Sunday, September 21, 2014

[WARNING!!!] READ PLEASE: VOTE ME FOR #GADISSCHOOLEDITOR

Bismillahirrahmanirrahim...
 

Alhamdulillah, jadi nih aku mau kasih tahu kalau kemarin, tanggal 8 September 2014 aku dapat pengumuman Finalis GADIS Editorial Team di website GADIS.co.id/madebyyou/. Nah, Alhamdulillah aku lolos seleksi awal dalam kategori School Editor ^^


GADIS 2015 Annual Edition is the 1st ever coolest teen project! Not only YOU can decide what to see and read, also you can join our GADIS Editorial Team! Iya, kamu sendirilah yang akan membuat isi majalahnya!


Nantinya bakal ada 60 orang yang bakal mendapatkan coaching editorial dari GADIS dan karyanya akan diterbitkan di GADIS 2015 Annual Edition. Nah, untuk lolos dalam tahap ini, aku memerlukan bantuan dan dukungan dari teman-teman semua. Mau ya bantu aku? *kudu*

Caranya bisa kamu lakukan dengan vote via website atau vote via SMS.


• Via Website
1. Klik link ini >> bit.ly/SyifaGADIS2015

2. Pilih
di bawah artikelku




3. Daftar/sign up jadi member di www.GADIS.co.id
4. Cek email kamu, dan aktivasi akun GADIS
5. Sekarang masuk/login dan klik VOTE di artikelku
6. Kalau sudah ada message data kamu terkirim, artinya kamu sudah vote aku
7. Kamu boleh vote setiap harinya sampai 30 September

• Via SMS
Kirim SMS ke 08111901555. Formatnya:
MBY(spasi)Nama kamu#Sekolah kamu#School Editor#Asy-syifaa Halimatu Sadiah#SMAN 1 Cililin


*) Tarif SMS normal, jadi kirim sebanyak-banyaknya ya ^^
**) Jangan lupa kasih tahu teman-teman kamu untuk dukung aku juga.
***) Terimakasih banyak banyak. Thank you very berry much :*

by.asysyifaahs♥

Friday, September 19, 2014

Birthday Splurge


***

banner image credit: DeviantArt

It's one month until my birthday and I'm going to celebrate by spreading the love. As Kusko puts it; It's my birthday gift to me!


Except technically, I won't be splurging on myself and instead will be splurging on four lucky winners. This giveaway is open until 16 October 2014, and winners will be announced on Saturday, 18 October. The prizes are:

1st Prize
open internationally
one winner selected
USD 20 worth of books at The Book Depository

2nd Prize
open for people with a mailing address in Indonesia
one winner selected
IDR 250,000 worth of books at Periplus online bookshop

3rd Prize
open for people with a mailing address in Indonesia
two winners selected
IDR 100,000 worth of books from Scoop online bookshop

Winners are selected via Rafflecopter. They will choose a book (or several books to the added value above)  at the selected bookstores, and I will have them shipped directly to their address.

Tuesday, September 9, 2014

Vote me for #GADISSchoolEditor

Bismillahirrahmanirrahim...
 

Alhamdulillah, jadi nih aku mau kasih tahu kalau kemarin, tanggal 8 September 2014 aku dapat pengumuman Finalis GADIS Editorial Team di website GADIS.co.id/madebyyou/. Nah, Alhamdulillah aku lolos seleksi awal dalam kategori School Editor ^^


GADIS 2015 Annual Edition is the 1st ever coolest teen project! Not only YOU can decide what to see and read, also you can join our GADIS Editorial Team! Iya, kamu sendirilah yang akan membuat isi majalahnya!


Nantinya bakal ada 60 orang yang bakal mendapatkan coaching editorial dari GADIS dan karyanya akan diterbitkan di GADIS 2015 Annual Edition. Nah, untuk lolos dalam tahap ini, aku memerlukan bantuan dan dukungan dari teman-teman semua. Mau ya bantu aku? *kudu*

Caranya bisa kamu lakukan dengan vote via website atau vote via SMS.


