Sunday, April 27, 2014

Saba Kota

Aku nggak akan buka blog-post kali ini dengan kalimat, "Hai, apa kabar? Lama nggak ngeblog, maafin ya, ada kesibukan!". Plis, aku terlalu bosan mengatakan demikian. Tapi emang 7 hari rentang jarak posting yang satu ini dengan postingan sebelumnya, mengecewakan. Rada-rada males gimana gitu...

Kemarin, tepatnya Jumat, 25 April 2014, aku bareng temen-temen angkatan kelas 10 pada jalan-jalan lho. Kemana? Ke Bandung ._. Rada aneh ya, orang Bandung coret jalan-jalannya ke Bandung, terlalu deket untuk sebuah perjalanan. Ya, namanya juga saba kota, alias jalan-jalan ke kota. Mengindikasikan banget kalau Cililin tuh kampoeng o_O

Aku berangkat pagi-pagi banget, Mamah yang sangat-amat-terobsesi jangan sampai telat, padahal berangkat dari sekolahnya jam 7. Tebak jam berapa aku datang ke sekolah? 05.45 .___. Manis banget, busnya aja baru satu, cuma Mang Ojak-lah yang nemenin setelah Mamah kemudian pergi lagi untuk pulang. Hish!! 

Ceritanya, aku sama temen-temen X-MIIA-4 ditempatkan di satu bus yang sama, harapan masing-masing kelas ya, karena kalau satu kelas tanpa dipisah dan tanpa ada kelas lain, bisa lebih bebas, leluasa, dan kekompakkan terjamin. Mau gaduh segaduh-gaduhnya juga, biasanya temen sekelas bisa ngerti, tapi kelas lain? Hmmm... Di bus 3, kelas X-MIIA-4 sebenarnya semuanya, kecuali 5 orang, karena mereka bayar pendaftaran di H-1 acara, alhasil ditempatkan di bus 7 barengan anak teater. Di bus 3 kita digabungnya sama sebagian dari X-MIIA-5, ya gitu deh. Janji awal untuk duduk bareng Hilda nggak terlaksana, karena dia milih duduk sama Monita & Firda. Tadinya sih kursi 2 bisa aku tempatin satu orang aja, cuma kasihan anak MIIA5 nggak dapat tempat, alhasil aku duduk bareng Mega, si ateng, alias anak tetangga.


Perjalanan dimulai, di bus aku cuma baca novel aja. Asli boring banget, mana temen sekursi nggak asik pula buat diajak ngobrol. Sederita itukah? Nggak juga, karena tetiba cek mention dan dapat pemberitahuan menang kuis dari @bentangpustaka, ihiiyy... lumayan dapat voucher buku 100K *lupakan*.


Tujuan pertama adalah Museum Sri Baduga, walaupun di Bandung, tapi ini pertama kalinya aku datang kesana. Hih, malu ya! Pas awal-awal langsung selfie-selfie, karena itu budayakanlah selfie! Terus karena di luarnya udah ada semacam replika prasasti, kita foto-fotoin, cuma-demi-LKS-yang-saat-itu-jadi-beban-tugas.


Juga foto barengan di depan museumnya, sayang aku nggak punya fotonya, mungkin di kamera Aldi. Setelah itu, kita digiring ke ruang audio-visual, nonton film dengan judul Kami Rela BANDOENG Mendjadi LAOETAN API. Kalau nggak salah pernah nonton di Trans TV, tapi emang film dokumenternya berlabel tv nasional itu sih.


Singkatnya, kita langsung ke ruang pameran. Demi ketenangan, aku, Lulu, Gita, sama Dinar—yang selalu berempat kemanapun pergi—naik dulu ke lantai 3, karena biasanya orang lain datang pertama kali ke lantai 1. Di lantai 3, kita punya strategi, aku sama Lulu kebagian tugas nulis tulisan apa aja yang bisa ditulis, semacam asal-muasal benda karena ini dijadikan sumber tugas. Sedangkan, Gita sama Dinar bagian yang foto-foto dokumentasi. Semacam perpaduan empat sekawan yang unik! Baru setelah selesai tugas, kita selfie bareng :D


Selesai menjelajah di lantai 3, kita turun ke lantai 2, nggak begitu penuh karena orang-orang masih di lantai 1, atau malah ada yang langsung ke lantai 3. Good idea! Di lantai 2 ini lebih banyak koleksi budaya-budaya Indonesia, contohnya busana pengantin dari beberapa daerah (Karawang, Sukapura, Cirebon, dll), terus replika rumah panggungsemacam rumah aku yang dulu, dapurnya masih tradisional, pun peralatannya—ditambah sama naskah-naskah babad dan kitab-kitab suci peninggalan orang-orang terdahulu.


