Sunday, August 31, 2014

Review Komik Golongan Darah: Simple Thinking about Blood Type 2


Judul: Simple Thinking about Blood Type 2
Genre: komik, pengembangan diri
Kategori: non fiksi, webtoon
Penulis: Park Dong Sun
Ukuran: 14x20 cm
Tebal: 308 halaman
Harga : Rp. 63.000
Terbit : Juli 2014
Bisa didapatkan di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung. Pembelian online: www.owlbookstore.co.id

Sinopsis
Pernahkah kamu merasa tidak diperhatikan oleh orang lain? Pernahkah kamu mendapat luka dari perkataan teman baikmu?

Itu semua karena setiap manusia memiliki sifat yang berbeda-beda. Dalam berinteraksi dengan orang lain, tidak ada salahnya kita mencoba mengerti apa yang dirasakan oleh teman dekat ataupun orang lain yang belum kita kenal.

Nah, di komik Simple Thinking about Blood Type 2 ini, kamu akan menemukan bermacam-macam cerita terbaru dan sifat-sifat unik berdasarkan golongan darah.

Semoga komik ini bisa membantumu mencari jawaban yang selama ini dicari, ya. Semoga kamu juga dapat tersenyum saat membacanya.

Bila ingin mengetahui sifat yang dimiliki seseorang, maka kita harus bersamanya dalam waktu yang cukup lama agar bisa memahaminya secara detail.

Setelah seri pertamanya terbit, kini Penerbit Haru menerbitkan kembali seri kedua dari komik karangan Park Dong-Sun ini. Tidak jauh berbeda dengan seri pertama, Simple Thinking about Blood Type 2 ini juga membahas karakter dan sifat-sifat dari tiap golongan darah, mulai dari A, B, O, sampai AB.

Jika dibandingkan, komik blood type kedua ini isinya lebih banyak dan tentu lebih seru. Kalau di komik pertamanya, Park Dong-Sun bercerita secara umum, nah kita akan diajak lagi untuk menelusuri tiap bagian kehidupan di komik keduanya.

Keempat makhluk biru akan membawa kita pada cerita kehidupan dimulai dari Taman Kanak-Kanak, sekolah, bekerja, bahkan kehidupan pribadi selain itu. Kehebohan yang diciptakan juga lebih seru, dan pastinya karakter tiap golongan darah makin tambah banyak.

Golongan darah A yang punya sifat baik hati, halus, dan lembut. Golongan darah B dengan sifat yang jujur, kreatif, dan bebas. Nah, kalau golongan darah O sih selalu aktif, ingin tahu, dan ramah. Sedangkan, tipe golongan darah AB adalah mereka yang terampil, misterius, dan bijaksana. Lalu, bagaimana ya jadinya ketika keempat makhluk ini bertemu dimulai TK, sekolah, kantor, dan kehidupan pribadinya? Whooaaa...

Tapi, tahu nggak sih kalau ternyata ada merchandise lucunya? Yap, boneka Simple Thinking about Blood Type. Aku juga mau dong boneka dengan golongan darah AB, selain bisa jadi teman si Bluie, boneka AB ini bisa aku peluk dan diajak selfie sepuasnya. Apalagi, koleksi Simple Thinking about Blood Type punyaku pasti lebih lengkap, hihi ^^ Psst, kabarnya bakal ada seri ketiganya lho, can’t wait >w< 


by.asysyifaahs♥

Sunday, August 17, 2014

Aku Sayang Indonesia, Kamu?

Dirgahayu Republik Indonesia ke-69

17 Agustus tahun ‘45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Mer...de...ka...

Sekali merdeka, tetap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap sedia
Membela negara kita


Sudah sesemangat apa hari ini? Sudah mempersiapkan apa? Bagaimana nuansa Merah dan Putih di daerahmu? Apakah sama meriahnya dengan saat ketika kita merayakan peringatan 17 Agustus di tahun-tahun yang dulu?

Hm, kalau di Bongas—ya taulah, itu nama daerah terperosok tempat aku tinggal—nggak begitu banyak kemeriahan, seperti bendera-bendera yang berbaris di samping jalan. Entah kenapa ya, tapi rasanya semangat 45 ini dari tahun ke tahun semakin menurun.

Tapi, bukan itu yang akan Syifa bahas.

Nah, teman-teman hari ini bakal upacara dimana nih? Apa sudah menentukan lapangan mana yang akan dituju? Kalau Syifa sih untuk tahun ini, akan melaksanakan upacara di Alun-Alun Cililin. Yah, sudah sekitar 4 tahun kalau nggak salah, nggak pernah lagi melaksanakan upacara Kemerdekaan Republik Indonesia. Miris ya?


Sekarang aku (lebih) sadar, upacara hanyalah setitik kecil yang bahkan mungkin nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan perjuangan bangsa Indonesia zaman penjajahan dulu. Serius, upacara hanya sekadar momen formal mengibarkan bendera, kan? Tapi, coba terawang masa-masa saat Indonesia sedang dijajah, perjuangan yang nggak ada matinya, men.

Tiap hari, orang-orang selalu merasa was-was menghadapi peperangan, perjuangan keras untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi tercinta ini, dan bahkan pengorbanan mereka nggak tanggung-tanggung, cucuran keringat, rasa lapar dan haus, tumpahan darah, bahkan taruhan nyawa mereka relakan demi mempersembahkan sebuah hadiah terbaik untuk lahirnya suatu negeri tercinta, Indonesia, kelak.


Lalu, sandingkan dengan kenyataan zaman sekarang. Iya, sekarang, hari Minggu tepatnya. Kalau nanti sudah tiba di lapangan upacara yang akan teman-teman jalani, seberapa banyak pesertanya? Apakah sebanyak jumlah penduduk yang ada di daerah tersebut? Apakah sebanyak jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut? Syifa yakin, jawabannya TIDAK SEMUA.

Kita merasa malas, malas menjalani upacara yang bahkan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, atau paling lama ya 45 menit, yah... telat bangetnya sih 1 jam. Satu jam, hanya satu jam dalam setahun untuk mengenang, mengabadikan, dan mencurahkan rasa terimakasih yang amat tak terhingga untuk para pejuang, pahlawan, dan rakyat Indonesia yang dulu merelakan jiwa dan raganya demi kemerdekaan bangsa ini.

Malu dong, mereka dulu membutuhkan waktu sekitar 3,5 abad untuk menumpas kejahatan hak manusia ini. Malu dong, mereka dulu membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk merumuskan berbagai teknik, cara, dan bagaimana agar supaya Indonesia bisa merdeka.