• Via Website
1. Klik link ini >> bit.ly/SyifaGADIS2015

2. Pilih
di bawah artikelku




3. Daftar/sign up jadi member di www.GADIS.co.id
4. Cek email kamu, dan aktivasi akun GADIS
5. Sekarang masuk/login dan klik VOTE di artikelku
6. Share tautannya di Twitter dan Facebook kamu
7. Kamu bisa vote satu kali setiap hari ya :)

• Via SMS
Kirim SMS ke 08111901555. Formatnya:
MBY(spasi)Nama kamu#Sekolah kamu#School Editor#Asy-syifaa Halimatu Sadiah#SMAN 1 Cililin

*) Tarif SMS normal, jadi kirim sebanyak-banyaknya ya ^^
**) Jangan lupa kasih tahu teman-teman kamu untuk dukung aku juga.
***) Terimakasih banyak banyak. Thank you very berry much :*

by.asysyifaahs♥

Sunday, September 7, 2014

Drama BBM

Bukan hal yang mudah bagiku untuk merelakan sesuatu yang hilang. Contoh teranyar saja, handphone Acer nyaris hilang di kelas, eh taunya dijadikan bahan becandaan teman-teman, disembunyikan. Aku di-bully padahal ulangtahunku baru lewat tiga hari ini :P

Kehilangan orang mungkin pernah, dan pasti pernah, yang paling menyesakkan adalah kehilangan sahabat yang hingga saat ini makamnya belum pernah aku ziarahi, Almh. Nurul Febrianti. Kehilangan benda juga, salah satunya adalah kuitansi pembayaran administrasi sekolah yang jadi bukti kalau aku udah bayar SPP bulan Juli-Agustus lalu, sayangnya catatan penting itu hilang, dan kami berdua—aku dan Mamah—kerepotan mencari selembar kertas itu. Kemana ya?


Satu kehilangan yang menurutku lain dari biasanya adalah... aku merasa kehilangan suasana. Suasana kebersamaan dengan seseorang. Tidak begitu penting sebenarnya, tapi entah kenapa ketika saling berbalas BBM, aku selalu dibuat melimbung, seolah-olah ada kupu-kupu berterbangan di dalam perut. Oh, ternyata Asyifa jatuh cinta, hihi. Tidak, maksudnya sedang menyukai seorang kakak kelas dengan kharismanya. Dia aneh, tapi lucu.


Percakapannya dimulai dari pertanyaan seputar kegiatan anak muda, berlanjut ke cerita tentang sekolah, sampai kepada hal-hal sepele. Menurutku, itu sudah menjadi satu kemajuan, yang biasanya kontak BBM kakak yang satu ini HANYA menjadi kontak saja, tanpa pernah saling menyapa.

Tapi, sebenarnya apa yang bikin kamu senang sih? Toh, kalian hanya ngobrol tentang hal lain kok, bukan hal-hal yang mungkin sifatnya lebih pribadi, misalnya tentang ‘udah ngerjain PR belum?’, ‘lagi ngapain?’, dan percakapan klise ala orang pacaran. Kamu masih biasa aja, Syif!

Begitu kata Nurghi ketika ditanyai pendapatnya soal curhatan aku tentang hal itu. Iya ya, kami memang nggak pernah ngobrol hal lain selain tentang sekolah dan tetek bengeknya. Terus kenapa aku ngerasa bahagia banget?

Semenjak saat itu, sebenarnya cukup kecewa dengan tanggapan Nurghi. Moodbreaker. Tapi, seolah-olah setuju dengan pendapatnya, kakak yang satu ini tidak lagi tanggap dengan obrolan kami via BBM. Yang biasanya bisa membalas dengan lebih cepat, tapi kali itu nggak lagi. Obrolannya ceklis, untuk Delivered butuh waktu lama, apalagi untuk Read—perlu ganti hari dulu, dan balasannya baru aku dapatkan setelah pulang sekolah. Satu kalimat percakapan butuh waktu satu hari, Ya Tuhan~

Aku nggak lagi dapat balasan apa-apa setelah pertanyaan terakhirku. Dia yang memulai percakapan, dan aku yang mengakhirinya. Empat hari, dan rasanya cukup senang ketika ada gunanya juga kontak doi di BBM, nggak cuma jadi pajangan list doang. Hih!