Pada akhirnya, kita ke lantai 1, lebih luas karena jadi bagian utama dari museum ini. Kalau disini, hasil kebudayaan lebih mengarah ke hal-hal berbau Geografi dan peninggalan-peninggalan purbakala dan zaman Hindu-Buddha. Disini ada semacam gua—atau apalah, tapi nggak bisa sih disebut gua—selain foto di depannya, kita juga sempet masuk ke dalamnya, dan ngacir keluar takut ada apa-apa, semacam ditelan gua, atau ada yang narik dari belakang, atau malah jatuh ke lubang yang bisa dikatakan, tempayan kuburan. Hiiii...


Selesai, padahal pengen lebih lama lagi. Nggak asiknya karyawisata tuh gini, kita belum puas di satu tempat udah pergi aja lagi. Dan tujuan kedua, Museum Konperensi Asia-Afrika. Tapi berhubung hari itu Jumat, maka yang laki-laki shalat Jumat dulu di Masjid Agung, jaraknya juga nggak terlalu jauh, jalan kaki juga bisa sih. Nah, berhubung aku sama tiga orang lainnya juga berhalangan—entah kenapa bisa barengan gini—kita jalan-jalan dulu ke Plaza Parahyangan, samping Mesjid Agung, cukup lima langkah lah...


Niatnya mau ikutin Gita buat beli jam tangan buat adeknya, Dinda, eh malah melipir jalan-jalan aja, terus ke lantai 3, dan tebak apa yang terjadi, awalnya biasa aja lihat spanduk Bazaar Buku Murah, pasti buku-bukunya nonfiksi, nggak menarik lagi. Tapi Lulu sih yang ngajakkin kita masuk, dan nyatanya ada novel-novel yang udah lama diidamkan, kayak Unbelievable-nya Winna Efendi. Huh, harganya juga cuma 10.000-an, ada sih yang 5.000 juga. Aku kalap! Tadinya mau borong agak banyak, terlebih label penerbitnya GagasMedia sama Bukune, tapi mengingat nggak bawa uang banyak, alhasil harus puas dengan 4 buku saja.


Selesai belanja buku, dan mereka—Lulu, Gita, Dinar—beli kaset Korea, kita pulang lagi ke alun-alun, barengan nunggu di bus dan kemudian ke Museum KAA. Menunggu cukup lama karena untuk Jumat, Museum KAA baru buka jam 14.00. Dan yeay, setelah masuk lalu ke ruangan sidangnya, ada rasa membuncah di dada, ini pertama kalinya menginjakkan kaki di ruang sidangnya, suatu saat akan kembali kesana sebagai delegasi Indonesia dalam gelaran ASIAN-AFRICAN SUMMIT, doakan ya ;)


Di awal kita udah nempatin posisi duduk paling depan, tapi kemudian diusir karena katanya ada tamu, pasti bule-bule luar negeri. Bener aja! Intinya, setelah pembukaan itu kita ke 'museum'nya, dan langsung disambut dengan diorama Pak Soekarno yang lagi memimpin sidang KAA tahun 1955 lalu. Selfie with strangers nggak bisa dihindarkan, malah ada orang luar negeri—dari Malaysia kalau nggak salah—minta kita untuk foto bareng, Emak, Babeh, sama anaknya, anaknya perempuan, cantik pakai gaun selutut warna hitam, mungkin sebaya sama aku lah.