Harusnya kita malu, malu untuk mengakui kalau kita malas, merelakan beberapa menit di Minggu pagi ini hanya untuk berdiri tegak, menghadap bendera, memberi hormat, dan mengikuti intruksi yang Syifa yakin tidak begitu berat kok. Toh, mungkin yang paling membosankan (oke, maaf) adalah sambutan dari Kepala Daerah dan beberapa jajarannya.

Hanya 1 jam dalam tahun ke-69 ini. Plis saja, sebelum upacara benar-benar dimulai, yuk segera persiapkan diri. Upacara hanya salah satu hal yang mungkin bisa kita lakukan dengan mudah, kita nggak perlu menumpahkan darah, mempertaruhkan nyawa, hanya sedikit, setetes kucuran dan peluh keringat karena teriknya matahari pagi bervitamin D kok. Nggak sebanding lah sama perjuangan bangsa Indonesia dulu.

Selamat Ulang Tahun Indonesia, Dirgahayu Republik Indonesia le-69. Terimakasih telah menjadi tempat pertama (dan mungkin terakhir) aku melihat indahnya dunia, dan... Indonesia. Aku Sayang Indonesia.

by.asysyifaahs♥

Tuesday, August 12, 2014

Fenomena ISIS?

Sudah dengar dengan pemberitaan di media massa tentang ISIS? Itu lho, negara Islam di Irak dan Suriah, masa sih nggak tau, padahal beritanya sudah cukup lama ini tersebar di berbagai media, termasuk salah satunya di media berita. Nah, sebagai salah satu orang yang cukup bijak menggunakan televisi, tentunya aku nggak mau dong ketinggalan satu gosip berita yang sedang hangat-hangatnya diperbicangkan di berbagai kalangan itu.


Eh, tapi tau nggak sih saat untuk pertama kalinya kita mendengar kata ISIS? Reaksimu terhadapnya bakalan gimana? Takut? Gagah? Atau malah biasa aja karena this is not my life? Hmm, kalau aku sih malah jadi awkward sendiri. Kenapa? Karena soalnya aneh aja dari mulai katanya, ISIS, Islam Irak Suriah, gitu kan? Nah nah, si ‘S’ yang menempati huruf kedua nggak punya kepanjangan sendiri tuh? Duh, kasihan :P

Eh, nggak deh, ISIS itu sebenarnya singkatan Inggris untuk Islamic State of Iraq and Syria. ISIS ini adalah sebuah negara dan kelompok militan jihad yang tidak diakui di Irak dan Suriah. Menurut Wikipedia, kelompok ini dalam bentuk aslinya terdiri dari dan didukung oleh berbagai kelompok pemberontak Sunni, termasuk organisasi-organisasi pendahulunya seperti Dewan Syura Mujahidin dan Al-Qaeda di Irak (AQI), termasuk kelompok pemberontak Jaysh al-Fatiheen, Jund al-Sahaba, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah dan Jeish al-Taiifa al-Mansoura, dan sejumlah suku Irak yang mengaku Sunni. Yah, kalau kamu nggak paham, intinya ISIS bisa dikatakan negara Islam ilegal yang tidak diinginkan keberadaannya, gitu kan ya?


Nah, tapi kali ini, Syifa nggak akan tuh bahas permasalahan ISIS yang berhubungan sama terorisme di Irak dan Suriah, memang buat apa? Huh, songong sih ya, tapi kan Asyifa bukan partisipan perang, jadi jangan dilibatkan ya. Mending kita bahas ISIS yang lebih asyik dan lebih heboh, mau tau apa?


Ini ceritanya pertama kali tercuat dari tweet mahakarya Mpok Supinah, iya siapa lagi orang dengan inisial ILY. Tenang, bukan Bahrumsyah yang orang Indonesia yang masuk ISIS dan ngajak rakyat kita gabung sama mereka kok, itu inisial buat kalimat I Love You, eh eh sok ngegombal. Nggak, ILY itu inisial milik Kak Irvina pemilik akun @irvinalioni. Nah, tweet di malam hari ketika raungan serigala terdengar amat jauhnya itu sangat-amat menggelitik. Anyway, aku nggak izin ya kalau aku copas tweet itu (dalam versi berbeda, tentunya). Ah, nggak papa keleus ya untuk 1 tweet ini kok *pencitraan*.



Irvina Sangat Imut Sekali. Duh, rasanya menggelikan, tapi kok bisa ya kepikiran buat dijadikan Personal Message BBM sekaligus update di Path, jadinya Icha Sangat Imut Sekali. Icha siapa? Iya, itu si ateng(s), anak tetangga sebelah. Kagak lah, Icha itu panggilan kecil aku, kalau situ kepo. Jadi, sama-sama imut kan? Oh, ISIS memberi inspirasi ya :D

"Kami mengambil kesimpulan bahwa paham ISIS bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak menekan pada kedamaian sesuai dengan rahmatan lil alamin bahkan menjurus kepada teroris," kata Din saat memberikan keterangan di Sekretariat MUI, Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Kalimat tersebut aku kutip dari berita di KOMPAS.com, nah kalau ISIS yang negara Islam ilegal itu dilarang, untuk ISIS yang ini beda. Nggak dilarang, nggak teroris, nggak haram, nggak dosa, dan pastinya NGGAK MEMATIKAN. Serius deh!

Icha Sangat Imut Sekali.

Masih tentang itu kok, memangnya apa yang membuat ISIS versi Asyifa jadi dilarang? Bahkan semesta mendukung kalimat itu, dibuktikan dengan dihasilkannya tiga foto bukan selfie modal bantuan aplikasi pemercantik wajah di kamera (pssst, bukan lagi Camera360 dong, yang ini lebih kece dan gahol). Nah, foto ini juga nggak sia-sia begitu saja, nggak hanya disimpan di Galeri handphone maksudnya. Selain bisa narsis, setidaknya foto ini bermanfaat lahir batin untuk seseorang. Haha, pembahasan kita berbelok teramat jauh, maka, lupakanlah ISIS ya!

#IReadThePrimadita, aku cantik kan?

Salah satu foto cantik ini aku maksudkan untuk menjawab tantangan permintaan dari Kak Prima, itu lho pemilik blog ThePrimadita, itu lho yang menangin aku di program #1Hari1Ayat, itu lho yang... cukup ya, syudahlah. Jadi, Kak Prima ini bermaksud untuk mengikuti salah satu ajang kompetisi muslimah gitu deh (ah, jadi ingat Kak @ifuu yang beberapa waktu lalu lolos 10 Besar Putri Muslimah Indonesia). Foto-foto itu, tidak hanya dari koleksi aku aja *iyalah, Kak Prima juga nggak sudi majang foto si Asyifa semua*, dari foto yang berhasil terkumpul bersama teman-teman lainnya, nanti akan disatukan menjadi sebuah karya yang tentunya keren. Kita tunggu saja ya! Doakan juga Kak Prima bisa sukses di ajang kompetisi muslimah itu, dan sukses juga untuk cepat-cepat mendapat... mendapat... *sebagian teks dibakar*.