Ketika bertemu di sekolah, tidak terlalu sering dan pertemuannya selalu aneh. Contohnya saja, kami saling kontak mata dengan jarak pandang jauh—aku dari Lab. Biologi di lantai dua, dan kakak itu dari gerbang masuk sekolah; terus saat hampir beradu di lorong ekskul Mading; dan kemarin berjalan bersisian dengan jarak dari ujung lapangan ke ujung lapangan *nggak papa, yang penting istilahnya bersisian*. Aku nggak begitu berharap kami sering bertemu sih, lagipula sekalipun aku melihatnya, hanya bisa puas dengan pandangan arah belakang, bukan memandang orangnya tapi tas sekolahnya. Heran ya!

Lalu, apa sekarang? Aku merasa kehilangan, nggak ada lagi bunyi bip menandakan pesan BBM masuk, nggak ada lagi rasa menanti-nanti pesan BBM itu muncul, nggak ada lagi kegelisahan menunggu tanda pesan dari ceklis berubah menjadi D, lalu R, dan tertulis sedang menulis pesan.... Dan aku merasa kehilangan suasana itu. Tidak, aku tidak jatuh cinta dengan kakak itu ternyata, hanya sebatas senang berbahagia karena kami bisa berkomunikasi.

Hmm, terakhir, doakan saja semoga tanggal 8.9.2014 besok, kami—baik aku dan kakak itu—punya kabar yang sama-sama baik. Aku, dengan pemilihan Be Part of Editorial Team (School Editor) dalam GADIS 2015 Annual Edition Team yang semoga lolos tahap seleksi, dan kakak itu dengan pengumuman dari kegiatan yang diselenggarakan di kampus UI. Ah, kalau dikasih tahu acaranya, terlalu mudah menebak siapa kakak itu.

Baca dan share tweet artikelku ya, http://bit.ly/2015GADIS1; http://bit.ly/2015GADIS2; http://bit.ly/2015GADIS3
FYI, kisahnya tidak terlalu drama sih, tapi aku sengaja mendramatisir ceritanya biar lebih tragis, haha. Hidup Asyifa kan memang begitu, apalagi masalah percintaan. Maka, petuahnya adalah... jangan terlalu mengharapkan yang berlebihan, yang pasti-pasti aja :P

by.asysyifaahs♥

September Birthdays Moment :*

Hai, September terlambat. September, aku selalu suka September. Jika boleh bilang, dari awal tahun aku selalu sukacita menunggu September datang. Penantiannya lama sih tapi nggak selama aku nunggu kepekaan dia, sembilan bulan, dan itu menyenangkan saat kini aku hidup di bulan September. Yeay ^^


Jadi nih, Sabtu di masa lalu, dunia menambah lagi daftar panjang orang-orang yang lahir di tahun 1999. Tepat tengah malam, dibantu Makraji *apa sih istilahnya, nggak tau*, seseorang yang kupanggil ‘Mamah’ melahirkan anak pertamanya. Anak perempuan yang kelak bakal jadi seseorang yang tangguh dan berani menghadapi dunia, yang siap mengalahkan clan-clan jahat #abaikan.

Lima belas tahun yang menyenangkan menjalani hidup, tapi belum bisa berbuat banyak untuk mendulang amal kebaikan *tssaah. Lima belas tahun. Iya, aku baru 15 tahun. Banyak sih yang nggak percaya dengan jumlah umurku yang di atas rata-rata ini, eh maksudnya masih underage, dan itu udah biasa. Halah, biasa!!


Tiga hari yang lalu tepatnya, Alhamdulillah Allah masih memberi kepercayaan buatku untuk sedikit lebih lama di dunia ini. Aku benar-benar terharu mendapati seseorang di cermin udah tumbuh gede, umurnya nambah, dan semoga nggak jomlo lagi. Yah, siapa lagi kalau bukan cerminan diri sendiri, rasanya benar-benar bahagia banget... umur nambah berarti uang jajan nambah, haha.

Beberapa hari sebelumnya, aku selalu mengalihkan pembicaraan orang-orang tentang tanggal 4 September itu. Nggak tau gimana, tapi rasanya ingin sekali nggak jadi perhatian *emang siapa yang merhatiin lo, Asyif? GR!*. Menghindar dari segala hal tentang 4 September, tentang pertambahan umur, tentang momen ulangtahun, dan segala hal yang berjibaku di dalamnya. Aku nggak mau 4 Septemberku kali ini rame, aku cuma mau 4 Septemberku milik aku sendiri, seorang saja *egois ya?*.