Selain foto bareng bola dunia, kemudian poster Nelson Mandela, bendera-bendera negara partisipan KAA, kita juga minta foto sama bule Thailand. Ini sih maunya si Gita, katanya mau foto bareng yang laki-lakinya aja, wajahnya ganteng, tinggi, putih, semampai lah—bukan semeter tak sampai—tapi si bapak—tapi nggak cocok dipanggil Bapak, Om mungkin—bilangnya sama istri dan anaknya, istrinya cantik, tapi pendiem u,u


Selesai mengelilinginya, kita langsung balik lagi ke bus. Dari situ, perjalanan dimulai kembali menuju Gedung Kesenian Rumentang Siang di Kosambi, ini kali kedua setelah sebelumnya datang pas SMP. Masih sama, cuma sekarang udah ada kursi penonton, itu aja. Disini kita mau nonton Teater Hiji, yang jadi perwakilan sekolah sekaligus kabupaten, membawakan penampilan dalam perlombaan dari Teater Sunda Kiwari. Yang kita tonton sih cuma satu, karena hari-hari sebelum dan sesudahnya sebenarnya ada partisipan lain, malah ada lho yang dari Berau, Kalimantan Timur. Wisssh!! 
Teater Hiji bawain lakon dengan judul Hak Peto—kurang mengerti di isi ceritanya—terpukau sama aksi Riza, teman sekelas, yang berubah peran jadi laki-laki. Terus Nanda, dia tetap cantik, apalagi jadi mahasiswa KKN. Eh..., ada Elmia juga, orang gila dengan nama Ucup Mulyana 'Gorbacep' tapi pinternya luar biasa. Terhibur lah dan membanggakan!


Selesai dari sana, selesai juga perjalanannya. Pas pulang agak memakan waktu cukup lama karena terjebak macet di fly over Pasopati, tenang, nggak ada tragedi bunuh-bunuhan kok, cuma anak MIIA4 ributnya nggak ketulungan. Udah itu aja, pulang-pulang ke rumah kejebak hujan, mati lampu pula, tapi seneng sih kata Mamah sore ada kirim paket, tiga buku inceran yang kemudian terkabul. Alhamdulillah :))

Udah ya ceritanya, ini kalau kepanjangan bisa jadi novel. Maaf kalau Asyifa nyerita nggak bisa pendek-pendek, nanggung. Makasih kalau udah baca, berkunjung juga ke blog asysyifaahs's book ya :D

Tuesday, April 15, 2014

Move On Atau Nggak?

Aku lagi bermasalah, menghadapi pergolakan batin yang teramat memilukan #halah. Jadi ceritanya..., akhir-akhir ini banyak mengalami masalah, sepele sih tapi bikin kesel juga kalau lama-kelamaan dipikirin. Bantu aku deh... kasih saran kek, kritik kek, atau uang kek :P

Kamu tahu kan kalau akhir-akhir ini, konten blog asysyifaahs lebih banyak dan cenderung membahas mengenai buku-bukuan, ada semacam review, reading challenge, dan meme juga. Nah, aku berpikir, ini sebenarnya blog pribadi apa blog buku sih (?) Tadinya, niat banget bikin blog ini berubah total jadi blog buku, tapi aku juga sering bikin blog ini semacam curhatan, ya sama lah kayak sekarang.

Sumber disini
Kalau terus-terusan gini, pastinya aku lebih prefer menjadi seorang blogger buku, ciyus. Sekarang-sekarang lumayan banyak dapat buntelan buku, dan mau nggak mau kecintaan sama buku jadi makin bertambah kan, dan itu artinya... ah syudahlah.

Terlebih, tawaran untuk masuk BBI alias Blogger Buku Indonesia makin terbuka lebar setelah aku punya banyak kenalan member BBI. Aku kan pernah cerita, tahun lalu diterima juga jadi membernya, cuma ya gitu... nggak bener-bener niat, jadinya keluar deh xP *timpuk gue, timpuk pake buku*.


Menurut kamu, haruskah aku pindah? Err... rasanya kejam banget ya kalau sampai pindah, maksudnya haruskah aku punya blog baru yang diisi konten yang seratus persen tentang buku? Aku udah nyiapin semuanya, mulai dari nama blognya, templatenya, terkecuali konsepnya dan headernya *berarti belum siap semua*.