Ah, udahan ya, sebenarnya ini cerita di malam sunyi. Selesai mengerjakan tugas, sambil memikirkan si Kakak famous *nama baru buat inisial #MAR* aneh aja dari cerita ISIS malah jadi ke yang satu ini. Semoga otak kalian nggak menguap di malam hari yang sepi kayak gini. Psst... doakan juga yang lagi ngetik cerita ini bisa ketemu Kakak famous lagi ya di sekolah besok, wakakakaka *ketawa iblis*.

by.asysyifaahs♥

Sunday, August 10, 2014

Mamat atau Matthiday?

Halo Kak Mamat,...

*siapin amunisi*
*angkat senjata*
*belum siap euy*

Jadi begini lho Kak Mamat, niatan hati sebenarnya pengin banget ngikut giveaway-mu itu, kece kan ya kalau aku bisa dapat mainan kuda-kudaan yang warnanya pink unyu menggelora asmara itu. Ndilalah. Sayangnya, entah kenapa kok aku nggak ada ide ya buat mengkritik, menghujat, menghina, mencaci, memaki dirimu itu. Ah, aku harus gimana, sedih ih baca cerita peserta lain yang menghakimi dirimu habis-habisan. Engkau tak kenapa-kenapa kan, wahai Kakak Rahmat Hidayat? *ember mana ember?*

Ini bakal jadi milik Asyifa, kan?

Kalau disuruh menilai blog punyanya Kakak *eh sadar nggak sih ini alay banget manggil Kakak, berasa adik-kakak-zone, beud*, aku nggak sepantas itu, blog aku mah belum ada apa-apanya kalau dibanding MATI DAY (read: Hari Kematian, gitu ya artinya?), eh maksudnya MATTHIDAY. Seriusan deh, aku suka malu ah kalau harus review blog orang, takut dibilang songong padahal blog sendiri bisa memeras otak dari pembacanya. Padahal aslinya, orangnya emang songong. Mau tahu kesongongan aku? Sini!

Matthiday.com

Eh, Mamat *anjir, sampai sini aja udah songong* tau nggak sih kalau blogmu itu sebenarnya jauh dari kata rapi? Mau dikata apa, dari tulisannya aja udah nggak bermutu *Syif udah Syif!*, penulisan kalimatnya juga banyak yang salah banget, heran bisa dapat award sebagai Best Article Award. Kenapa bisa? KENAPA BISA? KEE...NAAA..PAAA BI...SAAA BI...SAAAA *ceritanya bergema* Itu tim seleksi award nggak lagi kena epilepsi atau alzheimer kan, sampai-sampai dirimu bisa dapat award kece dari Blogger Energy, oh aku hampir pingsan *tahan aku tahan!*

Blogger Energy Award - Rahmat Hidayat

Gini nih, dari blog post-nya aja, rasanya mau tutup semua tab dari web blog MATTHIDAY, tutup aplikasi Lo-gila Firefox, dan bakar habis ini laptop gegara semuanya merusak dan mencuci otak ini *jemur juga deh sekalian*. Tahu kenapa? Aku gila akan ceritamu itu wahai Ustadz Mamat... itu mau cerita apa? Ngajak ribut? Ngajak jambak-jambakkan? Ngajak perang dan jadi partisipan di jalur Gaza, heh? Bahasnya cinta-cintaan mulu, kalau nggak itu bahasnya mantan mulu, kalau nggak itu bahasnya JOMBLO mulu. Punya masalah apa sih nenek buyutmu Kisanak sampai dengan amat-sangat teganya dirimu menindas kaum minoritas dalam minoritas seperti kami? Ada masalah apa sama JOMBLO, bukannya si Mamat juga jomblo ya? Eh, bilangin ke si Mamat ya, doi sebenarnya jomblo labil, udah jomblo kok mau-maunya sih menamakan diri seorang single, halah sok tinggi kasta dia!! Cuih *kagak, ini suara jangkrik kecekik kodok*

Benci sebenci-bencinya sama postingan yang satu ini :@

Wahai hamba yang bernama Mamat, ketahuilah aku rasanya puas banget saat tahu rasanya dirimu putus sama mantan yang katanya ter-indah itu. Eh, nama doi Indah? Atau Mawar? Kok disamar-samarin gitu, ah si Mamat nggak gentle, wuuu... *sorak sorai bergembira*
Karena bagaimana pun juga. Mantan itu pernah mengisi hidup kita, dan membuat hari-hari menjadi lebih indah.

Ralat, bagaimanapun bukan bagaimana pun, duuuhh... belajar bahasa Indonesia kagak sih? Bisa digebuk guru bahasa senasional kalau tulisan blognya aja nggak ingat imbuhan sama sekali, ckckckck. Gimana kalau suatu hari nanti disuruh bikin tugas makalah maha tinggi, maha besar, dan maha luar biasa alias SKRIPSI kalau penulisannya aja kayak begini, Mamat? Sebelum Dosen-nya baca isi dan pembahasan, bisa dikasih tanda MERAH karena doi udah ilfeel duluan sama sikapmu yang nggak pernah mau mengerti orang lain kelakuanmu yang nggak patuh EYD dan hormat KBBI. Inget, yang lagi nasehatin kali ini tuh Duta Bahasa, Mamat. DUTA BAHASA!!! *songong lagi deh tuh*

Eh apa-apa, barusan baca kalau Mamat jadian sama si Mawar di tanggal 11-11-2011, ngakak banget, biar anniversary-nya unyu-unyu gitu ya? Hih, ampun deh Mat, Mat... Kenapa nggak nunggu setahun lagi buat jadian di 12-12-2012, kan kata orang ntu hari Kiamat tuh! *tapi semua sudah berlalu, ah syudahlah* Pas banget, Kiamat, Mamat, Matthiday, Rahmat Hidayat. Btw, itu kok nama belakang Bapakku dibawa-bawa, jangan-jangan... Mamat saudaranya Asyifa, OH NO!! *mabok sendiri*

Tapi, puji syukur Mamat ini orangnya romantis *songong terselubung* rela-rela jam 12 malam datang ke rumah si Mawar *plis, ini karena nggak tahu nama aslinya, Mawar sajalah nama samarannya*, bawain boneka Teddy Bear pink, eh siapa namanya? MATIDAY? Hari Kematian? Kematian Cinta Mamat? *granat songong* sama kue ulang tahun, cieee... Sayangnya, kenapa harus bareng dua sahabat itu, pengganggu tau, Mat! Kesannya nggak romantis lagi, nggak kayak di FTV-FTV tuh. Bawa sendiri kek tuh boneka sama kue, repot-repot dah tuh! :P

Nama doi Sonia? Sonia JKT48?