Keinginan itu setidaknya terkabul, hanya sedikit orang-orang yang benar-benar ingat dengan tanggal historis tersebut. Cuma segelintir makhluk terdekat aja yang ngucapin HBD dan ngasih doa baik-baiknya. Mungkin kalau dihitung memang nggak seberapa, bahkan kurang dari 20 malah, dan aku sih senang-senang aja, setidaknya aku tau siapa mereka-mereka yang setia sama aku #halah.

Orang pertama yang ngucapin adalah Lulu. Yes, my frenemy. Nggak pas di dentingan pukul 00.00 sih, tapi aku bersyukur setidaknya ada yang rela-relain bangun tengah malam demi aku. Haha, sebenarnya nggak penting sih siapa yang ngucapin HBD duluan, yang penting adalah orang terakhir yang ngucapin buat aku dengan doa terpanjangnya, ya walaupun telat sih xD Memangnya siapa? Ah bukan siapa-siapa kok, bukan pula kakak kelas yang belakangan aku suka dengan kharismanya (malah, doi nggak inget sama sekali), dia hanya teman, cukup teman saja~

Pagi hari di sekolah, semua biasa, malah kelewat biasa banget. Semua orang mendadak amnesia dan alzheimer secara massal, satu kelas, satu angkatan, satu sekolah. Lagi-lagi cuma Lulu, yang senyum dan pura-pura mengingatkan kalau 4 September adalah Hari Hijab Sedunia *lah, apa hubungannya?*. Bagus, doa aku benar-benar tercapai, doa biar nggak ada orang yang inget ada apa di 4 September itu. Semua orang benar-benar pikun hari itu, dan aku sedih :(

Di tengah waktu istirahat, hati rasanya nggak tentu banget, mungkin ada feeling bakal dikerjain. Eh, lagi-lagi GR ya, siapa tau aja memang nggak ada kejutan sama sekali, buktinya orang-orang tetap bersikap seperti biasanya. Maka, hilanglah perasaan curiga dengan kelakuan Lulu, Syifa, Alya, dan ce’es ketika bolak-balik masuk kelas. Pas ditanya, jawabnya “nggak ada apa-apa kok!” Hih!

Singkat cerita, mulailah pelajaran terakhir—Bahasa Inggris, Bu Teti. Awalnya sih mulai curiga, wajah Ibu kelihatan lebih sadis beda dari biasanya. Padahal, tiap hari wajah BuTet..i selalu murah senyum, apalagi sama daku yang kalau disuruh ikut Speech Contest banyak belepotannya. Curiganya hilang, mungkin Ibunya lagi punya masalah lain.

Tuh lihat wajah manisnya :D
Pembahasan hari itu tentang Tenses. Sebelumnya, Ibu mewanti-wanti kami untuk mempelajari materinya, biasalah Kurikulum 2013, yang capek kan murid. Dan sayangnya, aku nggak benar-benar mempersiapkan, baru saat istirahat menyalin materi dari kamus pinjaman, telat kan? Lagi-lagi, rencana dimulai ketika Ibu meminta kami menerangkan materi tersebut, tentunya bakal ada reward dong. Yap, 5 poin plus untuk materi kalau siap menerangkannya di depan kelas. Dan begonya, entah hasutan setan mana, tangan aku tiba-tiba mengacung sendiri. Oh no! Rasanya kayak menjatuhkan diri sendiri ke dalam jurang, fiuh. Gue bakal dikerjain!!

Entah kenapa, hari itu aku blank soal tenses, padahal cuma tentang Simple Present Tense. Cuma menjelaskan definition, pattern of kind, adverb of time, auxiliary verb, dan example. Iya, CUMA! Cuma menjelaskan itu, dan aku gagap. Oh, please~

Semua materi yang sebelumnya dinalar dari semenjak SMP itu benar-benar hilang dengan sendirinya, seolah-olah otak ikut ngerjain di hari bahagia ini. Dan lagi, Bu Teti rasanya makin lama mukanya makin sadis, eh maksudnya, makin menunjukkan kalau aku harus menerangkan lebih banyak, makin banyak, dan terus banyak dari tenses itu. Belum lagi, temen-temen sekelas—tanpa diminta dan komando apapun—menyerang dengan berbagai pertanyaan non logis yang sebenarnya jawabannya udah pada tahu. Saat Dinar, Gita, Monita, Rezka nanya, rasanya pengin jawab “Kalian yang nulis materi, kenapa situ yang nanya sama gue? Padahal jawabannya udah jelas ada di buku itu, kampret!!” Aaaa, marah kali itu akhirnya dilampiaskan dengan dilemparkannya penghapus whiteboard ke... lantai, nggak sampai ke wajah-wajah tanpa dosa mereka, nggak kok :P