Yaaah, aku janji deh, ntar kalau pindah bakal sering-sering update, dan porsinya juga harus seimbang antara blog pribadi dan blog buku. Semoga. Terus, isinya? Mengenai isi, aku bakal pindahin semua konten tentang buku (review, reading challenges, sampai meme) kesana, tapi tetep, postingan itu nggak akan dihapus dari sini. Kenangan banget soalnya u,u

Ayo dong, bantu aku memilih, takutnya malah jadi mubazir kalau udah pindah, eeehh akunya masih males-malesan. Dan doain juga sih semoga nggak gitu :P Dan aku tau Kak Ashima juga bakal ikut bersaran, kalau nggak, ya aku todong dia buat minta sarannya. Hahaha...

Menurutmu, haruskah aku punya blog buku? Kenapa?
Jawab di komentar ya :) Terimakasih...

Wednesday, April 9, 2014

Pilih Yang Mana?

9 April 2014, hari yang (katanya) jadi hari bersejarah bagi Indonesia, apalagi kalau bukan kemeriahan pesta demokrasi di negeri ini. Di hari yang warnanya hitam tapi dipaksa jadi merah ini, aku cuma pengen nulis. Pagi gini, masih sama kayak pagi-pagi sebelumnya, belum terlalu banyak kegiatan yang ‘beda’ padahal TPS harus udah buka jam 7.

Awalnya, tulisan ini mau di-publish per tanggal 7 April, tapi karena Problem loading page akhirnya malah bikin entri yang udah ditulis itu hilang dengan sendirinya. Yah, cukup taulah bagaimana kesia-siaan itu :D

Sumber disini
Mengenai pilihan, sudah punya pilihan yang terbaik? Mulai dari calon anggota DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DPR RI, sampai DPD? Hmm... Kesampingkanlah cerita itu, lagian aku belum punya hak pilih dan tau kamu bisa pilih calon yang terbaik. Ibaratnya, milih calon legislatif itu kayak milih pacar (atau mungkin pasangan seumur hidup), nggak ada sih yang sempurna, tapi pasti ada yang terbaik diantaranya. Masak sih diantara sekian banyaknya, bahkan hingga ratusan itu nggak ada yang baik satu pun? Jadi, pilih yang baik juga kalau mau dapat hasil pilihan yang terbaik, 5 tahun bersamanya itu bukan waktu yang singkat, lho.

Golput, kamu pernah mengalaminya? Ah, plis deh jangan. Aku sendiri sering menamakan golongan ini dengan golongan hitam, bukan lagi golongan putih. Kenapa? Karena ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan mereka jadi golput. Pertama, mereka nggak punya pendirian, iyalah lagian milih 1 aja masak nggak bisa? Kalaupun nggak calegnya, ya minimal nama partainya deh. Kedua, mereka kurang teliti. Sebenarnya nyoblos pake paku tuh nggak susah, tapi sayangnya ada aja yang salah coblos, keluar dari garis lah, dicoblos dua kali lah, padahal nyoblos tuh nggak sesulit ngitung Aljabar, beneran!

Sumber disini
Terlalu baik kalau dikasih nama golongan putih, ya udah golongan hitam aja. Mereka jahat karena nggak mau beraspirasi untuk Indonesia. Katanya, pengen Indonesia ini maju, tapi usaha untuk ikut di dalamnya nggak mau. Ya sama aja bohong!

Bagaimanapun, kalau dilihat Indonesia sekarang memang sangat mengecewakan. Tapi, mau terus-terusan gini aja? Hidup monoton dan selalu dengar berita tentang itu-itu aja, korupsi, perkelahian, pembunuhan. Kalau mau berubah, ya kitanya harus ikut berubah, berubah ke hal yang positif lah.

Sumber disini
Setidaknya, dengan ikut berpartisipasi memilih calon anggota legislatif juga ikut berkontribusi besar terhadap perkembangan Indonesia agar lebih maju. Ayo Memilih Untuk Indonesia. Datang, Pilih, Coblos, Celup! #IndonesiaSATU *kemudian jadi tim sukses KOMPAS*



Jadi, mau pilih yang mana?

Saturday, April 5, 2014

Hello April


Hari berlalu, dan Sarah masih menunggu. April dan janji itu hanyalah bualan bocah ingusan semata yang selalu diyakininya.

“Awan itu kayak kapas, empuk. Atau aromanis, manis deh, tapi kayaknya manisan kamu. Aku suka kamu,” ungkapnya.

Walaupun sebatas cinta monyet, hal itu membuat Sarah meninggalkan separuh hati sampai ia mengambilnya pada seseorang di bulan April.