Ah iya, lucu juga pas tau Mamat ini dibilang Jagoan Neon, senakal apa sih saat masa kekanakan? Kenapa Jagoan Neon pula? Disponsorin sama produk permen, huh? Atau kebanyakkan makan permen Jagoan Neon pas kecil, pantes itu lidah biru, muka biru, setubuh-tubuh warna biru, oh... darah biru.
Ia di klaim sebagai orang yang suka banyak omong. Akan tetapi gaya bicaranya bukan merupakan hal yang berbobot. Hanya cerita yang mengandung joke-joke klasik yang membuat suasana menjadi jayus. Tapi itu lah yang membuat ia senang, karena menceritakan sesuatu yang lucu adalah hobinya.

Tuh kan, imbuhannya salah lagi, diklaim Mamat, DIKLAIM. Tambah satu lagi, kalau kata berbahasa asing (mungkin bahasa kalbu, atau bahasa yang cuma dimengerti Mamat dan Tuhan), kasih garing miris, eh garis miring maksudnya. Itu tuh penting, skripsi juga gitu. Gini-gini, anak kelas 11 udah disiapin amunisi buat tugas maha akhir, keren kan kurikulum 2013? *ih songong*

Mamat jayus? Kenapa nggak ganti nama jadi Rahmat Jayus Tambunan? Selain biar nama belakang Bapakku nggak kebawa-bawa—Hidayat tuh—biar kejayusannya berkali-kali lipat, Mamat. Ngikutin Tambunan pula, ya semoga aja aslinya memang nggak tambun *ketawa setan, oh bukan setan*

Terus nih, ceritanya si Mamat pernah kena blind love, haha, orangnya yang blind atau cintanya yang bener-bener blind? *ups* Eh, beruntunglah si perempuan berkerudung merah itu nggak sampai kenalan sama dirimu ya, Mat, khawatir aku khawatir kalau sampai peristiwa itu terjadi. Mendingan dia punya pacar yang mirip pemain film Terminator deh daripada Mamat, paling nggak deskripsi bahwa seseorang yang mirip pemain film adalah KEREN, dibanding Mamat. Cukup.

Eh, ini yang pamungkas ya, bener-bener pengin menghakimi Mamat deh, rasanya bakal tegaan untuk yang satu ini. Mamat patut diasingkan, dihina, diarak, dirajam, digantung, dan ditembak mati pakai ketapel, berjuta ketapel. Kenapa harus ini, Mat? KENAPA? Kenapa lagi-lagi memutarbalikkan fakta tentang kami—para kaum minoritas, sangat-amat yang hampir punah tapi tidak dilindungi, bahkan sama cagar alam sekalipun—JOMBLO. Tau sendiri kan karena sekarang juga bertitel jomlo labil pula, iya kan? Walaupun postingan Seputar Tentang Jomblo ini udah kadaluarsa banget, setahun lalu, tapi sakitnya tuh masih, masih ada, Mamat. Pikir dong pakai otak kecil tuh, gimana rasanya aib kaum kami dibuka lebar-lebar, ditunjukkan ke pembaca blogmu, diceritakan pada dunia. Apa rasanya? APA? SAKIT, Mamat, SAKIIIIIITTTT!! Lebih sakit daripada kejang-kejang kemudian disuntik panas sama euthanasia, lebih sakit daripada dicabut nyawa, Mamat *kayak yang udah pernah ngerasain sih, Syif!*

Katanya, bilang ada alasan kenapa jomblo tetap jomblo. Pertama, dia jomblo akut. Kedua, dia homo. Oke, pilihan kedua nggak mungkin banget kan ya, Asyifa sangatlah normal. Dan, Mamat tahu, opsi terakhir mana yang paling mengarah dengan diriku? Opsi mana, tahu? Iya, Mamat, iya, opsi pertama. ASYIFA JOMBLO AKUT, PUAS MAT, PUAS? Cih!
Jomblo itu adalah kutukan yang bisa membuat kepercayaan hidup hilang. Oleh karena itu, jangan kaget. Apabila dilihat dari statistik dunia perjombloan. Mereka sedang diambang-ambang kepunahan :'(

Baguslah, jomblo punah, itu artinya kehidupan mereka sejahtera. Sejahtera ada yang berganti status jadi taken, ada juga yang berganti status jadi ALMARHUM/AH karena banyak jomblo malah nenggak Baygon saking depresi dan frustasi-nya mereka kelamaan ngejomblo. Tapi, sorry to say, Asyifa itu jomblo perkasa *catet tuh di buku Fisika!*, nggak akan deh sampai mengakhiri kejombloannya dengan cara yang amat sangat nista, paling jedug-jedugin kepala ke tembok baja, nyilet-nyilet tubuh sendiri, terus kalau haus minum deh di kubangan limbah. Oh, ndilalah.


The last but not least, dari tampilan blog nggak akan banyak komentar. Nggak banyak waktu sorry, mending nonton drama Korea ada manfaatnya, bisa puas lihat Lee Seunggi atau Lee Min Ho akting, daripada bahas blog si Mamat *eh, nggak kok, mainan kuda-kudaannya buat Asyifa, oke?* Kalau dari gambar apa sih tuh yang di samping kiri, kece kok, si Mamat dikelilingi para siluman jin pembantu Sangkuriang buat bikin perahu, ya kan? Ke bawahnya, ada navigasi-navigasi yang mengarahkan ke berbagai laman ter-tidak-penting dari web blog MATTHIDAY, sayangnya kudu diklik satu-satu buat tahu itu tombol apa, ah Mamat.. Mamat, ada aja. Soalnya, tombol kedua sama tombol kelima (atau mungkin keempat juga), seakan-akan menunjukkan bahwa mereka adalah tombol Contact. Bingung kan? Eh, by the way, itu tombol yang ketiga bentuknya kan kado, Mamat baik ya, mau ngasih hadiah buat pembaca Mat? Buat Asyifa aja dulu, menangin giveaway ini, terus dapat mainan kuda-kudaan itu deh, oh maksudnya kotak musik. Plis... *oh jadi setelah songong-songongan, lu mohon-mohon sama si Mamat, keji banget Syif____-“*


Ya udah lah, yang penting Asyifa udah usaha kan ya, usaha menghakimi Mamat. Lagian nih, yang punya blog MATTHIDAY sendiri yang bikin cara mainnya buat mengkritik dia, baik blognya atau pemiliknya. Tapi, so far, aku lebih suka mengomentari pemiliknya, kan? Selagi diperbolehkan ngomong apa saja, disuruh jangan sungkan-sungkan mengirimkan kritik berbau pedas, dan Mamat sendiri yang mengatakan “karena kritik itu turut andil dalam mencerdaskan bangsa dan yang pedas itu mengunggah selera”, why not? Dan maaf untuk teramat, ini nggak dosa, postingannya kepanjangan, hehe. Jangan hajar yang nulis blog post ini ya, Mr. Rahmat Hidayat. Caw!
by.asysyifaahs♥

Saturday, August 9, 2014

Baru Saja...