Ibu terus mencecar aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama nggak logisnya. Ya udah sih Bu, kalau anak-anak pada nggak mau nanya, jangan dipaksa, kasihan kan mereka, apalagi saya wahai Ibu? Bahkan ketika bilang, “Ma’am, can I sit, please?”, Bu Teti cuma tersenyum jahat, seolah-olah membiarkan aku mematung di depan kelas, di-bully satu kelas, dan untuk pertama kalinya gugup menerangkan materi. Damn!

Entah kabar baik atau tidak, saat Ghea nanya tentang penggunaan tenses itu, dia akhirnya disuruh maju ke depan juga. Yah, korban nggak cuma aku doang kan? Dan sebenarnya itu nggak berarti banyak karena aku tetap di depan kelas, menuliskan contoh-contoh kalimat berbeda yang banyak digugat sama si Syifa, oh~

Nambah lagi deh, Sarah, Ika, dan Fitri juga disuruh, atau lebih tepatnya dipaksa Ibu masuk ke dalam jebakannya, MAJU KE DEPAN KELAS! Tapi, berhubung dari luar Lulu, Syifa, dan Alya langsung masuk membawa kue, maka berakhirlah penderitaan maha dahsyat yang super keki itu. Nyebelin, dan aku terharu. Nggak lupa juga bilang terimakasih ke Bu Teti, sebenarnya aktingnya payah sih—walaupun baru diajar di kelas 11 ini, aku udah kenal beliau semenjak kelas 10, orangnya murah senyum dan baik, nggak mungkin lah marah-marahin aku, mwehehe. Dan akhirnya mereka ngucapin selamat, berdoa, dan juga ditambah tamparan yang amat memuakkan. Ah, begini ternyata di-ulangtahun-kan bersama teman sekelas.


Lucunya, dalam kue ulangtahun itu, nggak hanya nama aku, tapi sekaligus daftar nama penghuni XI MIIA 3 yang ulangtahun di bulan Agustus-September, ada Ghea, Sarah, Ika, Fitri, Nuy, dan Nurghi. Walaupun dikata ngirit modal, tapi ini keren karena aku baru tau bahwa ulangtahun ternyata bisa massal juga. Jumlah umurnya juga disesuaikan, ada 15, 16, dan 17. Taulah siapa pemilik angka 15 itu, karena itu cuma milik aku seorang :P

Ini kue dari XIMIIA3
Dan ini kue buatan Mamah
Yah, inilah momen ulangtahunku yang benar-benar rame—Allah tidak benar-benar mengabulkan permintaanku sebelumnya. Ini pertama kalinya dirayakan dengan teman sekolah karena waktu SMP, dan kelas 10 nggak begitu banyak orang yang rela menyisihkan uang jajan demi beli kue bolu untukku. Dan selalu menyenangkan untuk segala sesuatu yang disebut pertama kali.

Jadi, untuk kalian semua wahai pembaca..., baik yang sudah, sedang, dan akan mengalami masa pertambahan umur, selamat tambah umur ya, tahun nggak pernah berulang makanya aku nggak ngucapin ulangtahun. Happy Birthday, God Blessing You Always. Semoga segala harapan dan cita tercapai di tahun yang baru buat aku, kamu, dan kita semua ini. Selalu yang terbaik, dan menjadi tahun yang lebih baik dan semakin baik dari tahun kamu sebelumnya.

Ah iya, hari ini juga ada guru muda di sekolahku yang berulangtahun ke-24. Selamat tambah umur Bapak, semoga lain kali guru Olahraga kelas kami bisa diganti sama Bapak dulu :D

Happy Bornday Pak Dwi ^^
Selamat menua, tua muda memang nggak menentukan sampai berapa lama usia kita, tapi kalau kamu mau duluan menghadap-Nya, ya nggak papa. Sampai jumpa di 4 September lainnya :*

Friday, September 5, 2014

KUIS BEST RIVAL - Siapa Rivalmu?

Menurutmu, rival itu apa sih?

