dan rasanya kayak ada cairan aneh yang masuknya secara nggak lazim, bukan lewat mulut, tapi menembus kulit. Whoaaaa...

Karena udah tau rasanya gimana dondar, jadi sekarang alasannya berubah. Gue mau donor darah karena baru bisa dengan cara ini gue menolong sesama. Uang ga punya, jadi setidaknya ya darah yang udah didapat gratis dari Tuhan Yang Maha Esa, gue kasih ke yang membutuhkan. Itung-itung belajar bersyukur.

Bener kata Kak Zoel, mungkin kita nggak bisa bantu banyak dengan materi, barang, dan hal lainnya. Tapi, setidaknya dengan darah yang kita punya, kita bakal bisa menyelamatkan banyak orang dengan tetesan darah itu. Senyum memang amal tersederhana, tapi selagi bisa melakukan hal lebih (darah maksudnya), kenapa nggak? 

Sumber disini

Aku juga pengin bisa donor darah, merasakan memberikannya untuk orang yang bahkan nggak kita kenal sama sekali. Syukur Alhamdulillah kalau darahnya dipakai, apalagi sampai menyelamatkan nyawa seseorang. Tapi, kalau masalah umur, mungkin bisa menunggu untuk 2 tahun ini. Doakan saja semoga waktu cepat berlalu. Yah, walau masih rada bimbang akan rasa lemasnya diambil darah, tapi mungkin itu nggak seberapa ya dibanding orang-orang yang menumpahkan darahnya demi sebuah perjuangan besar.

Buat Kak Zoel, semoga mimpinya mendonorkan darah di PMI Kota Bandung tercapai ya. Atau, kalau nanti aku genap 17 tahun, kasih tahu aku biar kita bisa sama-sama mendonorkan darah di PMI Aceh 79. Penasaran gimana rasanya mendonorkan darah :D

by.asysyifaahs♥

Thursday, January 22, 2015

#1Day1Dream Shaacchan, The Article Writer Wannabe

Hai halo… memasuki hari ke-22 which is aku nulisnya pas lagi belajar di kelas, sembunyi-sembunyi lah, kalau mamprang yang ada ditabok. Beruntungnya hari ini dapat giliran bangku paling belakang sekaligus paling pojok, jadi lumayan ada waktu buat sembunyi ngeblog, haghaghag *digeplak guru Ekonomi*

Cerita kali ini diretas dari Teteh Kawancut seregional, Teh Fira—Syifa Safira Shofatunnisa alias Safira Nisa alias Teh Shaacchan. Banyak banget sebenarnya mimpi dia yang mau aku tanggapi, tapi apalah aku ini… jadi mimpi dia yang dekat dengan kegiatanku akhir-akhir ini aja ya.


Dari dulu kalau dipikir sih, saya sering banget nulis.. Nggak sering juga. Cuma suka aja. Nulisnya juga nggak tentu. Kadang nulis puisi galau (puisi kalau gak galau/semangat.. susah sih ya gimana cik), cerpen (yang seringnya nggak tamat), dan artikel-artikel yang mejeng di mading. Palingan cuma di mading kelas-sekolah, nggak kemana-mana lagi.

SAMA! Kalau dari paragraf itu, mungkin kegiatan aku sama Teh Fira kurang lebih sama, suka nulis puisi sok puitis yang maknanya aneh (?), cerpen yang nggak tamat-tamat karena mood-nya pas one-sit-writing, dan artikel yang dikerjain kalau ada butuhnya aja. Wkwkwkw… Apalagi kalau bukan karena ikut ekskul Mading yang bekerja di Divisi Karya Tulis *apa lah madding AMBETAS ada divisi-divisi segala*

Sebenernya sih, gampang banget buat nulis artikel masuk koran, apalagi waktu SMA di Tasik. Sekolah saya cukup ngehits, dan ada redaksi koran namanya Radar Tasikmalaya, dan ada rubrik sekolahnya. Sekolah saya juga pernah kebagian ngisi dua halaman di sana.. Tapi penuhnya sama seni doang. Sekolahku terkenal sama seni nya. (Di lapang basket aja dindingnya penuh mural, digantinya lumayan sering lagi.)



Nah kalau yang ini beda, sekolahku nggak begitu aware soal artikel yang masuk koran, majalah, atau media massa lainnya. Ibaratnya sih, kalau masuk ya syukur, nggak juga nggak masalah. Cuma, karena aku yang memang suka banget ikut-ikutan, ada beberapa artikelku soal sekolah yang masuk di majalah. Tanggapannya? Nggak ada! Ya udahlah, yang penting sih itu kerja saya, mau ditanggapi atau nggak bukan hal yang “kudu” banget. Hehehe…



Buat Teh Fira, jadi penulis artikel itu mudah kok, asal kitanya mau aktif aja cari lowongan kayak gitu. Aku pernah baca juga soal keinginan Teh Fira yang mau masuk koran Pikiran Rakyat, haha… aku juga pernah sih, di suplemen belia Pikiran Rakyat bagian rubrik Suara Hati Pelajar—yang honornya nggak diambil-ambil sampai sekarang.

Di belia Pikiran Rakyat, sejauh yang aku amati, selain Kak Hanifa Paramitha Siswanti, Kak Hani Fauzia Ramadhani, Kak Tisha Anwar, dan beberapa kontributor lainnya, kadang beberapa kali aku menemukan penulis yang beda dan nggak tetap setiap waktunya. Aku lupa siapa aja sih, tapi mungkin keren juga kalau Teh Fira coba-coba “menawarkan diri” ke belia. Apalagi di tengah jadwal anak kuliahan yang mungkin fleksibel, bisa jadi kerjaan ini cocok buat Teteh.