Selamat pagi, Mentari. Hm, sebelum menyongsong diri untuk berangkat sekolah beberapa menit lagi, tidak ada salahnya kan kalau daku ini kembali bercerita setelah sebelumnya juga bercerita beberapa jam yang lalu? Ah, memangnya siapa yang sih peduli akan waktu kapanpun seorang Syifa ini, lagipula tidak akan ada yang mengingatkan begini kok, “Kamu jangan kecapekan, tidurnya yang cukup, jangan kebanyakan ngeblog, nanti capek. Kamu mau nanti sakit lagi?” Nggak bakal ada, nggak bakal ada, nggak bakal ada, never for ever *shut up your mouth, Asyifa!*

Baiklah, masih dalam menantang diri sendiri untuk mengikuti berbagai kegiatan menyenangkan di blog, apalagi kalau bukan giveaway, iseng-iseng berhadiah ini? Sebelum semua kegiatan sekolahku benar-benar sibuk dan akan sangat-amat menyita waktu nantinya, kenapa tidak sekarang-sekarang ini, saat masih awal memasuki masa sekolah dan KBM baru berjalan beberapa hari. Please, understand with my condition, especially with my heart, could you? BIG NO, I think. Huft.

Asyifa kenapa sih? Padahal ya, tema yang diberikan di giveaway kali ini ceritanya tuh seneng-seneng, #OneOfMyHappyMoment in MY LIFE, in ASYSYIFAAHS’s LIFE. Eh, bedewei eniwei, rasanya aku sudah cukup senang ketika tahu bahwa giveaway kali ini diretas dari Giveaway Couple. Aniyo, bukan dari ‘couple’ sesungguhnya sih, tapi hanya best friend couple, but it’s still sweet like as sugar, huh? Oh, please, nonsense Asyifa!

Begini nih, kalau boleh jujur ya Kak Lilis dan Kak Reyza, aku tuh masih bingung sampai saat mengetik bagian ini, iya sampai bagian ini, eh sampai bagian ini juga deh, iyalah sampai bagian manapun, kejadian mana yang membuat aku merasa sangat bahagia sekali? Tidak, bukan bermaksud bahwa tidak ada kejadian membahagiakan sama sekali dalam hidupku ini. Aku tahu, walaupun begini, hidupku masih bisa disebut menyenangkan, lho *catet!* Aku terlalu sibuk memikirkan cerita mana yang tepat dan harus kupilih untuk kubagi pada kalian berdua? Ndilalah.

Bukan ekspresi bahagia, tapi lagi kesambet

Begini sajalah, akan kuceritakan kejadian yang (mungkin) amat-sangat tidak menarik tapi (entah berkat surga apa) aku bisa menyebutnya momen terindah, terbahagia, tersenang, tertarik, dan ter- lainnya yang bisa kuceritakan dalam #OneOfMyHappyMoment ini. Tapi, berjanjilah padaku untuk tidak mentertawakan cerita ini, oke? Finger crossed!

Ini adalah cerita yang baru saja kualami, beberapa hari yang lalu malah, atau mungkin semua berawal dari beberapa minggu sebelumnya. Tapi, itu tidak terlalu lama kok, mungkin ketika bulan Ramadhan baru berjalan tiga atau empat hari, ya? Ah, aku jadi lupa begini.

Semua kesenanganku itu mungkin sangat tidak masuk di akal, logika, pikiran, dan perasaan kalian, wahai dua Kakak! Aku yakin cerita ini tidak begitu seantusias cerita orang lain, tapi percayalah aku mengakuinya sebagai momen paling hebat dari sekian banyak pengalaman yang kujalani selama 14 tahun mengembara di dunia fana ini. Oh, sangat hiperbola, duhai!

Tepat tanggal 30 Juni 2014 yang lalu, aku melaksanakan daftar ulang sebagai syarat administrasi bahwa Asy-syifaa Halimatu Sa’diah telah resmi menjadi seorang kakak kelas baru bagi adik-adik barunya. Yap, Alhamdulillah, puji syukur karena Syifa sekarang sudah bertranformasi menjadi anak kelas 11. Oh, aku masih tidak percaya hal itu. How can?

Bertemu dengan teman-teman lama dari kelas X MIIA 4 adalah salah satu harapanku pagi itu, selain berharap bahwa akan ada satu atau dua adik kelas (laki-laki, tentunya) yang bisa menjadi sasaran untuk... ah sudahlah, kalian pasti mengerti cerita anak SMA, xoxo illy. Namun, sayang seribu sayang, tidak banyak yang kutemui hari itu, selain 5 orang, yang itu pun tidak berlangsung lama kami bersua dan berkangen mesra *cih, kalimatnya*. Hanya ada Echa, Indri, Gita, Lulu, dan Wifqi. Dari keempat teman perempuan, kami berpeluk riang, terutama dengan Echa yang badannya bisa lebih besar dari aku, aku merasa hangat dalam peluknya. Begitu juga dengan Indri, walau badannya lebih kecil (atau sebut sajalah aku yang lebih besar darinya). Terkecuali dengan Gita, dia hanya beberapa menit berada di sekolah, menuju loket administrasi, lalu pulang, begitu saja. Seandainya bisa memeluk Wifqi, mungkin aku mau, tapi aku tahu aku tak bisa, hahaha.

Hari itu berlalu begitu saja. See? Sudah kukatakan tidak menarik, bukan? Tapi, cerita tidak berakhir sampai disini saja, wahai dua Kakak. Masih terlalu panjang. Tenang saja!

Ramadhan berjalan seperti biasanya, aku masih semenyenangkan dan seunyu biasanya *oh, bagian yang ini perlu dihapus tidak, ya?*, masih pula menulis di blog kesayangan. Namun... semua tak berlangsung lama, sampai di hari kedelapanbelas di bulan Ramadhan 1435 H ini, aku jatuh sakit, Kakak-Kakak. Setelah seminggu sebelumnya berhalangan karena tidak suci *hei, jangan berpikiran yang macam-macam ya!*, aku sakit. Typhus dan demam berdarah.