Rival itu saingan.
Rival itu musuh.
Rival itu lawan.
Rival itu nama temen sekolah aku #abaikan.

Kita hidup di dunia nggak sendirian—itu pasti—ada banyak makhluk lainnya yang juga Tuhan ciptakan dan alam semesta yang berdampingan. Seperti yang telah dijelaskan di mata pelajaran PAI, aku percaya bahwa Allah menciptakan manusia untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan.

Menurut Matematika, rival bisa diartikan sebagai kodomain atau fungsi yang berlawanan dengan domain. Kalau diartikan dalam bahasa manusia, setiap dari kita adalah rival bagi orang lain, dan setiap dari orang lain adalah rival bagi diri kita sendiri. Kamu percaya? Kalau aku sih iya, mempercayai bahwa semua orang adalah rival bagi diriku sendiri.
Contoh teramat nyata dari rival menurut pandanganku adalah... teman sekolah. Iya, memangnya apa lagi? Sebagai seorang pelajar korban Kurikulum 2013, teman-teman sekolah adalah saingan untuk meraih prestasi menjadi yang Terbaik. Paling tidak, ditunjukkan dengan siapa yang menjadi Juara Umum, Ranking 1, Juara Lomba, dan sebagainya.

Lulu, teman sejak kelas 10, teman sebangku, teman peringkat 3 Besar, dan seorang rival buatku sampai saat ini. Walaupun baru sekelas di SMA, tapi kebayang nggak sih kalau sebenarnya kami mulai bersaing semenjak kelas 1 SMP, atau mungkin kelas 5 pas Olimpiade SD? Lucunya, aku sampai membandingkan jumlah nilai raport, padahal SMP kami beda. Iya, karena semenjak dulu, baik aku dan Lulu sama-sama meyakini bahwa kami saling bersaing dan lebih nyata lagi saat kini kami satu sekolah, ralat, satu kelas.

Hari ini, sahabatmu adalah orang yang paling kau sayangi. Tapi esok hari, sahabatmu adalah orang yang paling kau benci.
Dan hari ini, musuhmu adalah orang yang paling kau benci. Tapi esok hari, musuhmu adalah orang yang paling kau sayangi.

Begitu petuah terhebat yang pernah aku dengar dari Bu Nia—guru B.Indonesia. Satu yang paling berkesan mendalam dari kalimat tersebut adalah... kini aku tidak lagi benar-benar percaya pada setiap orang yang kupanggil dengan teman. Oh tidak, maksudku, aku hanya menjaga segala sesuatunya, waspada terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi.

Mereka—RIVAL—ada agar kita lebih termotivasi menjalani hidup, punya lecutan semangat tinggi untuk menjadi yang terbaik, dan menjadi cambuk ketika kita tertinggal satu langkah di belakang mereka. Aku adalah rival kamu, dan kamu adalah rivalku. Persaingan terberat tidak hanya dalam lingkungan seperti sekolah, rumah, pekerjaan, atau apapun itu. Akan tetapi, kompetisi teragung adalah bagaimana kita bersaing untuk menjadi yang Terbaik di sisi Tuhan, menjadi hamba yang layak mendapat surga-Nya. Amin...

*395 kata

***

Ini adalah kisah tentang teman jadi lawan. Bisa jadi, kamu juga mengalaminya.

Atas semua yang kamu miliki, ia tidak bahagia. Atas semua yang kamu lakukan, ia tidak peduli. Padahal, dulu, kalian pernah berjanji untuk berjalan bersisian, menuju impian yang sama.

Ya, Estu, ini kisah kau dan aku. Aku yang bukan “siapa-siapa” menjadi titik lemahku bagimu. Begitukah?

Maaf, aku tidak selemah itu. Aku belajar banyak dari kecuranganmu selama ini. Belajar untuk bisa menjadi lebih daripada dirimu.

Tenang saja, waktu akan menjawab “siapa aku, siapa kamu”. Juga tentang siapa teman, siapa lawan.