Menulis itu gampang, apalagi kalau kita sering melatihnya. Dari blog, aku yakin kita sebagai blogger bisa menjadikan tulisan itu tidak saja sebagai karya, tapi juga “lahan” untuk mendapatkan sesuatu yang lebih.

Nanti kasih tahu ya kalau Teh Fira mejeng di koran ^^

by.asysyifaahs♥

Wednesday, January 21, 2015

#1Day1Dream Adesiana, about 20 Books a Year

Ini hari terakhir libur belajar di rumah karena kegiatan TO kelas 12. Huft... rasanya masih sama aja sih, malas mendera, bingung mau ngapain, tapi aku rasa mau nggak mau ini harus dilakukan. Yap, #1Day1Dream udah memasuki hari ke-21. Bingung juga harus menceritakan mimpi punya siapa, semua orang punya mimpi yang keren sih. Jadi, aku pilih mimpi Kak Arifinda Desiana Putri yang baru saja di-post kemarin.

Sumber Reading Room


Kalau para blogger yang hobi review buku, ataupun yang suka baca buku pasti heran kenapa sih sedikit banget? Ini mimpi loh. Gue aja yang ngereview bisa sampe 50an setahun. Ada gak yang komentar gitu?

Boleh menanggapi hal ini nggak? Hehe, sebagai seorang personal blogger sekaligus book blogger aku nggak berpikir gitu kok untuk Kak Desi. Tahun lalu aku juga menargetkan diri untuk baca 30 buku, dan Alhamdulillah sedikit melampaui walau dengan ngos-ngosan capeknya. Aku masih kalah dibanding book blogger yang lain, salah satunya coba tengok punyanya Mbak Luckty si Pustakawin yang bahkan bisa baca (sekaligus review) 222 buku. Nah lho, gimana tuh?

Sumber disini
Nah, kenapa cuma 20? Pertama karena aku kurang suka baca buku, kecuali buku itu emang hits banget baru aku mau baca. Atau karena aku emang lagi senggang, aku pun lupa sejak kapan minat sama baca buku hilang. Kedua, karena aku beli, bukan pinjem atau baca online. Target ini adalah target buku yang dibeli, bukan buku yang dibaca. Ketiga, karena ini buku. Tadinya aku mau nulis bacaan, jadi bisa masuk komik atau majalah-majalah. Karena sebenernya aku lebih tertarik sama majalah sekarang ini.

Yep, nggak ada yang salah kalau Kak Desi punya target 20 buku dalam setahun. Semua punya proses kok, nggak serta-merta instan begitu saja. Apalagi mengingat aku sendiri juga punya tugas utama, yakni sebagai seorang pelajar yang pastinya baca buku pelajaran bakal lebih banyak dibanding baca novel. Jadi, kalau membaca buku di tengah kesibukan sebagai pelajar atau mahasiswa, menurutku itu sudah keren. Karena apa? Karena artinya kita bisa bagi waktu untuk itu. Beda dong, sama Mbak Luckty yang memang kerjanya sebagai pustakawan, jadi nggak heran kalau jumlah bacaannya selalu banyak. Hohoh...

Tahun ini aku punya target baca 50 buku. Tapi, kalau dilihat kegiatanku akhir-akhir ini, aku sangsi kalau akhir tahun ini bisa menyelesaikannya dengan sukses. Iyalah, kerjaannya males-malesan mulu, nonton drama Korea yang di-rewatch terus-terusan. Hih, malu-maluin ya!

Tapi, karena tergabung dengan sebuah komunitas pecinta buku, menurutku aku punya ‘tanggung jawab’ yang nggak bisa diabaikan begitu saja. Aku harus melaksanakan kewajibanku dalam membaca. Jadi..., mau nggak mau, ya aku harus baca. Ini bukan paksaan, lebih kepada... hei! gue udah janji sama diri sendiri kalau gue harus baca lebih banyak buku tahun ini. Masa nggak bisa sih?

Sumber Reading Room

Ah ya, buat Kak Desi, sedikit saranku—yang apalah aku ini, belum se-berpengalaman orang lain—untuk target bacaan Kakak, ada satu tips yang mungkin cocok kalau diterapkan dalam kegiatan rutinitas. Aku pernah diberitahu kalau sebenarnya kita bisa baca 1 Buku 1 Minggu. Mungkin, kenanya buat Kak Desi, 1 Buku 2 Minggu. Gimana caranya?

Sebenarnya nggak ada cara khusus. Tapi, kita bisa membagi buku menjadi beberapa bagian. Gini deh, kalau misalkan dalam satu buku ada sekitar 300 buku (atau 200-an), maka coba bagi menjadi 6 bagian. Artinya, satu bagian tersebut (sekitar 50 halaman) kita baca masing-masing satu hari. Nah, dalam sehari itu nggak usah memaksakan diri one-sit-reading, tapi coba atur kembali 50 halaman itu menjadi beberapa sub-bagian, misalkan dibagi menjadi 5 yang artinya ada 10 halaman yang mungkin bisa dibaca setelah selesai melaksanakan shalat *eh, harusnya baca Al-Qur’an ya, haha /digeplak/*. Yakin deh, kalau bisa diatur demikian, dalam setahun Kak Desi bisa baca 20 buku atau bahkan lebih. Ini sedikit tips dariku, Kak Desi boleh mengadopsinya dan disesuaikan sendiri dengan kegiatan yang biasa Kakak lakukan.

Semangat ya, kalau akhir tahun nanti Kakak bisa menyelesaikan target bacaan ini, psst... kasih tahu aku ya ;)
by.asysyifaahs♥