Gejala typhus dirasakan dari pemilihan asupan gizi makanan yang salah target, aku terlalu banyak makan—maksudku, terlalu banyak memakan makanan yang kurang (atau bahkan tidak) sehat dan sedikit tidak higienis, konsumsi jajanan pasaran yang kebersihannya sedikit diragukan. Sementara, demam berdarah diakibatkan dari pemikiranku yang berlebihan terhadap sekolah, aku terlalu mencintai sekolah sampai waktu liburan saja aku habiskan untuk beberapa kali mengulang kembali pelajaran. Oh, apakah peristiwa ini bisa disebut gejala demam berdarah? Aku rasa tidak, lucu sekali, to be honest Mamahku belum tahu kalau tiga hari terakhir sebelum sakit, badanku terasa gatal-gatal dan dipenuhi banyak bentol *hush, jangan berpikir aku tidak mandi ya!*

Nah, selama dua minggu selanjutnya, rasanya aku CUKUP bahagia sekali. Kenapa bisa? Ya, tidak ada yang bisa kulakukan selain berbaring lemah tak berdaya dan hanya tergeletak begitu saja di atas kasur untuk sekadar membaringkan badan dan mengistirahatkan diri dari semua kegiatan-kegiatan yang ada, terlebih saat itu aku baru saja menjalani tugas sebagai Mentor Pembimbing dalam kegiatan Pesantren Kilat alias Sanlat di sekolahku, dan itu cukup melelahkan asal kalian tahu, ya. Tidak ada kegiatan sama sekali, sama sekali. Membaca novel, menonton film, mendengarkan musik, membaca Al-Qur’an, bermain dengan sepupu, semua hal itu dilarang karena dirasa menjadi beban tersendiri untuk kesehatanku saat itu. Sayang sekali ya?

Biar kayak anak kekinian, di-post juga di Path, kece kan?

Aku di-infus. Tidak sampai harus rawat inap di rumah sakit kok, karena secara tidak langsung aku punya dokter pribadi khusus yang sebenarnya adalah tetanggaku juga. Yah, selain hemat biaya, aku lebih senang karena dengan itu merasa bangga bisa dengan mudahnya mendapat dokter pribadi, haha. Oh, what a plebeian Syifa, ck! Selama tiga hari merasakan cairan masuk ke dalam tubuh (dengan beberapa masalah-masalah kecil seperti darahku yang tiba-tiba keluar-masuk selang, sial ya), aku cukup kerepotan bahkan untuk buang air. Mandi pun hanya dilap, ganti baju harus dibantu Mamah, tapi entah wangi surga apa walau aku berkeringat (tidak banyak sih), wangi tubuhku tetap harum *iya gitu?* Itulah kebahagiaan dua minggu yang aku rasakan, tak ada kegiatan, tak ada perintah, tak ada suruhan, tak ada apa-apa dari Mamah. Aku senang karena dengan begitu—setidaknya dalam dua sampai tiga minggu—aku bisa terbebas dari pekerjaan rumah, hehe *digeplak, ditabok, dilindes, ditendang Mamah sampai ke Dubai*

Setelah setidaknya sembuh dari semua itu, walau aku tetap harus mengonsumsi tujuh, 7, TUJUH, TUJUH jenis obat-obatan aneh, aku masih merasa sedih juga sih. Sampai minggu pertama menjelang Lebaran Idul Fitri, aku hanya mendapat THR sebesar Rp. 40.000,- Sedih? Mungkin sangat.

Tapi, Alhamdulillah, puji syukur lagi, sakit ini ternyata membawa berkah tersendiri buatku, beberapa saudara, kerabat, dan tetangga cukup banyak yang mengunjungiku. Beberapa di antara mereka juga ‘menitipkan’ sesuatu yang cukup aku nanti semenjak Lebaran, salam tempel, hihi. Tapi begitulah, lama-kelamaan THR-ku bertambah juga, dari yang asalnya 40.000 malah berubah secepat kilat 10 kali lipat dari THR awal. This is miracle from Allah Azza Wa Jalla, oh God, I can’t Thank You enough :) Tapi, tetap saja, kadang ada beberapa pula yang tidak ‘menempelkan’ apapun, selain doa supaya aku lekas sembuh *keji sekali kau ini, Asyifa!*

Kebahagiaanku lagi-lagi bertambah, di luar malasnya meminum banyaknya obat-obatan itu, aku senang bukan main ketika untuk pertama kalinya setelah sakit, Mamah mengizinkanku memakan nasi. Yeay ^^ Apakah itu kebahagiaan? Ya, itu adalah prestasi bagiku yang saat itu, menurut dokter pribadiku itu, dalam sebulan ke depan aku HANYA boleh memakan makanan yang bertekstur lembut, semisal bubur tim dengan merek khusus anak bayi. Very awkward moment.

Singkat cerita, aku masuk sekolah di tanggal 6 Agustus 2014, baru saja kan? Awalnya, Mamah (sekaligus nenek, kakek, dan kakak nenekku) ngotot memintaku untuk tidak usah masuk sekolah saja dulu. Eits, bukan Asyifa namanya kalau nggak nekat, walau baru sembuh dari penyakit begini, tetiba saja aku bisa seagresif sebelum aku jatuh sakit. Aku kembali hiperaktif, lho, Kak Lilis dan Kak Reyza *kecenderungan untuk bawel, cerewet, jahil, dan semacamnya, bukan suatu sindrom yang melemahkan kok*.

Lebih kece lagi, selfie pakai smartphone dan fisheye
Kebahagiaan makin berkilauan saat aku bisa masuk kelas. Ah iya, sebelumnya tidak kuceritakan ya kalau aku dengan bangganya bisa masuk kelas master, XI MIIA 3? Hm, bagaimana tidak, rerata muridnya adalah murid-murid terbaik dari tiap kelas X MIIA 4 sampai X MIIA 6, ada yang aktif di ekskul, organisasi, komunitas, dan ah sudahlah... semuanya memang hebat!!

Namaku? No. 2, Men

Walau hari pertama itu hanya dihabiskan dengan kegiatan Halal Bihalal, aku masih saja bahagia. Setidaknya itu yang kurasakan ketika bisa bersalaman dan bermaafan dengan salah satu kakak kelas yang... ah sudahlah, sudah kalian pasti sudah mengerti karena baru saja lulus SMA, kan? “Minal Aidzin ya, Asyifa!” Satu kalimat berdesir hebat, membuat jantung terasa dipanah amsara, darah berlomba-lomba untuk mengalir, kaki merasa tak seimbang, hampir terhuyung untuk jatuh pingsan di hadapannya, tapi tak sampai begitu kok. Aku hanya tersenyum simpul seraya menyalamkan tanganku dengan tangannya, aku tahu ini bukan mahram, tapi... ya begitulah, tak bisa kutolak, xoxo.