BEST RIVAL - Sahabat Terbaik, Bisa Jadi Musuh Terdekat adalah salah satu seri #7DeadlySins @GagasMedia yang mengambil tema besar dosa iri hati (envy). Ikuti Kuis Best Rival di blog Ima Kecil, disini.

http://imakecil.tumblr.com/post/96518195020/kuis-best-rival

by.asysyifaahs♥

Tuesday, September 2, 2014

Pameran Buku Bandung 2014

Hallo, September. Yeay, memasuki bulan ini aku meniatkan diri untuk lebih rajin lagi blogging. Hih, malu dong sama Kancut Keblenger yang udah populer, psst... kabarnya juga bakal ada perubahan kece nih di KK. Kita tunggu aja yuk! Tapi, post kali ini nggak berhubungan sama Kancut Keblenger, hehe... aku mau cerita tentang jalan-jalan kece waktu Minggu lusa lalu. Destinasinya sih nggak jauh, hanya Kota Bandung.

Bagi seseorang yang bukan AKB (Anak Kota Bandung), jalan-jalan kesana kayaknya berasa pergi ke kota. Whaha, Asyifa kan rumahnya di kampung, terpelosok sih kalau diukur dari ibukotanya Jawa Barat ini. Jadi, kalaupun jalan-jalan di Bandung, nggak sesering yang kalau tiap weekend pasti hangout :D

Jalan-jalan kali ini aku dibarengi Ghea, teman sekelas juga. Niatnya sih mau jalan rame-rame, ada Gita, Lulu, Dinar, Rezka, dan teman-teman lain yang niat mau ikut, sayangnya segelintir makhluk tersebut lagi ada keperluan lain, jadilah kami berdua hanya modal naik sepeda motor untuk cerita kali ini.
 

Tujuan pertamaku adalah, Gedung Landmark Braga. Apalagi kalau bukan untuk mengunjungi Pameran Buku Bandung. Ini mungkin masih jarang-jarang ya buat aku, soalnya sekali lagi—Asyifa bukan anak remaja yang seringkali ikut event seru kayak gini. Minggu pagi di Braga kali itu, agak masih sepi, paling cuma ada orang yang barengan jalan kaki, photo shoot, dan kafe, bar, toko masih belum buka. Kepagian ternyata!


Dari tempat parkir, aku barengan Ghea tinggal jalan kaki menuju Landmark, nggak jauh kok, hanya menyeberang jalan dua kali, dan tada... kita sampai di PBB. Di pintu masuk, kita langsung disambut sama dua stand penerbit buku, Obor Indonesia dan Gelegar Media Indonesia. Eh, banyak juga lho penjual makanan di luar gedung, pengin beli sih tapi kan masih pagi ._.

Sebelum masuk, ada Mbak yang cantik ngasih semacam buku panduan di bagian pintu masuk. Agak ribet ya, soalnya ukurannya sebesar majalah, dan lembaran peta stand beserta keterangan namanya ada di satu halaman bolak-balik. Oke, yang ini nggak usah dipermasalahkan, karena memang nggak patut.


Stand pertama yang aku kunjungi itu Penerbit Yrama Widya. Ini dikarenakan niat dari rumah memang untuk beli buku pelajaran Kurikulum 2013 *padahal borong novel sebanyak-banyaknya*. Jadilah, ketika masuk langsung ditawari buku Fisika kelas XI. Eh, aku kira penjaga stand-nya itu pengunjung juga, habisnya bawa-bawa tas *emang mau kemana sih Mbak?* Tapi sayangnya, aku nggak langsung beli dong, keliling-keliling dulu.

Stand selanjutnya yang rekomendasi-able adalah Penerbit Mizan. Selain karena diskon yang diberikan 30%, juga buku-buku yang hadir adalah buku baru dari setiap lini, mulai dari NouraBooks, Bentang Pustaka, Qanita, Mizania, dan imprint Mizan lainnya. Gimana nggak owsom coba? Aku aja niatnya beli Scappa per Amore 2, tapi pengin yang seri pertamanya juga, jadilah nggak jadi karena keburu kepincut sama stand sebelahnya, Stand Buku Mahal. Haha, nggak kok, ini adalah stand yang menjual buku obral dengan kisaran harga 10-30 ribu. Banyak buku dari imprint Mizan yang dijual dengan harga miring tersebut, tapi karena uangnya bakal dipakai buat beli buku 'bener', aku hanya menyisihkan beli 4 buku dari PlotPoint dengan total harga Rp. 62.000,- :D