Kepada Iqbal, ia menceritakannya.

“Sudahlah, buat apa menunggunya? Dia nggak akan datang lagi,” ungkap Iqbal.

Sarah diam. Memandang awan Cumulunimbus yang menggumpal di langit.

“Awan itu kayak kapas, empuk. Atau kayak aromanis, manis, tapi kayaknya manisan kamu. Selamat ulang tahun,” ungkap Iqbal.

Sarah memandanginya, apakah Iqbal?

***


(PS. 100 kata tidak termasuk judul dan keterangan ini. Diperuntukkan kepada tiga teman yang berulangtahun berturut-turut, Iqbal, Sarah, dan Aldi. Dan kamu...)

http://diirumahkata.blogspot.com/2014/03/birthday-giveaway.html

Friday, April 4, 2014

Petuah Asyifa


Tanggal 4, bulan 4, tahun 2004, eh keceletot, 2014 maksudnya :P Bulan ini kayaknya harus lebih diperbanyak posting mengenai keseharian ya daripada mengenai buku dan berkaitannya, jangan sampai kayak Maret yang penuh sama cerita-cerita buku. Duuh... x_x
                       
Apa kabar? Padahal tau kalau sebenarnya semuanya masih baik-baik aja, klise banget ya pembukaannya kek gini. Kali ini nggak akan curhat, hanya berbagi cerita, itu jelas beda ya! Tenang, nggak akan curhat seputar hati kok, hanya berbagi cerita tentang dua hari kemarin yang teramat sangat... MELELAHKAN.

Jadi ceritanya, dua hari kemarin itu aku ikut perlombaan, dalam dua mata lomba yang berbeda sih, makanya capek. Sejak Selasa kemarin, udah dispen dari kelas, dan artinya... aku nggak masuk selama tiga hari ini. Nggak kebayang gimana kangennya penghuni X-MIIA-4 sama aku. Hahahaha...

Salah satu manusia yang lagi kangen :3
Selasa, bimbingan penuh. Dari semenjak jam pertama KBM sampai selesai nongkrong di perpustakaan, melatih diri mengerjakan soal OSN Biologi. Dan tau kan kalau Selasa itu tanggal 1 April. Yap, Ibu nyuruh memahami semua materi Biologi pasti karena April Mop. #akutaulhoBu

Rabu, hari yang ditunggu-tunggu setelah 2 bulan terakhir ini. Akhirnya, 2 April jadi sejarah dimana OSN Biologi hari kedua digelar. Tempatnya sendiri ada di SMAN 1 Padalarang, dan untuk menempuh perjalanan kesana cukup melelahkan juga sih, soalnya waktunya lama dan macet di jalan. Tapi nggak terlalu membosankan juga karena malah stand-up bareng A Giri dan kawan-kawan.

Pas tiba disana, pertama kalinya sih datang ke SMAN SAVAL. Dan, yuck, bangunannya luas banget, tapi tetep kecean sekolah sendiri lah. Mwahaha, bangga dengan almamater dong! Tapi capek juga sih karena disana terlalu banyak tangga buat naik-turunnya :D

Singkat cerita aku udah di ruangannya, ruangan B.2 bareng Teh Ica sama Arista. Apa yang dirasa? Saat itu biasa aja, beneran, nggak ada rasa cemas menunggu detik-detik menuju olimpiade. Daaaan... saat bel berbunyi, soal dibagikan, membaca soalnya sekilas, RASANYA INGIN PINGSAN. Maaaakkk.... aku nggak ngerti itu soal siapa yang bikin. Bahkan, setelah aku baca dengan serius, nggak ada satu soal pun yang sama atau seenggaknya mirip dengan contoh soal yang udah dipelajari sebelumnya. Dan, pssstt, jangan bilang-bilang kalau sebagian besar aku menjawabnya pakai alternatif, tebak-tebakan. Hahaha... *ketawa jahat*

Selesai hal mematikan itu, rasanya lapar, apalagi ruangan B.2 deket sama kantin. Alhasil beli batagor. Aku nggak ngerti kenapa makannya cepet banget, entah karena lagi kelaparan atau porsi 5000 yang terlalu sedikit :’(

Setelah kawan-kawan di bidang Ekonomi dan Komputer selesai juga, kita langsung pulang deh ke sekolah. Dan ternyata saat pulang masih banyak siswa yang belum selesai KBM. Hihi... Aku juga nggak pulang langsung ke rumah sih, soalnya ada diskusi buat lomba debat di hari besoknya.