Demikian, kuakui aku juga tetap mengharapkan bisa bersalaman baik dengan adik-adik baruku, aku tahu banyak alumni adik SMP-ku yang kini juga masuk SMA terdekat sekaligus terbaik di Kab. Bandung Barat ini *plis, aku merasa bangga terhadap sekolahku*. Walau aku tahu, bersalaman dengan kakak kelas yang itu, yang famous di sekolah, yang menjadi pemimpin nomor 1 bagi para murid, rasanya jauh... lebih menyenangkan dan sangat-amat membahagiakan. Oh, villen dank, Mr. ‘Bi’ *psst... I just wanna tell you, Bi is his false name, his first called name is R, okay? Don’t be failed, halah!*

Hari selanjutnya, 7 Agustus, aku juga cukup bahagia karena pelajaran pertama, Kimia, kami disambut for the first time ever at grade 11th dengan praktek. Sungguh luar biasa bukan sekolahku? And then, Sejarah yang membawa kami pada cerita kolonialisme dan imperialisme Barat. English is none, but still, we must do homework for the first introduction for the next meeting. Pray for me, I CAN DO THE BEST, Kak Lilis & Kak Reyza. Trust me?

Next day, or yesterday, hanya SATU pelajaran. But, do you know what, itu adalah pelajaran mematikan membingungkan karena selama 4 jam mata pelajaran kami harus puas bersua dengan Ibu Saripah dalam mempelajari Matematika Peminatan. Oh, hebatnya KURIKULUM 2013. Kalian senang karena tidak merasai ini kan, iya kan, kan, kan?

And today, I must going as soon as possible to back to school. Thanks for reading my story which is very long long long and long story, I hope Kak Lilis and Kak Reyza can’t boring and still read my next story. Could you? Hehe... Thanks for your #OneOfMyHappyMoment’s Giveaway, good luck for me. Yeay ^^ Danke :)
by.asysyifaahs♥

Pendapat Tentang Boyband

Beberapa hari yang lalu, aku nggak sengaja terantuk di salah satu blog milik seseorang *iyalah, masa seekor, plis Syif -____-*. Niatnya sih hanya ingin blogwalking, tapi tak dinyana malah dapat hal lain, apalagi kalau bukan tantangan giveaway berhadiah. Yah, mau nggak mau, alam bawah sadarku langsung mengiyakan saja untuk mengikutinya, walau di hari itu aku nggak langsung melaksanakan syarat dan ketentuan yang ditulis sang pemilik blog yang bernama Rian tersebut, eh Kak Rian maksudnya *Asyifa sopan kan ya?*

Nah, barulah beberapa hari kemudian, mendekati tenggat waktu yang sudah ditentukan, aku baru mulai menulis. Maklumlah, Syifa kan sudah menjadi anak sekolah lagi, kakak kelas pula, duh rasanya bangga sekaligus merasa cool-eheu, xoxo.

#Giveaway3Thn

Jadi, pada intinya kita diminta untuk menulis ulang (dari sudut pandang kita sendiri) terhadap blog post yang sudah ada di blog yang beralamat di http://rhyantd.wordpress.com/ tersebut. Yang pasti bukan asal jiplak alias tinggal copy and paste ya, tapi semacam memberikan ulasan tersendiri terhadap pemikiran apa yang sudah ditulis oleh Kak Rian tersebut. Cukup mudah kan? Malah menurutku kelewat mudah *halah, songong pisan*

Nah, dari sekian banyaknya blog post yang ada, aku mulai bingung dengan dua pilihan, yakni postingan berjudul 9 Hal yang Membuat Wanita Cepat Jatuh Cinta dan postingan berjudul Pendapat Tentang Boyband. Yang pasti bukan postingan Pembahasan Soal Fisika SMA (Marthen Kanginan) ya, aku sudah lebih dari cukup puas menerima ini di sekolah saja, nggak usah susah-susah menambahkannya lewat blog, oke? Ya walau aku tahu, Kak Rian menuliskannya demi keberlangsungan para siswa-siswi SMA, mungkin aja kan disana ada kunci jawaban yang (mungkin lagi) sangat amat berguna, suatu saat nanti (dan itu entah kapan, ups).

Baiklah, karena terlalu lama menulis dengan pembukaan yang amat-sangat panjang (menurutku, dan mungkin juga menurut kamu wahai pembaca setia), yuk langsung ulas saja postingan dengan judul Pendapat Tentang Boyband. Hm, aku penasaran bagaimana celoteh Kak Rian soal fenomena boyband yang beberapa waktu lalu (atau mungkin juga masih bertahan sampai sekarang), kamu penasaran? Caw barudak!

슈퍼주니어

***

Singkat cerita dari blog post tersebut, bisa dikatakan kalau Kak Rian ini adalah salah satu korban dari maraknya Hallyu, alias fenomena budaya Korea yang dalam beberapa tahun terakhir ini menggemparkan banyak negara, termasuk Indonesia salah satunya. Bukti bahwa Kak Rian menjadi ‘korban Hallyu’ adalah bahwa ternyata dia ini adalah salah satu penggemar dari boyband kenamaan Korea, apalagi kalau bukan Super Junior. Semua itu berawal semenjak negara api menyerang ketika kakaknya mengunduh salah satu lagu terpopuler dari boyband tersebut, yakni Mr. Simple. Tahu lagunya kan? Ah masa sih nggak tahu *kelewatan kalau nggak tahu, ditinggal peradaban sekali wahai kalian*

Uri Super Junior

Tapi menariknya, saya dan kakak saya langsung terpana melihat mereka. Terpana dengan menyampaikan keindahan lagunya dengan cara yang lain, yaitu melalui dance mereka yang sangat nyaman di mata.

Nah, apa yang membuat Kak Rian menyukai Super Junior ini menurutku bisa dikatakan umum, dia suka dance-nya. Kalau boleh dibilang, aku juga begitu kok, walau nggak begitu terlalu suka banget dengan dunia per-boyband-an, tapi kalau lihat video Sorry Sorry dari Super Junior, rasanya greget, apalagi sama Siwon Oppa *eh.

Kak Rian juga tidak semudah itu menyukai semua lagu-lagu berbau boyband Korea, menurutnya dia hanya menyukai sebuah lagu dan videonya dari nuansa dance yang menurutnya dia suka. Cukup subjektif, dan it’s not something problem, right?

Ah iya, secara harfiah, boyband merupakan sejenis kelompok musik pop atau R&B yang terdiri dari beberapa anggota, semua penyanyinya laki-laki muda yang menyanyi sekaligus menari secara bersamaan. Nah, kalau perempuan disebutnya girlband, ya? Jangan kebalik!

1. Apa pendapat kalian mengenai boyband?
Sebelum bahas jawaban Kak Rian, boleh ya aku juga ikut berpendapat? Arraseo? Geudae! Kalau menurut aku sendiri, boyband itu semacam salah satu pelaku seni dalam dunia permusikan di tiap negara di dunia. Boyband itu nggak alay kok, misalnya Westlife, salah satu boyband Barat yang buktinya malah disukai banyak orang, bahkan sampai saat ini—termasuk aku dan Mamahku, hehe. Seingatku, fenomena boyband ini entah bermula darimana, tapi banyak yang menganggap bahwa Korea Selatan adalah the bestest negara yang banyak memunculkan boyband-boyband famous di jagad raya ini *hiperbola banget sih Syif!*

Sementara itu, kalau celoteh Kak Rian sendiri mengatakan kalau mungkin kebanyakkan orang berpikir (for the first time) boyband itu identik dengan sifat alay. Tapi, menurutnya boyband itu ada yang baik dan ada pula yang buruk.