Perjalanan malah jadi keliling cari stand buku pelajaran, dan Ghea niat buat beli kamus. Kami datang dulu sih ke stand Tencomics, salah satu rekomendasi juga lho teman. Karena selain jual komik dengan harga 5-15 ribu, disini kita bisa dapat buku-buku dengan harga obral juga, mulai dari teenlit, fiksi romance, majalah anak, sampai buku Lisa Kleypas dkk, juga ada disini. Sayangnya, karena raknya cukup berisi di dalam stand, aku malah ngerasa kalau stand-nya kesempitan karena banyak pengunjung juga u,u

Eh iya, salah satu yang bikin heran adalah dua stand dari penerbit besar. Perlu disebutin? Iya, stand GPU dan Republika. Walau tergolong stand besar, tapi sayang koleksi yang dijual kurang memuaskan, buku-bukunya nggak bikin aku tertarik membeli. Yah, belum lagi ketika datang ke stand Agromedia, aku jadi ragu untuk ambil salah satu buku dari penulis favoritku, habisnya diskon yang dikasih kecil banget :(

Nah, buat cerita buku pelajaran itu, aku melipir ke stand Erlangga, karena yang aku tahu penerbit satu ini banyak menerbitkan buku Kurikulum 2013 yang sesuai standar, sekolahku juga banyak pakai Erlangga untuk buku teks. Tapi, sayang beribu sayang, aku nggak nemu buku Biologi, Fisika, Matematika, Kimia untuk kelas 11 SMA. Kebanyakan, bukunya masih terbitan tahun lalu, sedangkan untuk 2014 sekarang terus diperbaharui, mungkin iya, pameran cuma jadi ajang 'cuci gudang' aja :(

Akhirnya, aku balik lagi deh ke Yrama Widya. Kecewa sih, tapi ya mau gimana lagi, kabarnya di toko buku Gramedia pun stok buku Erlangga kosong—begitu kata Lulu. Pas datang ke stand ini (lagi), ketemu fotografer kece, sependengaranku sih namanya Hans. Aku dan Ghea juga kebagian difoto, cuma pas di-shoot, Kak Hans sembunyi gitu, wkakaka xD

Singkatnya, selesailah jalan-jalan kami di Landmark itu, nggak lama sih, hanya sekitar 2 jam dan setelah itu kami masuk Braga 21. Ngapain? Niatnya mau nonton, tapi film yang diputar nggak menarik-able bagi aku dan Ghea, ada sih satu film yang mungkin keren ditonton, cuma waktu tayangnya sore dan itu kami harus pulang :P


Selesai di Braga, kami berangkat menuju Masjid Agung di Alun-Alun Kota Bandung. Lagian udah masuk waktu shalat Dzuhur, cuma aku ngajak Ghea buat main dulu ke menara kembar, sekali-kali kan biasanya kalau datang kesana bukan hari libur. Di atasnya, cuma merhatiin wilayah kota aja, dan tentu selfie :D


Shalat Dzuhur dan makan siomay di dekat masjid udah, tadinya mau ke BIP buat sekadar jalan-jalan dan kalau memungkinkan menonton. Atau kalau nggak, ke Palasari buat cari buku pelajaran. Cuma, Ghea nggak tau (atau mungkin nggak mau) ke arah menuju dua tempat itu. Tapi, karena aku udah bilang ke Mamah bahwa bakal beli buku pelajaran, maka kami putar arah menuju Landmark lagi. Nggak efektif ya? Dan aku datang ke stand Yrama Widya, dilayaninya sama Kak Hans, dan berakhirlah di Pameran Buku Bandung itu.


Well, sekilas mengenai Pameran Buku Bandung, walaupun venue-nya nggak seluas semacam Jakarta Book Fair yang biasa diadakan di Istora Senayan atau Jakarta Convention Centre, tapi aku cukup puas karena dengan begitu masyarakat Bandung bisa dengan mudah menemukan buku dengan harga terjangkau, apalagi banyak stand khusus penerbit anak, makanya nggak salah deh kalau banyak orangtua mengajak anak ke pameran kayak gini. Terus juga, meskipun stand penerbitnya nggak serame Jakarta Book Fair—yang aku harapkan ada stand GagasMedia, Bukune, Haru—tapi segini aja rasanya udah dibilang cukup kok, mungkin aja di tahun mendatang, baik itu di Pesta Buku Bandung atau Pameran Buku Bandung, stand dan venue yang disediakan lebih luas dan aksesnya juga lebih mudah. Kita doakan saja ya :)

by.asysyifaahs♥