Kamis, lomba debat bahasa Inggris. Setelah kemarin berdiskusi mengenai debat melalui perdebatan, akhirnya aku ditunjuk buat mewakili sekolah dalam lomba debat bahasa Inggris. Tau nggak rasanya persiapan yang sangat kurang itu? Jadi gini, ceritanya kan awalnya aku ditunjuk buat ikut debat Indonesia, tapi karena posisinya diganti sama Teh Siti, alhasil aku digeser ke debat Inggris. Uwooo... padahal Inggris-ku nggak lancar-lancar banget, tapi kenapa semua ini terjadi. Tapi nggak papa sih, lagian sebelumnya aku udah merekomendasikan Syifa Fathia buat ikut juga, jadi sengsaranya bisa bagi-bagi.
Yang lagi bicara di depan, ganteng lho...
Di perjalanan, aku sama Syifa berasa sama diri sendiri ngoceh tiada henti. Iyalah, kami sama-sama nggak mau ikut debat ini. Katanya sih, syaratnya harus kelas 10, tapi yang dikasih bimbingan malah kelas 11. Huftt...

Tiba lagi di SMAN SAVAL untuk yang kedua kalinya dalam hari yang berturut-turut, kali ini jauh lebih ramai karena sekaligus OSN hari terakhir juga. Dan kalau yang FLS2N sih di sekolah tetangga, SMAN 2 Padalarang.

Singkat cerita, teknis debat bahasa Inggris beda sama debat bahasa Indonesia. Jadi tuh, kita disuruh menulis karangan tentang motions yang diberikan. Dari 7 motions yang ada, aku pilih motion Indonesia should suspend relationship with Australia. Soalnya temanya menarik, jadi inget sama Kang Guru Indonesia.
Cuma nambahin 1 paragraf aja :D
Karena saat itu kita dibebaskan untuk akses berbagai informasi, boleh browsing, boleh lihat catatan, dan sebagainya, aku pilih website Australian Government – Department of Foreign Affairs and Trade, di salah satu artikel yang ada, aku langsung copas aja. Oke, ini sangat teramat keji, tapi saat itu aku pengen banget kalah.
What?
Beneran! Iya, beneran. Ini pertama kalinya aku ikut lomba pengen kalah. Kenapa? Karena kalau lolos di tahap ini, dan lanjut ke tahap selanjutnya untuk presentasi hasil karangan kita. Dan..., aku nggak siap untuk itu. Iya, cuma karena nggak siap aja aku pengen kalah. Serius. Aku sama Syifa berjanji bikin esai-nya dijelek-jelekkin, biar hasilnya sesuai praduga kita, nggak lolos. Terdengar gila memang, masa iya ada orang ikut lomba tapi pengen kalah. Hahah... Tapi kita berjanji, ini keinginan kalah kita yang pertama dan terakhir. Plis, jangan panggil ini pesimis, tapi mundur dengan secara terhormat. Ayyyeee!!

Setelah menempuh waktu 30 menit itu, kita keluar dengan puasnya. Nggak puas total sih karena harus nungguin hasilnya, cemas juga kalau ternyata esai yang kita bikin, yang dibuat dengan niat kalah, malah lolos. Tapi... setelah luntang-lantung alay selama 3 jam nungguin, akhirnya kita dapat pengumumannya, dan Allah memang Maha Baik, kita nggak lolos di tahap ini. Thanks God :)

Di sisi lain, ada yang debat bahasa Indonesia, ada Lulu, Teh Siti, sama A Fiqri. Dan yaa... mereka menjalaninya dengan serius, niat untuk lolos ke tahap selanjutnya. Dan doakan saja biar doa mereka dikabulin. Heheh...

Well, itu aja untuk hari ini. Dua hari kemarin dan pulang ke rumah tepar, malah ngerasa lapar karena nggak jajan. Hihi... Petuahnya, berniat kalah dalam perlombaan itu boleh kok, demi mundur dengan cara yang terhormat dan nggak malu-maluin. Bye~