Omo~
Ketika kita berpendapat tentang sebuah boyband, saya bisa kasih sangat baik ketika mereka bisa membuat sebuah music yang mereka rangkai bisa kita terima dengan baik. Apakah itu baik didengar, ataupun bisa menghipnotis kita supaya bisa memuji boyband itu sendiri. Saya menyukai sebuah boyband tidak asal suka, tapi melihat apa yang identik dengan boyband itu sendiri. Bukan hanya ketampanan, tapi kualitas mereka yang bisa menghipnotis para penggemarnya.

Ah iya, Kak Rian ini juga menyukai boyband (terutama Super Junior) selain dari kualitas musik dan tarian yang mereka bawakan, ternyata dia juga mengagumi akan behind the scene dari debut masing-masing anggotanya. Salah satunya adalah Lee Donghaeleader Super Junior—yang ternyata punya kisah ‘cukup mengharukan’ dalam kisahnya menjadi anggota boyband. Aku baru tahu, lho.

2. Apakah boleh seorang pria mengidolakan boyband?
Ehem, pertanyaan yang menurutku cukup intens untuk dibahas, salah-salah bisa digebuk massal nih, hoho. Kalau menurut aku sendiri sih—sebagai seorang remaja perempuan ya—it’s not my life, it’s not my purpose of my existence, so what’s wrong and what’s the matter? Nggak usah banyak dipikir lah ya, semua orang bebas mengekspresikan rasa sukanya terhadap hal apapun, kepada siapapun, dan dimanapun, selagi itu wajar dan masih dalam batas norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat *tssaaah*, why not? Memangnya ada larangan bahwa seseorang (khususnya laki-laki) menyukai boyband, nggak ada kan?

Eits tunggu dulu, kata suka inilah yang membuat orang banyak salah arti. Jangan terlalu salah dengan arti suka, sayang, dan cinta, semua mempunyai level masing-masing dan suka itu hanya sebatas memuji dan paling rendah levelnya dari sayang dan cinta.

Jadi menurut saya, seseorang bisa mengidolakan boyband karena ia menyukai sesuatu dari yang ia idolakan. Jangan pernah salah artikan rasa suka, sayang, dan cinta. Saya mengidolakan masih sebatas suka bukan sayang apalagi cinta. Seorang perempuan saja bisa mengidolakan perempuan, terlebih laki-laki. Kenapa laki-laki tidak bisa mengidolakan laki-laki (itu logikanya).

3. Kalau gitu, apa pendapatmu dengan orang-orang yang meniru gaya dari boyband mulai dari pakaian hingga aksesoris?

Korean style, right?

Nah, kalau Syifa sih sependapat-seiya-sekata *cielah, berasa apa gitu* sama celoteh Kak Rian, baik-baik saja selama semua itu berada di jalur yang sebenarnya, karena semua orang punya hak dan privasi masing-masing. Memangnya kenapa sih dengan tiruan-tiruan itu, toh yang memakai kan orang lain, kenapa kamu yang musti ribet? Yang pakainya aja nggak ribet, kok kamu mau-maunya sih sibuk meribetkan sesuatu yang padahal jelas-jelas dan memang sudah jelas penting-nggak-penting itu? *sinis banget sih Syif ._.*

4. Apa pandangan kamu tentang boyband Indonesia?

Salah satu contoh paling mudah lah ya :D
Kalau boleh jujur, Syifa sendiri sih belum terlalu begitu mengapresiasi dengan besar boyband-boyband Indonesia. Karena apa? Karena kalau boleh dikata and to be honest banyak diantaranya yang belum benar-benar memaknai boyband sebagai sebuah ‘seni’. Banyak di antara boyband (termasuk girlband juga ya) yang tidak mengedepankan sebuah arti kualitas dan kuantitas seni boyband/girlband itu sendiri *memang seninya seperti apa, aku juga nggak tahu, halah*, salah satu dari sekian banyaknya yang cukup mengecewakan adalah lipsync, hm... I know it’s so hard (very, maybe) to singing with dancing together, but... you know, this is the part when you very appreciate music, people, and the world, of course *belepotan nggak sih bahasa Inggrisnya?*

Nah, begitulah sedikit padahal banyak pendapatku yang juga menjadi ulasan dari blog post Kak Rian berjudul Pendapat Tentang Boyband ini. Tapi, walau bagaimanapun, aku sih lebih suka jadi penggemar drama Korea, drama itu lebih asyik, seru, dan menyenangkan (menurut aku ya). Ya walau belum begitu banyak K-drama yang aku tonton, mungkin bisa dihitung pakai jari, tapi aku menikmati waktu luangku untuk sekadar menatap layar laptop dan dengan santainya menyaksikan pemain-pemain drama itu melaksanakan tugasnya sebagai aktor dan aktris.

Anyway, walaupun begitu, aku juga cukup suka sih sama boyband Korea *teteup*, ralat, salah satu anggota boyband Korea. Who’s he? Yes, his name is Im Seu Ong, alias @2AMONG, salah satu personil terganteng, tertampan, terunyu, pokoknya ter-the bestest ever personil boyband 2AM. Aku suka dia karena perannya di drama Hotel King, hehe, eh tapi You’re All Surrounded itu drama komedi Lee Seunggi yang penuh action dan romance juga lho. Eh, kok malah jadi bahas drama ya? Haha, pokoknya aku sih saran aja ya, kalau seandainya Kak Rian belum menemukan lagi video atau lagu terbaru dari boyband idola, boleh lah sekali-kali mencoba K-drama-nya, dijamin kecanduan, hihi.

OMG, his smile, oh no, so breathaway~

Eh, mungkin cerita ini agak (bukan agak lagi, tapi memang) kepanjangan, bahkan bisa dikata ini semacam review postingan ya, tapi aku tahu Kak Rian pintar membedakan antara menuliskan ulang (ditambah ulasan sekaligus pendapat) dengan review blog. O iya, beberapa kalimat dan gambar aku kutip sedikit ya dari postingan aslinya, dengan beberapa perubahan kecil untuk mengoreksi akan kata dan kalimatnya, pesanku sih semoga Kak Rian nggak banyak typo ya dalam blog post-nya, hehe. Arraseo, Rian Oppa? Ne! Annyeonghamnida, bye~

http://rhyantd.wordpress.com/giveaway3thn/

by.asysyifaahs♥